Kabarmasjid.id, Surabaya – Keikhlasan dalam beragama sering kali diuji melalui interaksi kita dengan sesama manusia, terutama dalam menjaga komitmen dan integritas. Melalui pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an, umat diajak untuk merefleksikan kembali makna keberanian yang berlandaskan ketakwaan, bukan permusuhan semata. Tulisan ini merangkum sari pati kajian tafsir yang menyoroti dinamika sejarah perjuangan Islam dan pesan moral di baliknya.
Kajian Tafsir Al-Qur’an ini dilaksanakan pada Jumat, 30 Januari 2026, bertempat di Masjid Kemayoran Surabaya. Sesi keagamaan yang khidmat ini dipandu oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy dari tim dakwah Masjid Roudlotul Musyawarah, Kemayoran Surabaya yang mengupas secara mendalam kandungan Surat At-Taubah. Fokus utama pembahasan terletak pada ayat-ayat yang menjelaskan sikap umat Islam dalam menghadapi pengkhianatan janji dan pentingnya memiliki mentalitas yang kuat hanya kepada Allah SWT.
Pembahasan dimulai dengan membedah karakteristik kaum kafir pada masa kenabian yang kerap melanggar komitmen sosial dan politik. Dalam tafsir tersebut, dijelaskan bahwa musuh-musuh Islam kala itu sering kali tidak mengindahkan hubungan kekerabatan demi ambisi kekuasaan. Hal ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa keteguhan iman adalah benteng utama dalam menghadapi lingkungan yang tidak memiliki integritas moral.
Meski menghadapi tantangan yang keras, Islam tetap menekankan pentingnya rahmat dan bakti kepada orang tua. Kyai Bahreisy menceritakan kisah sahabat Saad bin Abi Waqqas yang tetap berbuat baik kepada ibunya meskipun sang ibu melakukan aksi mogok makan untuk memprotes keislaman anaknya. Pesan moralnya jelas: perbedaan keyakinan tidak boleh menghapuskan kewajiban seorang anak untuk tetap berakhlak mulia kepada orang tua.
Kajian kemudian bergeser pada momen sejarah penting, yaitu Perjanjian Hudaibiyah. Dalam sesi ini, diceritakan betapa luar biasanya kesabaran Nabi Muhammad SAW saat menghadapi provokasi kaum Quraisy. Meskipun isi perjanjian awalnya dianggap merugikan umat Islam oleh para sahabat, Nabi tetap mematuhinya hingga pihak lawanlah yang akhirnya mengkhianati kesepakatan tersebut dalam waktu kurang dari satu tahun.
Puncak dari narasi sejarah ini adalah peristiwa Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Makkah. Di sinilah akhlak mulia Islam benar-benar bersinar, di mana Rasulullah SAW tidak memilih jalur balas dendam. Beliau justru memberikan jaminan keamanan bagi penduduk Makkah, termasuk rumah tokoh-tokoh yang sebelumnya sangat memusuhi Islam, menunjukkan bahwa kemenangan sejati adalah kemenangan yang membawa kedamaian.
Kyai Bahreisy juga menyoroti aspek psikologis dalam berjuang, khususnya mengenai rasa takut. Melalui Surat At-Taubah, Allah bertanya retoris kepada umat-Nya mengapa mereka harus takut kepada manusia yang melanggar janji. Seharusnya, rasa takut dan segan itu hanya diperuntukkan bagi Allah semata, karena Dialah pemilik mutlak atas kehidupan dan kematian setiap makhluk.
Untuk memperkuat mental jamaah, dikisahkan pula keteladanan Khalid bin Walid, sang “Pedang Allah”. Meskipun tubuhnya dipenuhi lebih dari 70 luka bekas pedang dan tombak karena selalu berada di garis depan, ia tidak wafat di medan perang melainkan di tempat tidurnya. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa usia dan ajal seseorang sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan ditentukan oleh musuh atau keadaan.
Kyai Bahreisy juga mengungkap sisi spiritual di balik peristiwa hijrah, khususnya mengenai konspirasi di Darun Nadwah. Kyai Bahreisy menjelaskan bagaimana iblis berusaha ikut campur dalam rapat kaum Quraisy untuk mencelakai Nabi. Namun, segala tipu daya tersebut gagal total karena perlindungan Allah yang membuat musuh-musuh-Nya tidak mampu melihat Rasulullah saat beliau keluar dari rumahnya.
Keajaiban-keajaiban atau ma’unah dari Allah juga dipaparkan sebagai motivasi bagi orang-orang yang bertakwa. Salah satunya adalah kisah pasukan pimpinan Saad bin Abi Waqqas yang mendapatkan kemudahan saat harus menyeberangi perairan dalam misi dakwah ke Persia. Hal ini menegaskan bahwa bagi mereka yang berjuang di jalan yang benar, Allah akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa Allah menjanjikan empat ganjaran bagi umat yang mau berjuang: Allah akan menghukum kezaliman melalui perantara tangan orang beriman, menghina para pengkhianat janji, memberikan pertolongan nyata, serta menyembuhkan penyakit-penyakit yang bersarang di dalam hati. Kemenangan Islam bukan hanya soal penguasaan wilayah, melainkan pembersihan jiwa dari kesyirikan dan keraguan.
Di era modern saat ini, perjuangan tidak selalu berarti fisik, melainkan melalui dakwah yang berkelanjutan. Kyai Bahreisy menekankan bahwa menyebarkan kebaikan bisa dilakukan dari hal-hal terkecil, seperti mengajak orang lain untuk shalat atau mengajari anak-anak mengaji. Satu langkah kecil dalam membimbing orang lain menuju kebaikan bernilai jauh lebih berharga daripada harta benda yang paling mewah sekalipun di dunia.
Sebagai penutup, Kyai Bahreisy mengingatkan bahwa setiap mukmin harus memiliki optimisme yang besar terhadap pertolongan Allah. Dengan menjaga persatuan dan meningkatkan takwa, umat Islam akan meraih kemuliaan baik secara personal maupun sosial. Kajian diakhiri dengan doa bersama, menandai komitmen jamaah untuk terus mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: Kajian Tafsir Surat At-Taubah yang disampaikan oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah, Kemayoran Surabaya.