Mengenal Penyakit Jantung Koroner: Ancaman Nyata yang Kerap Mengintai Tanpa Gejala

dr. Achmad Surya Dharma, Sp.JP, FIHA ahli spesialis jantung dan pembuluh darah
dr. Achmad Surya Dharma, Sp.JP, FIHA ahli spesialis jantung dan pembuluh darah

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kesehatan merupakan aset paling berharga yang sering kali baru disadari maknanya ketika tubuh mulai terkulai lemas akibat penyakit. Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, pola makan yang tidak seimbang dan tingkat stres yang tinggi kerap kali menjadi bom waktu yang siap merusak sistem kardiovaskular kita tanpa disadari.

Pada hari Minggu, 31 Mei 2026, bertempat di Masjid Jendral Sudirman (MJS), telah diselenggarakan Kajian Kesehatan Ahad Shubuh yang menghadirkan narasumber ahli spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Achmad Surya Dharma, Sp.JP, FIHA. Dalam pemaparannya yang bertajuk “Penyakit Jantung Koroner: Bahaya atau Tidak?”, beliau mengupas tuntas secara mendalam mengenai seluk-beluk salah satu penyakit paling mematikan di dunia tersebut. Kehadiran beliau memberikan pencerahan penting bagi jamaah dan masyarakat luas mengenai urgensi menjaga organ vital yang terus berdetak tanpa henti demi kelangsungan hidup manusia.

dr. Surya mengawali penjelasannya dengan memaparkan data global maupun nasional yang menunjukkan betapa masifnya dampak penyakit kardiovaskular di era modern ini. Berdasarkan data hingga tahun 2024, penyakit jantung iskemia atau yang lebih dikenal sebagai penyakit jantung koroner (PJK) menempati urutan teratas sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, berdampingan erat dengan penyakit stroke. Di Indonesia sendiri, angka fatalitas akibat gangguan pembuluh darah ini terus merangkak naik, menjadikannya sebagai ancaman nyata yang tidak boleh lagi dipandang sebelah mata oleh lapisan masyarakat mana pun.

Secara anatomis, jantung manusia disuplai oleh tiga pembuluh darah utama yang dikenal sebagai arteri koroner, yang bertugas memberikan pasokan nutrisi serta oksigen ke seluruh otot jantung. Penyakit jantung koroner terjadi ketika pipa pembuluh darah yang semula mulus dan bersih tersebut mulai ditumbuhi oleh kerak-kerak lemak atau plak kolesterol. Seiring berjalannya waktu, akumulasi plak ini akan mengakibatkan dinding saluran arteri menyempit, sehingga mengganggu kelancaran aliran darah murni yang sangat dibutuhkan oleh otot-otot jantung untuk memompa secara optimal.

Lebih lanjut, dr. Surya menjelaskan bahwa tingkat keparahan penyakit ini sangat ditentukan oleh dua kondisi utama, yakni penyempitan (stenosis) atau penyumbatan total (oklusi). Jika pembuluh darah hanya mengalami penyempitan parsial, pasokan darah mungkin masih mencukupi kebutuhan tubuh saat kondisi santai, namun akan mulai menimbulkan keluhan ketika beban kerja jantung meningkat. Sementara itu, kondisi yang jauh lebih berbahaya terjadi ketika plak lemak tersebut pecah dan memicu terbentuknya gumpalan darah mendadak yang menyumbat total aliran arteri, yang dalam istilah medis disebut infark miokard.

Satu hal yang paling diwaspadai dari penyakit jantung koroner adalah sifatnya yang kerap kali muncul tanpa gejala (asimtomatik) pada stadium awal. Pada tingkat penyempitan ringan berkisar antara 10 hingga 30 persen, tubuh manusia umumnya belum merasakan keluhan fisik apa pun, sehingga banyak penderita yang merasa diri mereka sepenuhnya sehat walafiat. Kondisi klinis baru akan mulai mengemuka berupa rasa tidak nyaman atau nyeri dada ketika penyempitan pembuluh darah telah mencapai angka krusial di atas 50 hingga 70 persen.

Karakteristik rasa nyeri pada dada akibat gangguan jantung memiliki spesifikasi yang sangat khas dan berbeda jauh dengan nyeri dada biasa akibat masuk angin atau gangguan lambung. Pasien penderita PJK umumnya mendeskripsikan sensasi tersebut bukan sebagai rasa tertusuk-tusuk jarum, melainkan sensasi dada yang ampek atau seperti tertindih beban yang sangat berat. Rasa nyeri tertekan ini biasanya berpusat di dada sebelah kiri atau di belakang tulang dada, dan memiliki kecenderungan kuat untuk menjalar ke lengan kiri, leher, rahang bawah, hingga menembus ke bagian punggung.

Ketika penyumbatan total terjadi secara mendadak, kondisi inilah yang dalam istilah awam kerap disebut sebagai serangan jantung atau “angin duduk” yang sering terjadi saat seseorang sedang beristirahat. Serangan akut ini biasanya ditandai dengan intensitas nyeri dada hebat yang berlangsung lebih dari lima belas menit dan tidak kunjung mereda meskipun penderita telah beristirahat. Kondisi darurat kardiovaskular tersebut umumnya turut disertai dengan gejala penyerta yang drastis, seperti sesak napas yang berat, tubuh memucat, serta keluarnya keringat dingin dalam jumlah banyak.

Dalam mengidentifikasi risiko, dr. Surya membagi faktor penyebab penyakit jantung koroner ke dalam dua kelompok besar, yakni faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat dikendalikan. Faktor yang mutlak tidak dapat dimodifikasi meliputi faktor genetika atau riwayat keluarga, proses penuaan, serta jenis kelamin, di mana kaum pria secara statistik memiliki risiko serangan lebih awal. Kaum perempuan pada dasarnya memiliki hormon estrogen yang berfungsi alami sebagai pelindung pembuluh darah, namun perlindungan ini akan hilang sepenuhnya begitu mereka memasuki fase menopause.

Di sisi lain, terdapat deretan faktor risiko eksternal yang sepenuhnya berada di bawah kendali manusia melalui penerapan gaya hidup sehat sehari-hari. Kebiasaan merokok menjadi salah satu pemicu utama karena zat kimia berbahaya di dalamnya dapat merusak dinding arteri dan membuat kolesterol menjadi sangat mudah menempel membentuk kerak pembuluh darah. Selain itu, kondisi medis lain seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol jahat (LDL) yang melonjak, serta penyakit kencing manis (diabetes melitus) turut berkontribusi besar dalam mempercepat kerusakan sistem pembuluh darah pembawa oksigen tersebut.

Bagi masyarakat yang telah terdiagnosis menderita penyakit jantung koroner, langkah penanganan medis yang cepat dan tepat menjadi kunci utama dalam mempertahankan kualitas hidup. Tata laksana pengobatan medis meliputi konsumsi obat-obatan pengencer darah, pengontrol tekanan darah, serta obat penurun kadar kolesterol yang wajib dikonsumsi secara disiplin seumur hidup guna mencegah sumbatan berulang. Pada kasus penyempitan yang sudah tergolong berat, dokter spesialis akan merekomendasikan tindakan intervensi berupa pemasangan ring (stent) jantung atau bahkan operasi pembedahan bypass jika sumbatan telah menyebar di banyak titik arteri.

Dalam sesi interaktif yang disambut antusias oleh para jamaah, dr. Surya juga meluruskan sebuah mitos kuliner yang berkembang di masyarakat terkait konsumsi daging. Beliau memaparkan fakta ilmiah bahwa daging kambing murni tanpa gajih sebenarnya memiliki kandungan kolesterol yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi yang berlemak. Namun demikian, masyarakat tetap diimbau untuk membatasi konsumsi bagian jeroan karena mengandung kadar lemak jenuh dan asam urat yang tinggi, serta disarankan memperbanyak konsumsi makanan sehat seperti alpukat, sayur-sayuran, dan ikan laut segar.

Sebagai penutup dari rangkaian materi kajian, dr. Surya kembali menegaskan pentingnya tindakan preventif yang konsisten melalui rumus pengelolaan gaya hidup yang seimbang. Mengatur pola makan rendah garam dan rendah gula, menghindari rokok, melakukan aktivitas fisik secara rutin, serta mengelola stres dengan baik merupakan modal utama dalam menjaga kesehatan pembuluh darah. Mengingat mahalnya biaya pengobatan kuratif, kesadaran untuk melakukan medical check-up secara berkala sejak dini menjadi investasi kesehatan yang tak ternilai harganya bagi masa depan kita.

Sumber: Kajian Kesehatan Ahad Shubuh di Masjid Jendral Sudirman WPS bersama dr. Achmad Surya Dharma, Sp.JP, FIHA pada Minggu, 31 Mei 2026

E-Buletin