KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan, setiap Muslim senantiasa membutuhkan pedoman yang kokoh untuk mencapai derajat kebaikan tertinggi di sisi Allah SWT. Pedoman utama itu tidak lain adalah Al-Qur’an, yang dibahas tuntas dalam sebuah kajian mendalam tentang Surat Luqman. Kajian yang bertajuk “Tafsir Muyassar: QS Luqman 1-11 (Kepastian Janji Allah)” ini diselenggarakan pada hari Selasa, 14 Oktober 2025, bertempat di Masjid Diponegoro Surabaya, dengan Ustadz Marsono Adnan yang menyampaikan pemahaman komprehensif mengenai ayat-ayat awal surah ini.
Pembahasan dimulai dari ayat pertama, Alif Lam Mim. Huruf-huruf tunggal di awal surah ini (huruf muqatta’ah) memiliki dua makna utama: pertama, sebagai tantangan bagi siapa pun yang meragukan Al-Qur’an untuk membuat yang serupa, dan kedua, sebagai penanda adanya berita sangat penting yang akan disampaikan oleh Allah. Berita penting tersebut lantas ditegaskan pada ayat berikutnya, Tilka Ayatul Kitabil Hakim, yang berarti bahwa ayat-ayat Al-Qur’an ini adalah kitab yang tertulis dan penuh dengan hikmah. Kitab ini, jelas Penceramah, adalah firman Allah yang berfungsi sebagai penghalang dari segala bentuk kezaliman dan bahaya.
Hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut dijamin dapat memberikan manfaat universal bagi umat manusia, khususnya mereka yang beriman. Hal ini diperjelas dalam ayat ketiga, yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah Hudan warahmatan lil muhsinin, yakni petunjuk (huda) dan sekaligus rahmat dari Allah bagi orang-orang yang berbuat baik (muhsinin). Dengan kata lain, petunjuk dan rahmat ilahi ini akan terasa dampaknya hanya jika diterima dan diterapkan oleh seorang muhsin.
Lalu, siapakah sosok muhsin yang dimaksudkan? Berdasarkan hadis Jibril yang masyhur, ihsan (kebaikannya seorang muhsin) didefinisikan secara sempurna: “Kalian mengabdi kepada Allah seolah-olah kalian melihat-Nya. Apabila kalian tidak (sanggup) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kalian.” Definisi ini menempatkan kesadaran ilahiah sebagai pondasi utama, dimana seorang hamba beribadah dan beraktivitas seakan-akan selalu berada di hadapan Sang Pencipta.
Dalam hierarki kebaikan, derajat muhsin menempati puncak tertinggi. Ustadz Penceramah menjelaskan bahwa tingkatan ini melampaui muslim (baru sekadar tunduk), mukmin (telah percaya), dan muttaqin (taat). Seorang muhsin adalah individu yang kesadarannya terhadap pengawasan Allah sangat tinggi, sehingga segala bentuk ibadah dan perbuatannya senantiasa didasari oleh ketulusan dan ketakutan kepada-Nya.
Ayat keempat Surah Luqman kemudian menjabarkan bukti konkret dari keihsanan tersebut. Ciri pertama dari muhsinin adalah senantiasa menegakkan shalat (alladzina yuqimunash sholata). Kata yuqimu (menegakkan) ditekankan, bukan sekadar yakmalu (mengerjakan), karena shalat yang benar harus tegak dan berbekas. Hakikat shalat adalah dzikir atau mengingat Allah; jika setelah shalat seorang hamba kembali lupa dan lalai, maka shalatnya dianggap tidak tegak.
Penceramah mengingatkan bahwa kelalaian dalam shalat membawa ancaman serius (wa’ilul lil mushollin). Shalat yang tidak tegak, yaitu yang tidak mampu memberikan manfaat bagi diri dan masyarakat, diibaratkan tidak ada bedanya dengan orang yang tidak shalat sama sekali. Shalat yang sejati harus mampu mengendalikan diri (tanha ‘anil fahsya’i wal munkar), mencegah seseorang dari segala perbuatan keji dan munkar karena adanya kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah.
Selain menegakkan shalat, dua ciri penting lain dari muhsinin adalah menunaikan zakat dan memiliki keyakinan mutlak terhadap hari akhir (wahum bil akhirati hum yuqinun). Keseimbangan antara ibadah vertikal (shalat) dan ibadah horizontal (zakat), yang ditopang oleh keyakinan pada kehidupan abadi, menjadi penentu kesempurnaan seorang muhsin.
Melangkah pada bahasan kepastian janji Allah, Penceramah menyentuh isu takdir dan musibah. Seringkali, manusia menyalahkan takdir atas segala bencana. Padahal, Allah sendiri telah berfirman bahwa munculnya segala kerusakan di lautan maupun di daratan itu akibat dari tangan manusia (fasadufil barri wal bahri bima kasabat aidinnas – QS. Ar-Rum: 41). Bencana, termasuk robohnya sebuah bangunan, selalu memiliki sebab yang bermula dari kelalaian atau kesalahan manusia.
Ditegaskan pula bahwa kebaikan apa pun yang menimpa manusia datangnya dari Allah, sementara keburukan dan kejelekan yang menimpa merupakan akibat dari diri sendiri (Ma ashobaka min sayyi’atin fa min nafsik – QS An-Nisa: 79). Ini karena Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna dan menetapkan ukuran yang pasti (mikdar). Namun, kepada manusia, Allah memberikan keistimewaan berupa hak pilih (fujuroha wa taqwaha) untuk memilih taat atau ingkar, baik atau buruk.
Oleh karena itu, jika musibah terjadi, seorang hamba harus ikhlas menerima takdir Allah sebagai keputusan terbaik-Nya, namun di saat yang sama harus menyadari bahwa musibah tersebut adalah konsekuensi dari kelemahan atau kelalaian yang dilakukan. Penceramah mengutip firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du: 11). Ayat ini menjadi pengingat bahwa perubahan dan perbaikan harus dimulai dari introspeksi diri.
Ustadz Marsono Adnan menyimpulkan bahwa kunci untuk menjalani hidup yang damai dan bermanfaat terletak pada kesadaran menjadi seorang muhsin. Dengan menegakkan shalat dan zakat atas dasar keyakinan bahwa Allah selalu melihat, seorang hamba akan terhindar dari perbuatan yang merusak. Kepastian janji Allah, baik berupa rahmat maupun konsekuensi dari perbuatan, adalah suatu keniscayaan yang harus dijadikan pedoman hidup.
Sumber : Kajian Masjid Diponegoro – Tafsir Muyassar oleh Ustadz Marsono Adnan di Channel Youtube Masjid Dipenogoro Surabaya