Menebar Rahmah di Bumi: Kunci Meraih Kasih Sayang Allah dan Husnul Khatimah

Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz
Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjalani kehidupan di era modern yang penuh dinamika seringkali membuat kita lupa akan esensi hubungan antarsesama. Agama hadir bukan sekadar ritual formalitas, melainkan sebagai panduan untuk memperhalus budi pekerti melalui sifat kasih sayang. Salah satu pesan mendalam ini terangkum dalam kajian tafsir yang menyejukkan hati, mengingatkan kita bahwa kunci mendapatkan pertolongan Tuhan terletak pada cara kita memperlakukan hamba-Nya.

Kajian Tafsir Jalalayn ini disampaikan oleh Ustadz H. M. Husni Mubarok Al Hafidz pada hari Selasa, 10 Februari 2026. Bertempat di Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya, narasumber membedah makna mendalam dari ayat pertama Surah Al-Fatihah, yakni Bismillahirrahmanirrahim, yang dikaitkan dengan kaidah-kaidah muamalah dalam kehidupan sehari-hari.

Ustadz Husni Mubarok mengawali penjelasannya dengan membedah perbedaan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sifat Ar-Rahman merupakan bentuk kasih sayang Allah yang bersifat universal, diberikan kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik yang beriman maupun yang ingkar, dalam bentuk rezeki dan fasilitas hidup. Sementara itu, Ar-Rahim adalah rahmat khusus yang dipersiapkan Allah hanya bagi orang-orang beriman, yang pengaruhnya akan sangat terasa kelak di akhirat.

Menariknya, meskipun Allah memiliki sifat-sifat lain yang tegas seperti Maha Menyiksa (Al-Muntaqim) atau Maha Keras Siksanya (Syadidul Iqab), Allah justru memilih menonjolkan sifat kasih sayang di awal kitab suci Al-Qur’an. Hal ini menurut para ulama bertujuan agar manusia memandang agama dengan kacamata keindahan dan cinta, bukan dengan ketakutan yang mencekam. Sifat inilah yang seharusnya menjadi karakter terdepan bagi setiap mukmin dalam berinteraksi.

Lebih lanjut, kajian ini menekankan sebuah kaidah kehidupan yang sangat fundamental: Yu’amilullah bima tu’amilu bihi nass. Artinya, Allah akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan manusia lainnya. Jika kita ingin hidup kita dipermudah oleh Allah, maka jalan pintasnya bukanlah hanya dengan memperbanyak salat, melainkan dengan mempermudah urusan orang-orang di sekitar kita.

Sebaliknya, peringatan keras disampaikan bagi mereka yang suka menyulitkan urusan orang lain. Barang siapa yang gemar mencari-cari kesalahan atau membuka aib sesama, maka Allah sendiri yang akan menyingkap aibnya hingga ia terhina. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa hubungan horizontal dengan sesama manusia berbanding lurus dengan hubungan vertikal kita kepada sang Pencipta.

Puncak dari kajian ini adalah pembahasan hadis Ar-rahimuna yarhamuhumur rahman, yang berarti orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih. Ustaz Husni menegaskan bahwa Allah hanya akan menurunkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki rasa welas asih di dalam hatinya. Tanpa rasa sayang terhadap sesama, mustahil seseorang bisa meraih kedekatan yang hakiki dengan Allah.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Ustaz Husni menceritakan kisah inspiratif tentang Bahram Al-Majusi. Bahram adalah seorang penyembah api yang secara lahiriah jauh dari Islam, namun namanya disebut dalam mimpi seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW mengirimkan salam untuk Bahram dan menyatakan bahwa Allah telah rida kepadanya.

Ternyata, rida Allah tersebut turun karena tindakan mulia Bahram yang memberikan bantuan pangan kepada seorang ibu janda dan anak-anak yatim yang kelaparan. Meskipun ia memiliki banyak dosa besar dalam keyakinannya, namun rasa welas asih yang tulus kepada hamba Allah yang menderita telah mengundang hidayah dan rida ilahi masuk ke dalam hidupnya.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bahwa perbuatan baik yang didasari rasa kasih sayang yang tulus memiliki kekuatan yang luar biasa. Berkat satu amalan mulia tersebut, Bahram akhirnya memeluk Islam di akhir hayatnya dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Ini menunjukkan bahwa pintu kasih sayang Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang mau membuka hatinya untuk menyayangi sesama.

Bagi kita yang merindukan akhir hidup yang baik, Ustadz Husni Mubarok menyarankan untuk senantiasa mengamalkan doa agar seluruh umat Nabi Muhammad SAW diberikan ampunan, rahmat, dan ditutupi aibnya. Mendoakan kebaikan bagi orang lain, bahkan bagi mereka yang pernah menyakiti kita, adalah cerminan tertinggi dari sifat rahmat yang diajarkan oleh Rasulullah.

Sebagai penutup, Ustadz Husni Mubarok mengajak kita semua untuk mengevaluasi kembali isi hati kita. Sudahkah ada rasa sayang untuk sesama, ataukah hati kita masih dipenuhi kebencian? Dengan menebar kasih sayang di bumi, kita sesungguhnya sedang mengetuk pintu langit agar rahmat Allah senantiasa tercurah dalam setiap langkah kehidupan kita.

Sumber: Kajian Tafsir Jalalayn yang disampaikan oleh Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz di Masjid Nasional Al-Akbar

E-Buletin