Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia yang kian bising seringkali membuat kita lupa untuk sejenak berhenti dan melihat ke dalam diri serta alam semesta. Padahal, dalam keheningan berpikir itulah terletak kunci keimanan yang mendalam. Melalui perenungan yang tepat, seorang hamba tidak hanya mengenal Sang Pencipta, tetapi juga menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan materi.
Kajian kitab Nashaihul Ibad edisi Senin 16 Februari 2026 yang berlangsung di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menghadirkan Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz. Dalam tausiyahnya yang mendalam namun menyejukkan, beliau mengupas tuntas bab mengenai tafakur atau seni merenung dalam Islam. Beliau menekankan bahwa aktivitas otak dan hati ini merupakan ibadah yang sering terlupakan oleh banyak orang.
Ustadz Ahmad Muzakki mengawali kajian dengan mengutip sebuah pesan kuat dari para ulama mengenai keutamaan tafakur. Beliau menyebutkan bahwa bertafakur atau merenung selama satu jam saja nilainya bisa lebih baik daripada menjalankan ibadah sunnah selama 60 tahun. Hal ini dikarenakan tafakur mampu mengubah kualitas batin seseorang secara instan dan memberikan pemahaman yang lebih jernih tentang hakikat kehidupan.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa objek tafakur yang paling mulia adalah memikirkan ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta. Jika Al-Qur’an adalah ayat yang dibaca, maka alam semesta adalah ayat yang terbentang. Memikirkan bagaimana planet berputar atau bagaimana pergantian siang dan malam adalah jalan pintas menuju pengenalan kepada Sang Pencipta.
Salah satu contoh sederhana namun filosofis yang beliau sampaikan adalah tentang proses pertumbuhan tanaman. Beliau mengajak jemaah merenungi bagaimana sebutir biji cabai yang kecil, ketika ditanam, bisa tumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah yang memiliki rasa pedas. Perubahan warna buah dari hijau ke merah dan munculnya rasa yang khas adalah bukti nyata adanya kekuatan besar yang mengaturnya, bukan sekadar kebetulan alam.
Tidak hanya di alam terbuka, tanda-tanda kebesaran Allah juga ada pada diri manusia sendiri. Ustadz Ahmad Muzakki menceritakan pengalamannya melihat anatomi tubuh manusia di rumah sakit, di mana terdapat ribuan saraf otak yang sangat rumit. Jika satu saja saraf tersebut terganggu, maka fungsi tubuh manusia bisa berubah total. Kesadaran akan rumitnya sistem tubuh ini seharusnya membuat manusia merasa kecil di hadapan Allah.
Beliau juga menyentuh fenomena sosial di mana orang seringkali lebih suka menyibukkan diri dengan urusan orang lain daripada bertafakur. Orang yang tidak memiliki kebiasaan merenungi kebesaran Allah cenderung akan terjebak dalam aktivitas gibah atau membicarakan aib orang lain. Dengan tafakur, seseorang akan merasa tidak memiliki waktu untuk “kepo” atau mencampuri urusan yang tidak bermanfaat baginya.
Tafakur yang konsisten akan melahirkan apa yang disebut dengan makrifatullah atau pengenalan yang mendalam kepada Allah. Ust. Ahmad Muzakki menjelaskan bahwa seseorang tidak akan benar-benar bisa mengenal Tuhannya sebelum ia mampu mengenal dirinya sendiri. Mengenal diri berarti menyadari keterbatasan, kelemahan, dan ketergantungan kita sepenuhnya kepada jaminan dan perlindungan Sang Khaliq.
Buah manis dari kebiasaan bertafakur ini adalah munculnya ketenangan hati atau sukun. Ketenangan ini sangat mahal harganya dan tidak selalu dimiliki oleh orang yang bergelimang harta. Seseorang yang yakin bahwa Allah telah menjamin segala urusannya akan menjalani hidup dengan lebih mantap, tanpa rasa khawatir yang berlebihan terhadap urusan duniawi.
Dalam kaitan dengan ibadah lisan, tafakur menjadi ruh yang menghidupkan zikir. Beliau mengingatkan bahwa zikir yang hanya diucapkan cepat di lisan tanpa diiringi perenungan hati seringkali kehilangan bobotnya. Zikir yang disertai tafakur akan terasa jauh lebih nikmat dan mampu memberikan getaran spiritual yang kuat bagi pelakunya.
Menjelang bulan Ramadan yang sudah di depan mata, beliau berpesan agar umat Islam menjadikan bulan suci tersebut sebagai momentum untuk memperbanyak tafakur. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi saat perut kosong adalah waktu yang sangat potensial untuk menjernihkan pikiran dan merenung. Beliau menyarankan agar jemaah tidak terlalu sibuk dengan urusan makanan saat Ramadan agar punya lebih banyak waktu untuk beribadah.
Kajian diakhiri dengan doa dan harapan agar ilmu yang disampaikan menjadi keberkahan bagi semua jemaah. Dengan memahami pentingnya tafakur, diharapkan setiap individu mampu menghadapi tantangan hidup dengan jiwa yang lebih tenang dan iman yang lebih kokoh. Semoga kita semua termasuk golongan orang yang gemar berpikir dan berzikir di setiap keadaan.
Sumber: kajian kitab Nashaihul Ibad yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya