Kabarmasjid.id, Surabaya – Pendidikan anak merupakan investasi jangka panjang yang sangat menentukan masa depan generasi penerus dan peradaban umat. Dalam ajaran Islam, proses membimbing buah hati bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik semata, melainkan membina jiwa dan mentransfer nilai-nilai tauhid sejak dini. Tanpa fondasi keagamaan yang kuat, anak-anak rentan terbawa arus pergaulan dan zaman yang kian dinamis. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai prinsip-prinsip pengasuhan Islami menjadi kebutuhan krusial bagi setiap orang tua dan pendidik.
Kajian keagamaan mendalam mengenai tema ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. dalam sesi kajian yang disiarkan secara langsung pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kanal YouTube Masjid Al-Irsyad TV dari Masjid Al-Irsyad Surabaya. Dalam pemaparannya, beliau mengupas secara tuntas jilid kedua kitab terkemuka Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan. Fokus pembahasan berpusat pada manhaj atau metode Islam dalam membenahi serta membentuk karakter anak-anak yang belum menginjak usia baligh.
Mengawali penjelasannya, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem menegaskan bahwa metode pendidikan anak dalam Islam bersandar pada dua pilar utama, yaitu at-talqin dan at-ta’wid. At-talqin mewakili dimensi teoretis (al-janib an-nazhari), di mana orang tua secara berkesinambungan memberikan arahan, bimbingan verbal, serta nasihat-nasihat positif (mau’izhah). Sementara itu, at-ta’wid menekankan pada dimensi praktis (al-janib al-‘amali), yakni proses pembiasaan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan yang nyata.
Pilar pertama yang dikedepankan dalam kajian tersebut adalah penanaman kalimat tauhid sejak anak baru lahir ke dunia. Penceramah mengingatkan sunnah Rasulullah SAW untuk mengumandangkan azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir agar kalimat Laa ilaha illallah menjadi seruan pertama yang diserap oleh pendengarannya. Pendengaran merupakan indra pertama yang berfungsi secara optimal pada bayi, sehingga pesan tauhid yang masuk sejak awal akan menancap kuat dalam benak dan jiwanya.
Seiring bertambahnya usia anak, penanaman akidah teoretis tersebut harus ditransformasikan ke dalam pendekatan aplikasi lapangan yang konkret. Orang tua diajak untuk mentalkin kesadaran tauhid dengan memperlihatkan keindahan alam sekitar, seperti mekarnya bunga, bentangan langit, hingga lautan luas dan fenomena hujan. Melalui fenomena alam tersebut, anak dibimbing untuk berpikir rasional dan merasakan secara mendalam bahwa Allah SWT adalah Mahapencipta dan Pengatur seluruh alam semesta.
Poin penting kedua dalam metode pengasuhan Islami adalah pembiasaan ibadah salat sejak anak berusia tujuh tahun. Berdasarkan petunjuk hadis Nabi SAW, masa usia tujuh tahun merupakan momentum krusial untuk melatih anak melaksanakan salat dengan disiplin. Ustadz Muhammad Sholeh Drehem menggarisbawahi pentingnya pengawalan orang tua secara konsisten agar anak memahami tata cara, rukun, dan makna salat secara utuh sebelum mereka memasuki usia baligh.
Proses pembiasaan salat yang dilakukan secara terus-menerus selama beberapa tahun akan membentuk pola kebiasaan (habit) yang melekat kuat pada diri anak. Bagi anak laki-laki, membiasakan mereka memakmurkan masjid secara berilmu dan bijak akan menumbuhkan rasa ikatan yang kuat terhadap rumah Allah. Ketika salat sudah menyatu dalam jiwa, ibadah tersebut bukan lagi dirasakan sebagai beban, melainkan telah bertransformasi menjadi akhlak dan kebutuhan hidup yang tak terpisahkan.
Pilar ketiga yang diuraikan dalam pemaparan kajian adalah pengenalan hukum halal dan haram serta prinsip-prinsip syariat. Anak perlu diajarkan mana tindakan yang diperbolehkan dan mana yang dilarang oleh agama agar mereka memiliki kompas moral yang jelas. Bimbingan ini menjadi benteng pelindung bagi anak dan keluarga dari bahaya serta keburukan di dunia maupun di akhirat kelak.
Dalam menjalankan fungsi pengawasan, orang tua dituntut untuk bersikap responsif dan tidak pembiaran terhadap perilaku anak sehari-hari. Jika anak kedapatan melakukan tindakan tercela, seperti mengambil barang milik orang lain atau menguarkan kata-kata kasar, orang tua harus segera mengoreksinya dengan penuh kelembutan namun tegas. Sebaliknya, saat anak menunjukkan iktikad baik atau sifat dermawan, berikan pujian dan motivasi agar kebiasaan mulia tersebut terus terpelihara.
Selanjutnya, contoh konkret keempat adalah menanamkan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah SAW, keluarga beliau (ahlul bait), para sahabat, serta Al-Qur’anul Karim. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan rekam jejak perjuangan Nabi, keteladanan para istri serta putri beliau, dan kegigihan Khulafaur Rasyidin. Pengetahuan sejarah (sirah) ini akan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas Islam dan menjadikan figur-figur mulia tersebut sebagai idola sejati.
Mengenai hubungan dengan Al-Qur’an, pendidikan Islam mendorong agar anak tidak sekadar pandai membaca sesuai dengan hukum tajwid dan makhraj yang benar, tetapi juga mencintai alunan ayat-ayatnya. Orang tua diharapkan membimbing anak untuk bertahap memahami makna Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman serta solusi dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Keakraban dengan Al-Qur’an secara alami akan melembutkan hati, memperbaiki tutur kata, dan membentuk kepribadian anak menjadi lebih berakhlak.

Sebagai penutup, kajian ini mempertegas bahwa keberhasilan metode talqin dan ta’wid sangat bergantung pada keteladanan (tarbiyah bil qudwah) yang dicontohkan oleh orang tua di rumah. Anak-anak adalah peniru yang sangat ulung, di mana mereka merekam dan meniru apa yang dilihat dari lingkungan terdekatnya. Dengan memadukan pengarahan positif yang konsisten, pembiasaan ibadah, serta contoh teladan yang baik, insyaAllah akan terwujud generasi anak-anak yang saleh dan salehah dalam lindungan Allah SWT.
Sumber: Kajian keagamaan bertajuk “Pendidikan Anak Dalam Islam” yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. dan disiarkan melalui kanal YouTube Masjid Al-Irsyad TV pada Jum’at 17 Juli 2026.