Mengenali Sinyal Hati: Saat Batin Tak Lagi Berfungsi sebagai Pengabdi

K.H. Ahmad Zulhilmi Ghazali Al-Hafidz
K.H. Ahmad Zulhilmi Ghazali Al-Hafidz

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, menjaga keistiqamahan ibadah merupakan tantangan yang besar di tengah hiruk-pikuk duniawi. Seringkali kita merasa lelah secara fisik, namun jarang menyadari bahwa batin kita sebenarnya sedang mengirimkan sinyal kehausan akan makna pengabdian yang sesungguhnya. Melalui mimbar Jumat yang penuh berkah, sebuah pesan penting disampaikan untuk menggugah kesadaran kita semua mengenai esensi kesehatan batin dalam menjalani kehidupan.

Kajian mendalam mengenai kesehatan hati ini disampaikan oleh K.H. Ahmad Zulhilmi Ghazali Al-Hafidz dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Raudhatul Musyawarah Kemayoran, Surabaya, pada tanggal 16 Januari 2026. Bertepatan dengan peringatan 27 Rajab 1447 Hijriah, suasana masjid tampak khidmat dengan jemaah yang memenuhi ruang utama untuk menyimak pesan-pesan Ilahi. Sang khatib menekankan bahwa setiap langkah kaki manusia di muka bumi ini seharusnya senantiasa bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.

Pesan utama yang ditekankan dalam khutbah ini adalah mengenai peningkatan kualitas ketakwaan sebagai fondasi utama hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Takwa bukan sekadar menjalankan rutinitas formalitas agama, melainkan upaya untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah. Dengan hubungan yang erat, setiap gerak-gerik dan napas seorang hamba akan bertransformasi menjadi pengabdian yang tulus, sesuai dengan perintah untuk menyembah-Nya dengan lurus tanpa dicampuri kepentingan lain.

Khatib juga mengingatkan jemaah untuk senantiasa bersyukur atas anugerah fisik yang sempurna yang telah diberikan Tuhan. Manusia diciptakan dalam bentuk rupa yang paling bagus atau fi ahsani taqwim, dilengkapi dengan panca indra yang berfungsi sebagai alat untuk menjalani kehidupan. Namun, keindahan fisik ini akan kehilangan maknanya jika manusia tidak menyadari tugas utamanya sebagai pengabdi dan keluar dari jalur fitrah yang telah ditetapkan.

Analogi yang menarik disampaikan dalam khutbah ini, di mana kesehatan hati disamakan dengan kesehatan anggota tubuh lainnya. Jika kaki yang lumpuh dianggap sakit karena tidak bisa menjalankan fungsinya untuk berjalan, maka hati pun demikian. Hati yang tidak mampu mengarahkan pemiliknya untuk beribadah dan mengingat Allah adalah hati yang sedang mengalami gangguan kesehatan secara spiritual yang serius.

Kesadaran akan sakitnya hati seringkali tertutup oleh silau dunia, sehingga manusia merasa baik-baik saja meski batinnya mulai menjauh dari Tuhan. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan intensif terhadap kondisi batin kita masing-masing. Sebagaimana kita mencari dokter spesialis saat fisik terluka, kita juga harus mampu mendiagnosis apakah hati kita masih berfungsi sebagai kompas pengabdian atau sudah mulai kehilangan arah.

Tanda utama dari hati yang normal dan sehat adalah adanya mahabbah ilallah atau perasaan cinta yang mendalam kepada Allah SWT. Cinta ini bersifat absolut dan tidak tergoyahkan oleh pasang surutnya kondisi ekonomi maupun status sosial. Seseorang yang memiliki hati sehat akan tetap mencintai Tuhannya, baik dalam keadaan bergelimpangan harta maupun saat diuji dengan kemiskinan dan kesulitan hidup.

Lebih jauh, khatib menjelaskan bahwa cinta kepada Allah tidak boleh terkalahkan oleh cinta kepada makhluk, termasuk orang tua, pasangan, maupun anak-anak. Hal ini merujuk pada peringatan dalam Al-Qur’an bahwa jika urusan duniawi dan keluarga lebih dicintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka manusia harus bersiap menghadapi konsekuensi atau azab-Nya. Keseimbangan cinta inilah yang menjadi tolok ukur kesehatan batin seorang mukmin.

Dalam realitanya, banyak penyakit hati yang sering menghinggapi manusia modern tanpa disadari. Salah satunya adalah hubbul mal atau cinta harta yang berlebihan, yang menjadi akar dari perilaku buruk seperti kikir, korupsi, hingga tindakan kriminal lainnya. Ketika harta sudah menjadi tujuan utama di atas segalanya, maka fungsi hati sebagai pengabdi telah benar-benar mengalami kelumpuhan.

Selain harta, penyakit lain yang tak kalah berbahaya adalah hubbul jah atau gila jabatan dan pangkat. Penyakit ini seringkali mengubah seseorang menjadi pribadi yang sombong, zalim, dan bertindak sewenang-wenang terhadap sesama. Tak ketinggalan, godaan syahwat atau hubbul marah juga disebut sebagai penyakit yang dapat merusak tatanan sosial melalui berbagai tindakan pelecehan dan kemaksiatan yang merugikan.

Ironisnya, manusia cenderung lebih mudah melihat keburukan dan penyakit hati orang lain dibandingkan melihat borok di dalam dirinya sendiri. Padahal, hidayah terbesar yang bisa didapatkan seseorang adalah ketika Allah memperlihatkan kekurangan dan penyakit hatinya sendiri. Dengan mengetahui jenis penyakit yang diderita, barulah proses penyembuhan dan pembersihan hati bisa dimulai secara efektif.

Sebagai penutup, khatib mengajak kita semua untuk terus berdoa agar diberikan kemampuan dalam menyembuhkan penyakit-penyakit batin tersebut. Harapannya, tidak hanya kita, tetapi juga anak cucu dan seluruh umat Islam dapat terhindar dari kelalaian hati. Semoga setiap aktivitas yang kita lakukan di Masjid Raudhatul Musyawarah maupun di luar sana, senantiasa dilandasi oleh hati yang sehat dan penuh cinta hanya kepada-Nya.

Sumber: Khutbah Jumat yang dilaksanakan di Masjid Raudhatul Musyawarah Kemayoran, Surabaya pada tanggal 16 Januari 2026 dengan Khotib K.H. Ahmad Zulhilmi Ghazali Al-Hafidz

E-Buletin