Mengenal Katarak Lebih Dekat: Gejala, Pencegahan, dan Solusi Modern untuk Menjaga Kualitas Penglihatan

dr. Paramita Putri, Sp.M,
dr. Paramita Putri, Sp.M,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjaga kesehatan mata merupakan pilar penting dalam mewujudkan kualitas hidup yang prima di tengah masyarakat, khususnya bagi umat yang ingin senantiasa optimal dalam beribadah dan beraktivitas sehari-hari. Guna meningkatkan kesadaran publik terhadap ancaman gangguan penglihatan, Masjid Ash-Shoobiriin yang berlokasi di Rungkut, Surabaya, bekerja sama dengan Klinik Mata Tritya sukses menggelar Kajian Kesehatan Ahad Subuh pada tanggal 14 Juni 2026, dengan menghadirkan narasumber ahli dr. Paramita Putri, Sp.M, yang mengupas tuntas tema mengenai gejala, pencegahan, serta penanganan katarak secara komprehensif.

Dalam pemaparan awalnya, dr. Paramita menjelaskan bahwa mata sering kali diibaratkan sebagai jendela dunia yang menangkap keindahan lingkungan sekitar, namun fungsinya dapat terganggu secara perlahan seiring berjalannya usia. Penyakit katarak itu sendiri merupakan suatu kondisi patologis yang ditandai dengan munculnya kekeruhan pada lensa alami di dalam mata manusia. Ketika lensa yang semula jernih berubah menjadi keruh, berkas cahaya yang masuk ke dalam bola mata akan terhalang dan tidak dapat terfokus dengan baik pada retina atau jaringan saraf mata.

Dampak dari gangguan ini tidak dapat diremehkan, mengingat katarak hingga detik ini masih memegang predikat sebagai salah satu penyebab utama kebutaan tertinggi di Indonesia. Sifat penurunan fungsi penglihatan ini umumnya berjalan merayap dan bertahap, sehingga banyak penderita yang tidak menyadari bahwa kemampuan visual mereka telah berkurang drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, mengenali setiap manifestasi klinis dan gejala awal menjadi langkah krusial agar penanganan medis dapat segera diberikan sebelum terjadi komplikasi yang lebih berat.

Narasumber membeberkan beberapa gejala khas yang patut diwaspadai oleh masyarakat, di antaranya adalah perubahan ukuran kacamata yang terjadi secara mendadak dan terlalu sering dalam rentang waktu yang sangat singkat. Selain itu, penderita katarak biasanya akan merasakan sensasi silau yang sangat mengganggu, terutama saat melihat pendar lampu kendaraan di malam hari atau ketika terpapar sinar matahari yang terik di siang hari. Gejala visual lainnya mencakup perubahan persepsi warna di mana objek di sekitar cenderung terlihat memudar, kusam, atau tampak menguning.

Tidak jarang pula pasien mengeluhkan adanya pandangan ganda atau fenomena melihat satu objek menjadi berbayang seolah-olah ada dua benda yang bertumpuk. Namun, keluhan yang paling jamak membawa pasien datang ke klinik mata adalah pandangan buram yang khas, di mana mereka merasa seolah-olah sedang melihat dunia di balik tirai asap tebal atau kabut putih yang pekat. Penurunan ketajaman visual ini tentu saja lambat laun akan mengisolasi penderita dari aktivitas sosial dan menurunkan produktivitas mereka secara signifikan.

Terkait dengan faktor pemicu, kajian tersebut menegaskan bahwa katarak pada dasarnya bersifat multifaktorial, artinya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal saja melainkan kombinasi dari berbagai elemen internal dan eksternal. Faktor internal utama yang tidak dapat dimodifikasi atau dihindari oleh manusia adalah proses degenerasi akibat penuaan serta faktor genetik bawaan. Seiring bertambahnya usia, struktur protein di dalam lensa mata akan mengalami perubahan alami yang memicu terbentuknya kekeruhan, sebuah proses biologis yang pasti akan dialami oleh setiap orang secara alami.

Kendati penuaan adalah kepastian, dr. Paramita menekankan bahwa terdapat banyak faktor risiko eksternal yang sebenarnya dapat dikontrol dan dimodifikasi melalui penerapan gaya hidup sehat. Kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol diketahui dapat mempercepat kerusakan oksidatif pada sel-sel lensa mata. Lebih lanjut, penggunaan obat-obatan golongan steroid dalam jangka panjang tanpa pengawasan ketat dari dokter—yang mirisnya sering kali terselubung di dalam produk jamu pegal linu ilegal di pasaran—menjadi salah satu pemicu utama katarak di usia muda.

Selain faktor obat-obatan, kondisi sistemik tubuh seperti penyakit diabetes melitus (kencing manis) dan hipertensi (darah tinggi) yang tidak terkontrol dengan baik juga berkontribusi besar dalam mempercepat penebalan katarak. Pasien diabetes dengan kadar gula darah yang kronis di atas 200 mg/dL memiliki risiko berkali-campat lebih cepat mengalami kekeruhan lensa akibat gangguan metabolisme glukosa di dalam mata. Oleh sebab itu, pengelolaan pola makan, olahraga teratur, serta kepatuhan mengonsumsi obat dari dokter spesialis penyakit dalam menjadi benteng pertahanan yang sangat vital.

Dalam forum yang penuh antusiasme tersebut, ditegaskan pula sebuah fakta medis penting bahwa hingga saat ini belum ada satu pun obat tetes mata, ramuan herbal, maupun suplemen komersial yang terbukti secara ilmiah mampu menghilangkan katarak. Penggunaan obat tetes mata yang selama ini beredar di masyarakat medis hanya berfungsi untuk memperlambat laju penebalan katarak, bukan untuk menyembuhkannya secara total. Satu-satunya tatalaksana definitif dan paling efektif untuk memulihkan penglihatan pasien katarak adalah melalui tindakan pembedahan atau operasi.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik operasi katarak telah berevolusi menjadi sangat canggih melalui metode modern yang disebut fakoemulsifikasi (phacoemulsification). Teknik ini memanfaatkan gelombang ultrasound frekuensi tinggi untuk menghancurkan lensa yang keruh menjadi pecahan mikro, kemudian menyedotnya keluar dan menggantinya dengan lensa tanam buatan (IOL) yang jernih. Prosedur ini hanya memakan waktu sekitar 15 hingga 30 menit, memiliki tingkat nyeri yang sangat minim, serta dilakukan tanpa memerlukan jahitan sehingga masa pemulihan pasien menjadi jauh lebih singkat.

Meskipun operasi fakoemulsifikasi tergolong aman dan cepat, dr. Paramita mengingatkan bahwa kunci utama keberhasilan pemulihan penglihatan justru terletak pada kedisiplinan pasien dalam menjaga perawatan pasca-operasi selama dua hingga empat minggu pertama. Selama fase krusial ini, mata yang habis dioperasi sama sekali tidak boleh terkena air secara langsung, terbebas dari paparan debu dengan kacamata pelindung, serta dilarang keras untuk dikucek. Pasien juga diwajibkan untuk membatasi aktivitas fisik, tidak mengejan terlalu kuat, tidak mengangkat beban di atas lima kilogram, dan tidak batuk dengan keras.

Bagi jemaah Muslim yang baru saja menjalani operasi, dr. Paramita memberikan panduan khusus agar ibadah shalat dilakukan dalam posisi duduk terlebih dahulu guna menghindari gerakan ruku dan sujud yang ekstrem, yang berpotensi meningkatkan tekanan intraokular dan menggeser posisi lensa tanam. Sebagai penutup, kajian kesehatan ini diakhiri dengan pesan edukatif mengenai pentingnya melakukan skrining mata secara berkala bagi masyarakat yang telah menginjak usia 60 tahun ke atas. Dengan deteksi dini dan penanganan berbasis teknologi modern, kebutaan akibat katarak dapat dicegah sehingga setiap individu dapat menikmati masa tuanya dengan penglihatan yang terang dan penuh berkah.

Sumber: Kajian Kesehatan Ahad Subuh Masjid Ash-Shoobiriin dengan tema “Badan Sehat, Ibadah Menjadi Nikmat” Bersama dr. Paramita Putri, Sp.M”  yang dilaksanakan pada Minggu, 14 Juni 2026

E-Buletin