KabarMasijd.id, Solo – Kehidupan manusia sering kali terjebak dalam pengejaran materi dan status yang tiada habisnya, hingga terkadang melupakan hakikat keberadaannya di dunia. Fenomena mengejar popularitas dan kekayaan sering kali dianggap sebagai jalan pintas menuju kebahagiaan, namun kenyataannya banyak yang justru merasa hampa di tengah pencapaian tersebut. Melalui pemahaman spiritual yang mendalam, kita diajak untuk melihat kembali bahwa ketenangan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada bagaimana kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Kajian mendalam mengenai persoalan ini disampaikan oleh Ustadz Anshori Syukri dalam sesi Kajian Pagi yang membahas Kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 12 Januari 2026, bertempat di Masjid Jami’ Assagaf. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya menata hati dalam menghadapi dinamika dunia yang sering kali menipu persepsi manusia mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan.
Ustadz Anshori menjelaskan bahwa setiap manusia pasti akan menerima dua sisi kehidupan, yaitu nikmat dan ujian. Beliau menekankan bahwa nikmat harus disyukuri, sementara ujian tidak seharusnya dipandang sebagai beban yang merapuhkan. Sebaliknya, setiap ujian yang diberikan oleh Allah SWT memiliki tujuan utama untuk menguatkan jiwa dan menyadarkan manusia akan posisi mereka yang sesungguhnya sebagai hamba yang lemah.
Kesadaran akan status sebagai hamba ini menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan. Tanpa kesadaran ini, manusia cenderung merasa sombong saat berada di atas dan mudah berputus asa saat berada di bawah. Dengan menyadari bahwa diri ini tidak memiliki daya dan upaya selain atas izin-Nya, seseorang akan lebih mudah untuk berserah diri dan menerima setiap ketetapan dengan hati yang lapang.
Lebih lanjut, kajian tersebut menyoroti bahwa Allah SWT adalah pemegang kendali penuh atas segala perasaan manusia. Allah bisa saja mengubah sesuatu yang secara lahiriah terlihat menyenangkan menjadi sumber kesusahan, begitu pun sebaliknya. Harta, anak, dan jabatan hanyalah perantara, namun rasa senang atau susah yang muncul darinya adalah mutlak berada dalam genggaman dan pengaturan Allah SWT.
Contoh nyata yang dipaparkan adalah mengenai keberkahan harta. Harta yang jumlahnya sedikit namun diberkahi oleh Allah bisa memberikan kecukupan dan ketenangan bagi sebuah keluarga. Sebaliknya, harta yang berlimpah tetapi digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai, seperti terjerumus ke dalam gaya hidup negatif, justru akan mendatangkan kegelisahan dan kehancuran bagi pemiliknya.
Oleh karena itu, fokus utama seorang mukmin seharusnya bukanlah pada kuantitas dunia yang dikumpulkan, melainkan pada nilai ibadah dari setiap langkah yang diambil. Jika seseorang telah sampai pada kesimpulan bahwa segala sesuatu bergantung pada Allah, maka ia tidak akan lagi merasa terobsesi untuk mengejar jabatan atau kekayaan dengan cara-cara yang dilarang, seperti menipu atau korupsi.
Ketenaran atau fenomena “viral” yang saat ini banyak dikejar juga dibahas dalam kajian ini. Ustaz Anshori mengingatkan bahwa popularitas bisa menjadi pedang bermata dua; ia bisa memudahkan banyak urusan, namun juga bisa menjadi beban yang sangat berat bagi mental dan spiritual seseorang. Tanpa landasan iman yang kuat, kejayaan duniawi hanya akan menjadi jebakan yang melelahkan.
Perubahan sikap ini hanya bisa terjadi jika seseorang mulai mengukur segala tindakannya dengan standar agama. Apakah pekerjaan yang dijalani halal? Apakah interaksi sosial yang dilakukan membawa kebaikan di akhirat nanti? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi dasar dalam mengambil keputusan, sehingga setiap aktivitas hidup bermuara pada pencarian rida Allah SWT.
Namun, perjalanan menuju kesadaran spiritual ini bukanlah hal yang mudah karena banyaknya godaan dunia. Di sinilah peran penting para ulama akhirat sebagai pembimbing jalan. Manusia sering kali memiliki pandangan yang bias terhadap dirinya sendiri; sangat mudah melihat kesalahan orang lain, namun sangat sulit untuk mengakui kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri sendiri.
Keberadaan pembimbing spiritual membantu kita untuk tetap konsisten atau istikamah dalam belajar dan beribadah. Dengan bimbingan yang tepat, seorang hamba dapat mencapai tingkatan ilmul yakin, di mana ia tidak lagi terpengaruh oleh kondisi luar yang berubah-ubah. Baginya, mendapatkan atau kehilangan sesuatu di dunia adalah hal yang sama karena fokusnya sudah terpatri pada sang pemilik segalanya.
Sebagai penutup, kajian ini mengajak kita untuk terus memohon taufik dan hidayah agar hati tetap teguh dalam kebenaran. Ketenangan yang hakiki akan hadir saat kita berhenti menggantungkan harapan pada makhluk dan dunia, serta mulai sepenuhnya bersandar pada Allah SWT. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk tetap istikamah dalam menuntut ilmu dan menjalankan nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: Kajian Pagi Kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali di Masjid Jami’ Assagaf oleh Ustadz Anshori Syukri