Mengenal Perbedaan Al-Bukhl dan Asy-Syuh: Dua Sifat Kikir yang Membinasakan Manusia

Habib Hadi bin Alwy Al Kaff
Habib Hadi bin Alwy Al Kaff

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang  – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali membuat kita terjebak dalam pengejaran materi tanpa batas, menjaga kesehatan batin menjadi hal yang sangat krusial. Sering kali kita merasa lelah secara fisik dan mental, namun lupa bahwa akar masalahnya mungkin terletak pada kondisi hati yang sedang terjangkit penyakit spiritual. Memahami hakikat dunia adalah langkah awal untuk meraih ketenangan sejati.

Kajian rutin Sabtu Bada Shubuh yang diselenggarakan di Masjid Agung Jami Malang pada Sabtu 3 Januari 2026 menghadirkan nHabib Hadi bin Alwy Al Kaff. Dalam ceramahnya yang disiarkan secara langsung, beliau membedah secara mendalam mengenai sifat-sifat yang dapat membinasakan manusia, terutama terkait keterikatan hati pada kehidupan duniawi yang fana.

Habib Hadi mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah mengenai penyakit hati yang paling membinasakan, yaitu hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan. Penyakit ini bukan sekadar menikmati fasilitas dunia, melainkan adanya keinginan yang sangat kuat dan obsesif untuk memiliki kenikmatan duniawi secara berlebihan sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah SWT.

Selain cinta dunia, beliau juga menyoroti bahaya dari pengejaran kedudukan (hubbul jah) dan harta kekayaan. Keinginan untuk diakui, memiliki jabatan tinggi, dan menumpuk harta sering kali menjadi motivasi utama yang merusak niat tulus seseorang dalam beribadah. Jika hati sudah terpaku pada hal-hal ini, maka orientasi hidup seseorang akan bergeser sepenuhnya ke arah materi.

Dalam kajian tersebut, dijelaskan pula perbedaan antara sifat kikir (al-bukhl) dan sifat yang lebih parah yaitu asy-syuh. Jika orang yang bakhil hanya pelit terhadap harta miliknya sendiri, maka orang yang terjangkit asy-syuh tidak hanya pelit, tetapi juga selalu merasa tamak dan menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain. Sifat ini disebut sebagai salah satu akhlak paling tercela.

Habib Hadi menekankan bahwa barang siapa yang hanya mengutamakan kehidupan dunia dan kenikmatannya, maka Allah akan memenuhi keinginan mereka di dunia, namun di akhirat mereka tidak akan mendapatkan apa pun kecuali api neraka. Segala amal baik yang dilakukan selama hidup akan menjadi sia-sia dan terhapus karena niat yang salah dan orientasi yang hanya terbatas pada duniawi.

Beliau memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh mengenai dunia berdasarkan Al-Qur’an, yaitu seperti air hujan yang turun ke bumi dan menumbuhkan tanaman yang indah. Namun, keindahan itu hanya sementara karena tanaman tersebut pada akhirnya akan mengering, menjadi hancur, dan diterbangkan oleh angin. Begitulah hakikat dunia; nampak indah di awal namun pasti akan sirna.

Lebih lanjut, Habib Hadi menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, dan perhiasan yang menipu. Banyak manusia yang menghabiskan waktunya hanya untuk saling membanggakan kekayaan, jabatan, dan keturunan. Padahal, semua itu hanyalah fasilitas sementara yang diberikan Allah sebagai ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.

Menariknya, beliau mengutip sebuah hadits yang menyatakan betapa rendahnya nilai dunia di mata Allah. Jika saja dunia memiliki nilai seberat satu sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir. Hal ini menunjukkan bahwa segala kemewahan dunia yang kita lihat saat ini sebenarnya tidak memiliki harga yang berarti dibandingkan kenikmatan akhirat.

Habib Hadi juga mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat transit atau ujian. Beliau menganalogikan manusia sebagai seorang pengendara atau musafir yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang abadi. Sebagai musafir, kita hanya memerlukan bekal secukupnya untuk sampai ke tujuan, bukan malah membangun istana di tengah perjalanan yang akan ditinggalkan.

Orang yang cerdik, menurut beliau, adalah mereka yang selalu melakukan muhasabah atau mawas diri terhadap kondisi hatinya. Mereka adalah orang-orang yang sibuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian karena sadar bahwa ajal bisa datang kapan saja. Orientasi hidup mereka adalah bagaimana mendapatkan rida Allah dan keselamatan di hari pembalasan kelak.

Sebagai penutup, Habib Hadi menjelaskan dampak psikologis dari sifat cinta dunia. Jika seseorang bangun di pagi hari dan pikirannya hanya dipenuhi urusan duniawi, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan membuat hatinya selalu diliputi ketakutan akan kemelaratan. Beliau mengajak jamaah untuk menghiasi hati dengan sifat mulia dan selalu memohon perlindungan dari penyakit batin yang merusak.

Sumber: Kajian Rutin Sabtu Ba’da Shubuh Masjid Agung Jami Malang  yang disampaikan oleh Habib Hadi bin Alwy Al Kaff

E-Buletin