Menemukan Kedekatan Tanpa Jarak: Rahasia Tersembunyi Ayat Doa di Tengah Syariat Puasa

Ustadz Muhammad Jamal Bajri
Ustadz Muhammad Jamal Bajri

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum emas untuk memperkuat koneksi spiritual dengan Sang Pencipta. Di tengah deru aktivitas ibadah yang padat, seringkali kita terjebak pada rutinitas tanpa menghayati esensi terdalam dari setiap amalan yang dikerjakan. Salah satu dimensi spiritual yang sangat ditekankan namun terkadang terlewatkan adalah kekuatan doa sebagai inti dari ibadah puasa itu sendiri.

Kajian mendalam mengenai rahasia doa di bulan suci ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Jamal Bajri dalam sesi Kultum Tarawih 1447 H malam ke-12. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 1 Maret 2026 ini diselenggarakan di Masjid Al-Irsyad dan disiarkan secara luas melalui kanal media resmi masjid tersebut. Dalam tausiyahnya, narasumber membedah kaitan erat antara syariat puasa dengan respons langsung Allah terhadap permohonan hamba-Nya.

Mengawali kajiannya, Ustadz Muhammad Jamal mengingatkan jamaah untuk senantiasa membasahi lidah dengan kalimat syukur. Beliau mengutip Surah Ibrahim ayat 7 yang menegaskan bahwa syukur adalah kunci pembuka pintu tambahan nikmat, sementara kekufuran hanya akan mengundang azab yang pedih. Rasa syukur inilah yang menjadi fondasi utama bagi seorang mukmin dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan yang penuh berkah.

Ramadan digambarkan sebagai waktu di mana pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dibuka selebar-lebarnya oleh Allah SWT. Sebaliknya, pintu-pintu neraka ditutup serapat mungkin, dan setan-setan beserta bala tentaranya dibelenggu agar manusia dapat fokus beribadah. Kondisi spiritual yang kondusif ini sengaja diciptakan agar setiap hamba memiliki kesempatan maksimal untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Namun, di antara sekian banyak ibadah yang ditekankan seperti puasa, Shalat tarawih, dan sedekah, ada satu ibadah yang secara khusus harus diperhatikan, yaitu berdoa. Ustadz Muhammad Jamal menyoroti sebuah keunikan struktur dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah. Beliau menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang puasa tersebar dari ayat 183 hingga 187, namun terselip sebuah ayat yang berbeda di tengah-tengahnya.

Ayat yang dimaksud adalah ayat 186 yang berbicara khusus tentang doa, yang memutus rangkaian penjelasan teknis mengenai puasa di ayat 185 dan 187. Penempatan ayat doa di tengah-tengah ayat puasa ini bukan tanpa alasan. Hal ini memberikan isyarat kuat bahwa puasa dan doa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan; bahwa orang yang berpuasa memiliki kedudukan istimewa agar doanya dikabulkan.

Lebih lanjut, narasumber menjelaskan Asbabun Nuzul atau sebab turunnya ayat tersebut yang bermula dari pertanyaan seorang badui kepada Nabi Muhammad SAW. Badui tersebut bertanya apakah Tuhan itu dekat sehingga manusia cukup berbisik saat berdoa, ataukah Tuhan itu jauh sehingga manusia harus berteriak-teriak. Pertanyaan sederhana ini menjadi pintu pembuka bagi penjelasan mengenai sifat kedekatan Allah kepada hamba-Nya.

Jawaban Allah dalam ayat tersebut sangatlah personal dan hangat: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka sesungguhnya Aku itu dekat”. Ustadz Muhammad Jamal menekankan bahwa Allah secara langsung menyatakan diri-Nya dekat tanpa perantara. Allah menjanjikan akan menjawab setiap doa bagi mereka yang memohon dengan penuh keimanan dan harapan.

Menariknya, dalam kajian ini diungkapkan perbedaan mencolok antara cara Allah menjawab pertanyaan tentang doa dengan pertanyaan tentang hukum lainnya. Biasanya, jika Nabi ditanya tentang sesuatu seperti hilal, khamar, atau haid, Allah memulai jawaban-Nya dengan perintah “Qul” atau “Katakanlah wahai Muhammad”. Hal ini menunjukkan adanya proses penyampaian informasi melalui lisan sang Rasul.

Namun, khusus pada ayat tentang doa, Allah tidak menggunakan kata “Qul”. Allah langsung berfirman “Fainni Qorib” (Maka sesungguhnya Aku dekat). Ketiadaan kata “Katakanlah” ini menunjukkan bahwa dalam urusan doa, Allah tidak ingin ada sekat atau perantara antara diri-Nya dengan hamba yang memohon. Ini adalah bentuk penghormatan dan kasih sayang Allah yang luar biasa bagi mereka yang mau berdoa.

Kedekatan ini seharusnya menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk memperbanyak permohonan selama bulan Ramadan. Tidak ada permintaan yang terlalu besar bagi Allah, dan tidak ada rintangan yang tidak bisa dilewati jika Allah sudah berkehendak mengabulkan doa hamba-Nya. Ibadah doa adalah pengakuan jujur atas kelemahan manusia dan kemahakuasaan Sang Pencipta dalam mengatur segala urusan kehidupan.

Sebagai penutup, Ustadz Muhammad Jamil mengajak kita semua untuk tidak menyia-nyiakan momen di mana setan terbelenggu dan pintu langit terbuka luas. Mari jadikan setiap sujud dan waktu berbuka sebagai sarana untuk mengetuk pintu langit dengan doa-doa terbaik. Semoga dengan memahami kedekatan Allah, kita menjadi pribadi yang lebih optimis dan senantiasa menggantungkan segala harapan hanya kepada-Nya.

Sumber: Kultum Tarawih 1447 H malam ke-12  Masjid Al Irsyad Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Jamal Bajri

E-Buletin