Menggapai Kehidupan Sukses dan Bahagia: Jalan Pintas Menjadi Pribadi yang Bertakwa

Ustadz DR. Adi Hidayat di di Masjid At-Taqwa, Malang
Ustadz DR. Adi Hidayat di di Masjid At-Taqwa, Malang

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh tantangan, setiap muslim mendambakan jalan yang pasti menuju kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Jawaban atas dambaan ini diurai tuntas oleh Ustadz Adi Hidayat dalam kajian yang bertajuk “Menjadi Pribadi yang Bertakwa”. Kajian inspiratif ini dilaksanakan pada Jum’at 24 Oktober  di Masjid At-Taqwa, Malang, sebagai bagian dari rangkaian acara Rakornas PP Muhammadiyah. Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa takwa bukan sekadar konsep, melainkan kurikulum hidup yang menjamin solusi dan kemuliaan dunia akhirat.

Nama masjid “At-Taqwa” sendiri menjadi pengantar bagi UAH untuk membahas urgensi sifat ini. Menurut beliau, penamaan masjid dengan sifat (seperti Al-Ikhlas atau At-Taqwa) dipilih oleh ulama agar setiap orang yang beribadah di dalamnya terinspirasi dan berupaya agar sifat tersebut melekat kuat pada dirinya. Inti dari seluruh Al-Qur’an, sebagaimana sering beliau sebutkan, adalah meningkatkan kualitas takwa, yang harus dijawab tuntas oleh setiap muslim: bagaimana cara mencapainya dan apa ukurannya?

Ustadz Adi Hidayat kemudian merujuk kepada perintah Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102, “Ittaqullāha ḥaqqa tuqātih” (Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa). Frasa “ḥaqqa tuqātih” menandakan bahwa ketakwaan tidak boleh dilakukan setengah-setengah, melainkan harus serius, konsisten, dan sungguh-sungguh. Allah tidak menawarkan opsi untuk hidup tanpa masalah, melainkan menawarkan takwa sebagai modal untuk menghadapinya.

Manfaat pertama dan paling mendasar dari takwa adalah jaminan solusi atas segala persoalan hidup. Merujuk pada Surah At-Talaq ayat 2-3, UAH menjelaskan bahwa siapa pun yang bertakwa, Allah akan jadikan jalan keluar (Makhraja) baginya. Solusi ini bersifat pre-emptive; Allah mendahulukan solusi sebelum masalah itu datang, sehingga masalah terasa ringan, bahkan bagi orang yang tidak pernah meminta.

Jaminan kedua adalah rezeki yang datang dari sisi yang tidak terduga (min ḥaitsu lā yaḥtasib). UAH mencontohkan kisah Sayidah Maryam, yang sudah mendapatkan makanan (rezeki) dari Allah di mihrabnya sebelum Nabi Zakaria membawakannya. Ini menunjukkan bahwa investasi takwa orang tua akan dibalas dengan perhatian dan penjagaan penuh dari Allah kepada keturunannya.

Lebih lanjut, takwa memiliki korelasi langsung dengan kemampuan intelektual. Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 282, “Wattaqullāha wa yu’allimukumullāh” (Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkanmu ilmu), beliau menyampaikan bahwa takwa adalah akselerator ilmu. Ia meningkatkan daya ingat, fokus, dan pemahaman—sebuah kunci utama bagi para pelajar dan profesional.

Di bidang karir dan bisnis, takwa adalah penjamin kesuksesan dan kebahagiaan (Al-Falah). UAH memberikan contoh nyata dari sejarah para sahabat, di mana Abdurrahman bin Auf yang berdagang dengan modal takwa berhasil mencapai kekayaan yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa bisnis syariah yang didasari takwa tidak pernah merugi, melainkan selalu berlipat ganda keuntungan.

Lalu, bagaimana cara serius bertakwa? UAH merinci dua pilar utama dari QS Al-Baqarah ayat 3. Pilar pertama adalah konsistensi iman (Yukminūna), sebuah kata kerja yang menuntut upaya terus-menerus. Iman harus dilatih agar cahayanya membimbing seluruh anggota tubuh, mulai dari mata (ghaḍḍul baṣhar) hingga lisan (falyaqul khayran aw liyasmuṭ).

Pilar kedua adalah menegakkan salat (Wa yuqīmūnaṣ-ṣalāh). Kata As-Shalāh dalam ayat ini berbentuk jamak tak berbilang, yang mengisyaratkan bahwa takwa sejati dicapai dengan menambah amalan salat di luar yang fardu—mulai dari salat Rawatib, Dhuha, hingga puncaknya Qiyamulail.

Puncak dari upaya ini adalah Tahajud (QS. Al-Isra: 79). Amalan ini menjanjikan empat keutamaan: ditempatkan di karir terbaik (Maqāmam Maḥmūdā), cara kerja yang dibimbing Allah (Mudkhala Ṣidqin), kemudahan solusi atas masalah (Mukhraja Ṣidqin), dan penjagaan total dari Allah (Sulṭānan Naṣīrā). Hal ini terbukti ketika Nabi Muhammad saw. keluar dari kepungan musuh berkat ketenangan setelah tahajud.

Sebagai penutup, Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa takwa harus dimulai dari kesempurnaan ritual. Kesempurnaan wudu adalah syarat awal kekhusyukan dan sarana tobat yang menggugurkan maksiat. Untuk mengukur kadar takwa harian, Ustadz Adi Hidayat memberikan standar sederhana: respon terhadap azan. Jika seseorang sudah bangun sebelum azan berkumandang (untuk salat Tahajud atau warming up), maka kadar imannya sedang naik. Sebaliknya, jika baru bangun setelah azan selesai, iman sedang berada di titik standar atau menurun.

Maka, mari kita mulai melatih diri untuk menjadi pribadi yang bertakwa. Ustadz Adi Hidayat mengajak jamaah untuk saling mendoakan dan memulai dari satu amalan sunah yang dikerjakan secara konsisten. Sebab, janji Allah jelas: “Ula-ika `alā hudam mir Rabbihim wa ulā-ika humul mufliḥūn” (Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung/sukses). Langkah pertama selalu dimulai dari upaya kita sendiri.

Sumber: Tabligh Akbar Bersama Ustadz DR. Adi Hidayat Lc., MA “Menjadi Pribadi yang Bertakwa” disiarkan di Channel Youtube Adi Hidayat Channel

E-Buletin