Menemukan Bahagia di Tengah “Gempuran” Media Sosial: Inspirasi Isra’ Mi’raj bagi Generasi Z

Lora Ismail Al-Kholili.
Lora Ismail Al-Kholili.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan sebuah kompas bagi manusia modern untuk menemukan ketenangan batin. Di tengah riuhnya arus informasi dan tekanan gaya hidup digital, pesan-pesan dari perjalanan agung Nabi Muhammad SAW ini menjadi sangat relevan bagi anak muda saat ini. Kajian bertajuk “Perjalanan Nabi Inspirasi GenZI” ini dilaksanakan pada Minggu, 18 Januari 2026, bertempat di Masjid Al Akbar Surabaya dengan menghadirkan Lora Ismail Al-Kholili.

Pada Awal penyampaiannya, Lora Ismail menekankan bahwa hadir di majelis ilmu seperti Majelis Subuh GenZI ini memiliki keutamaan yang luar biasa. Berdasarkan hadis Nabi, duduk berzikir dan mengkaji ilmu setelah salat Subuh berjamaah hingga terbit matahari, lalu ditutup dengan salat dua rakaat, memberikan pahala yang setara dengan haji dan umrah yang sempurna. Hal ini menjadi pengingat bagi anak muda bahwa keberkahan waktu subuh adalah kunci memulai hari dengan energi positif.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah mengenai esensi Isra’ Mi’raj sebagai nikmat terindah bagi Baginda Nabi. Peristiwa ini merupakan momen pertama kalinya Nabi bertemu langsung dengan Allah SWT setelah melewati masa-masa yang sangat sulit. Lora menjelaskan bahwa dalam tradisi ulama, mengingat-ingat nikmat (tadakkurun ni’am) adalah sebuah ibadah yang sering dilupakan manusia modern karena terlalu fokus pada masalah yang dihadapi.

Lora Ismail kemudian menyoroti fenomena social comparison atau kecenderungan membanding-bandingkan diri yang kerap menjangkiti Generasi Z. Di era sekarang, teknologi seharusnya memudahkan hidup, namun data menunjukkan tingkat stres dan depresi justru meningkat. Hal ini terjadi karena banyak anak muda terlalu lama menatap layar ponsel dan melihat kesuksesan orang lain di media sosial, sehingga mereka merasa hidupnya paling menderita.

Kajian ini memberikan perspektif baru bahwa kebahagiaan sejati muncul ketika seseorang berhenti melihat setetes nikmat pada orang lain dan mulai mensyukuri lautan nikmat pada dirinya sendiri. Lora mengajak Gen Z untuk meneladani Nabi yang selalu membesar-besarkan nikmat sekecil apa pun dan mengecilkan ujian. Sikap inilah yang seharusnya menjadi karakter utama pemuda muslim dalam menghadapi tantangan zaman.

Lebih jauh, Lora Ismail menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi tepat setelah Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, di mana Nabi kehilangan orang-orang tercinta dan mendapat penolakan keras di Thaif. Pelajaran pentingnya adalah seberat apa pun ujian yang kita alami saat ini, itu merupakan pertanda bahwa Allah sedang menyiapkan nikmat yang jauh lebih besar di masa depan. Ujian bagaikan mendung yang gelap, namun ia membawa kabar gembira akan datangnya hujan rahmat.

Terkait dengan interaksi di dunia digital, Lora Ismail mengingatkan agar Gen Z tidak menjadi orang yang “latah” atau fomo (fear of missing out). Lora Ismail menekankan pentingnya memiliki prinsip yang didasari oleh ilmu, bukan sekadar mengikuti tren yang viral. Menyebarkan informasi tanpa konfirmasi atau tabayyun disebut sebagai salah satu bentuk kebohongan yang nyata, yang dampaknya bisa merusak tatanan sosial.

Lora juga mengkritik cara belajar agama yang hanya mengandalkan teks tanpa konteks atau hanya melalui kecerdasan buatan (AI). Beliau memberikan contoh lucu namun tragis tentang orang yang memahami hadis secara tekstual tanpa ilmu, yang justru merugikan diri sendiri. Menurutnya, berguru pada ulama secara langsung tetap tidak tergantikan untuk mendapatkan pemahaman agama yang utuh dan moderat.

Masalah adab juga menjadi sorotan utama dalam kajian di Masjid Al Akbar ini. Lora mengutip pesan para ulama bahwa adab harus ditempatkan di atas ilmu. Di media sosial, adab tercermin dari bagaimana kita menjaga ketikan dan komentar, terutama terhadap sosok yang dihormati. Fenomena hilangnya rasa hormat dan keberanian mencaci maki di ruang digital menunjukkan bahwa kualitas adab masyarakat saat ini sedang mengalami krisis.

Mengenai “oleh-oleh” utama Isra’ Mi’raj, yaitu salat lima waktu, Lora Ismail menjelaskan bahwa salat adalah sambungan (shilah) antara hamba dengan Tuhannya. Jika salat seseorang diperbaiki, maka urusan rezeki, studi, hingga jodoh pun akan ikut membaik. Sebaliknya, jika sambungan tersebut putus, maka hidup akan terasa sesak dan hampa meskipun bergelimang harta materi.

Menanggapi pertanyaan jamaah mengenai kutipan viral bahwa “orang yang salatnya tidak bolong belum tentu orang baik,” Lora memberikan jawaban bijak. Beliau menjelaskan bahwa jika salat dilakukan hanya sebagai gerakan tanpa kehadiran hati, maka fungsinya sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar tidak akan maksimal. Oleh karena itu, tantangan bagi Gen Z adalah bukan sekadar mengerjakan salat, tapi mendirikan salat dengan kualitas khusyuk.

Sebagai penutup, Isra’ Mi’raj memberikan pesan yang menyentuh hati bahwa kunci kenikmatan hidup itu sederhana: jangan melihat kenikmatan orang lain. Dengan berfokus pada nikmat yang diberikan Allah kepada kita, kita akan menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bahagia. Kajian ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar semangat Isra Mikraj membawa perubahan positif bagi karakter pemuda Indonesia.

Sumber: Mejelis Subuh GenZI Masjid Al Akbar bertajuk “Perjalanan Nabi Inspirasi GenZI” Bersama Lora Ismail Al-Kholili

E-Buletin