Mengenal ‘Al-Istihfaf’, Penyakit Meremehkan Dosa yang Sering Menyerang Ahli Ibadah

Ustadz Try Marifan Najib, M.E.,
Ustadz Try Marifan Najib, M.E.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus modernisasi dan paparan media sosial yang tanpa batas, tantangan terbesar seorang Muslim hari ini bukan lagi sekadar menjaga fisik dari keletihan duniawi, melainkan menjaga hati agar tidak mati. Hati yang bersih merupakan motor penggerak bagi anggota tubuh untuk gemar beribadah, sementara hati yang terabaikan akan menjadi sarang bagi penyakit spiritual yang merusak kehidupan. Kesadaran mendalam inilah yang mendasari pentingnya ilmu tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa sebagai benteng pertahanan keimanan setiap hamba.

Untuk mengupas tuntas urgensi penyucian jiwa tersebut, Masjid Arroyan menggelar kajian subuh berjamaah yang sarat akan makna pada Ahad, 7 Juni 2026. Menghadirkan narasumber Ustadz Try Marifan Najib, M.E., kajian yang bertajuk “Pengantar Tazkiyatun Nafs: Langkah Awal Menuju Hati yang Selamat” ini berhasil memetakan secara gamblang bagaimana keterkaitan antara tindakan sehari-hari manusia dengan kondisi spiritualitas mereka. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bagi jamaah yang hadir secara langsung maupun yang menyimak lewat ruang digital untuk senantiasa mengevaluasi kualitas batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Mengawali penyampaiannya, Ustadz Try Marifan mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kembali tiga nikmat utama yang sering kali luput dari rasa syukur, yaitu nikmat keimanan, kesehatan, dan kesempatan. Beliau menekankan bahwa fluktuasi iman seseorang memiliki dampak instan pada aktivitas sosial dan ibadahnya; jika iman sedang menurun, maka ringan rasanya kaki ini untuk berpaling dari masjid dan enggan untuk berinfak. Sementara itu, nikmat kesehatan dan kesempatan merupakan dua instrumen ujian yang jika tidak dimaksimalkan untuk ketaatan, justru akan berbalik menjadi bumerang yang melahirkan kelalaian dan penyesalan mendalam di kemudian hari.

Suasana kajian semakin khidmat ketika narasumber mengaitkan momentum waktu beralangsungnya kajian dengan bulan Zulhijah, yang termasuk dalam empat bulan mulia (Asyhurul Hurum). Mengutip pemikiran ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ustadz Try Marifan mengingatkan adanya hukum keadilan Allah yang berlipat ganda pada bulan-bulan istimewa ini. Setiap kemaksiatan, baik yang dilakukan oleh lisan, pandangan, maupun getaran batin, akan dijatuhi hukuman yang jauh lebih berat (asyaddu ‘iqoban). Namun di sisi lain, Allah Yang Maha Pengasih juga menyediakan ganjaran pahala yang mewah dan berlipat ganda bagi setiap hamba yang memaksimalkan ketaatan di waktu-waktu haram tersebut.

Lebih dalam membedah kitab Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, tulisan ini menyoroti premis utama bahwa setiap dosa dan maksiat dipastikan membawa madarat atau kerugian nyata bagi pelakunya. Ustadz Try Marifan mengibaratkan dampak dosa terhadap batin layaknya racun yang menyusup ke dalam tubuh fisik manusia. Jika racun tersebut dibiarkan tanpa adanya upaya pengobatan, maka efek merusaknya akan semakin melebar, memicu komplikasi penyakit batin lainnya, dan membuat sang hamba semakin terbiasa hidup dalam lingkaran kemaksiatan tanpa rasa bersalah.

Efek destruktif dari dosa ini tidak hanya berhenti pada rusaknya hubungan vertikal dengan sang Pencipta, melainkan juga merembet pada rusaknya hubungan horizontal antar-manusia (hablum minannas). Berbagai problem keduniawian, mulai dari rumitnya urusan pekerjaan di kantor, seretnya rezeki, hingga terjadinya perselisihan dalam rumah tangga, sering kali berakar dari kemaksiatan yang kita lakukan pada hari itu. Ketika seseorang sengaja berbuat dosa, Allah akan mencabut kedamaian dari hidupnya, sehingga tidak jarang perkataan baik seorang ayah tidak lagi didengar oleh anaknya, dan keharmonisan suami-istri berganti menjadi benturan ego.

Secara teologis, fenomena ini diperkuat dengan rujukan Al-Qur’an Surah Al-Mutaffifin ayat 14 mengenai konsep Raan atau karat hitam yang menutupi hati akibat tumpukan dosa. Karat spiritual inilah yang menjadi pembatas dan dinding tebal yang menghalangi masuknya hidayah dan nasihat-nasihat kebaikan. Hati yang telah berkarat akan merasakan beban yang sangat berat bahkan hanya untuk sekadar melangkah melaksanakan shalat tepat waktu, karena orientasi hidupnya telah bergeser sepenuhnya pada pemuasan nafsu duniawi semata.

Kajian ini juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya penyakit Al-Istihfaf, yaitu kecenderungan meremehkan dosa-dosa kecil yang justru sering menyerang orang-orang yang sudah berada di lingkungan yang baik. Seseorang yang rutin menghadiri majelis taklim terkadang terjebak dalam rasa aman palsu, menganggap remeh kesalahan kecil atau tindakan mengambil hak orang lain dengan asumsi dosa tersebut akan otomatis terhapus oleh shalat subuh keesokan harinya. Mengutip Fudhail bin Iyadh, beliau menegaskan bahwa sikap menggampangkan inilah yang membuat sebuah dosa kecil justru tumbuh menjadi sangat besar dan murka di hadapan Allah.

Sebaliknya, karakter ideal yang harus dibangun oleh seorang Muslim adalah Al-Haibah, yaitu rasa segan, takzim, dan takut yang mendalam kepada keagungan Allah SWT. Karakter yang bersumber dari pilar Ihsan ini membuat seorang hamba selalu merasa diawasi oleh Allah di mana pun ia berada. Ketika secara tidak sengaja tergelincir melakukan kesalahan, hatinya akan langsung merasa bergejolak, tidak tenang, dan mendorong dirinya untuk segera mengambil tindakan preventif berupa taubat nasuha tanpa menunda-nunda waktu.

Dampak buruk lain dari hati yang kotor karena dosa adalah terhalangnya seseorang dari keberkahan rezeki dan ilmu pengetahuan. Berdasarkan penegasan baginda Rasulullah SAW, kemaksiatan memiliki kekuatan untuk membendung aliran rezeki yang seharusnya turun kepada suatu keluarga atau negeri. Hal ini berjalan selaras dengan terangnya cahaya ilmu yang tidak akan sudi bersemayam di dalam hati yang kelam, karena ilmu pada hakikatnya adalah anugerah suci dari Allah yang menuntut wadah yang bersih untuk dapat dipahami dan diamalkan dengan benar.

Sebagai penutup ulasan ilmiahnya, Ustadz Try Marifan melantunkan bait syair legendaris dari Imam Syafi’i saat mengadukan penurunan daya hafalannya kepada sang guru, Imam Waki’. Nasihat abadi sang guru kala itu sangat jelas: tinggalkan maksiat, karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan pernah diberikan kepada para pelaku maksiat. Kisah klasik ini menjadi cermin retak bagi manusia modern untuk menyadari bahwa kegagalan kita dalam memahami agama atau menyelesaikan persoalan hidup bisa jadi merupakan akibat dari dosa masa lalu yang belum sempat kita mintakan ampunan.

Sumber: Kajian subuh di Masjid Arroyan yang disampaikan oleh Ustadz Try Marifan Najib, M.E., bertajuk “Pengantar Tazkiyatun Nafs: Langkah Awal Menuju Hati yang Selamat”, yang dilaksanaka pada Minggu 7 Juni 2026.

E-Buletin