Menata Pikiran, Menjemput Tawakal: Solusi Islam dan Psikologi untuk Mengatasi Beban Mental

Nadya Attuwy, M.Psi., Psikolog,
Nadya Attuwy, M.Psi., Psikolog,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya ­- Pernahkah Anda terbangun di pagi hari dengan perasaan berat, cemas, atau lelah yang teramat sangat, padahal Anda tidak sedang melakukan pekerjaan fisik yang berat? Di era modern yang serba cepat ini, keluhan tentang hati yang mudah lelah, pikiran yang penuh, dan perasaan sumpek seolah telah menjadi tren atau fenomena psikologis yang menjangkiti banyak orang. Banyak individu yang secara kasat mata memiliki kehidupan sempurna—ekonomi stabil, keluarga harmonis, dan karir yang baik—namun tetap datang ke ruang konseling dengan perasaan hampa yang tidak tahu apa penyebabnya. Fenomena mendalam ini dikupas tuntas dalam Kajian Subuh Psikologi Islam yang berlangsung pada hari Jumat, 5 Juni 2026, bertempat di Studio Masjid Al-Irsyad Surabaya, dengan menghadirkan pakar psikologi Nadya Attuwy, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Nadya Attuwy menjelaskan bahwa rasa lelah yang kerap hinggap di dalam dada manusia modern sebenarnya bukan disebabkan oleh beban fisik, melainkan oleh mental load atau beban mental yang menumpuk di dalam pikiran. Otak dan emosi manusia dipaksa bekerja tanpa henti untuk memikirkan berbagai variabel kehidupan sekaligus, mulai dari urusan domestik anak, tekanan pekerjaan, kondisi kesehatan, hingga masalah finansial. Celakanya, beban terberat dari mental load ini sering kali bersumber dari hal yang abstrak, yaitu ketakutan yang berlebihan terhadap penilaian dan anggapan orang lain terhadap diri kita, yang membuat sistem otak selalu berada dalam mode siaga (aware) dan sulit untuk merasa rileks.

Faktor kedua yang memperparah kelelahan hati di era digital ini adalah sebuah kebiasaan toksik yang hampir dilakukan oleh semua generasi, yaitu langsung menggenggam gawai dan melakukan scrolling media sosial sesaat setelah membuka mata di pagi hari. Tanpa disadari, aktivitas pagi ini secara otomatis memaksa otak untuk membandingkan kehidupan pribadi yang biasa-biasa saja dengan kilasan pencapaian terbaik orang lain yang terpampang di layar kaca. Akibatnya, alih-alih memulai hari dengan energi positif, manusia justru mengawali paginya dengan perasaan minder, munculnya sindrom ketidakamanan (insecure), serta timbulnya pertanyaan retoris yang menggugat takdir tentang mengapa hidupnya terasa stagnan dan tidak berkembang.

Lebih lanjut, psikolog asal Surabaya ini menekankan bahwa kemudahan akses informasi saat ini membuat kita dapat melihat standar kebahagiaan orang lain setiap detik tanpa perlu menunggu momentum tertentu. Padahal, Islam telah memberikan batasan yang sangat logis melalui sabda Rasulullah SAW agar dalam urusan dunia, manusia selalu melihat ke arah bawah dan dilarang keras mendongak ke atas. Keengganan untuk menundukkan pandangan dalam urusan materi inilah yang mengikis rasa syukur dan membuat manusia selalu merasa kurang, padahal esensinya Allah tidak pernah menuntut kita untuk menjadi seperti orang lain, melainkan meminta kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Penyebab ketiga dari rapuhnya ketahanan hati adalah kecenderungan ego manusia yang ingin memikul semua beban hidup sendirian sembari sibuk mengontrol hal-hal yang berada di luar kendali pribadinya. Banyak orang menghabiskan energi psikisnya untuk mencemaskan hasil akhir dari sebuah usaha, mengkhawatirkan skenario masa depan yang belum tentu terjadi, atau bahkan pusing memikirkan kebijakan makro negara yang tidak bisa diubahnya. Pikiran yang berjalan terlalu jauh dari realita sekitar ini lambat laun akan menguras habis pasokan energi positif dalam diri (draining), hingga menyisakan kehampaan karena manusia melupakan konsep tawakal.

Dari sudut pandang keilmuan psikologi, hati yang mudah lelah dan dilingkupi rasa sumpek yang konstan merupakan indikator kuat bahwa seseorang telah kehilangan makna hidup (meaning of life). Seseorang yang kehilangan eksistensi makna di dalam jiwanya akan senantiasa didera rasa hampa, meskipun secara material ia memiliki segudang pencapaian mentereng, rumah mewah, ataupun saldo rekening yang melimpah. Hal ini membuktikan sebuah tesis ilmiah bahwa kebutuhan hakiki dari jiwa manusia sejatinya sangat berbeda dengan kebutuhan jasmani yang bersifat kebendaan.

Islam hadir menyempurnakan konsep psikologi tersebut dengan memberikan jawaban mutlak mengenai apa yang menjadi tujuan dan makna hidup manusia, sebagaimana yang termaktub secara eksplisit dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat ayat 56. Ayat tersebut menegaskan bahwa jin dan manusia tidak diciptakan melainkan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Nadya mengingatkan bahwa kegagalan manusia dalam meresapi esensi ayat ini membuat aktivitas keagamaan seperti salat, mengaji, maupun puasa sering kali hanya terjebak menjadi ritual mekanis dan rutinitas kebiasaan tanpa ruh, sehingga gagal mengalirkan ketenangan ke dalam kalbu.

Sebagai langkah konkret untuk merawat dan memulihkan kembali hati yang telah terlanjur lelah, langkah pertama yang wajib diupayakan adalah dengan membatasi diri dari perilaku membanding-bandingkan pencapaian duniawi. Setiap manusia harus meyakini dengan penuh keimanan bahwa Allah Maha Adil dan telah menakar porsi ujian serta kebahagiaan masing-masing hambanya secara presisi. Fokus pada perjalanan dan garis batas diri sendiri tanpa perlu bersikap ‘kepo’ terhadap privasi atau ujian hidup orang lain adalah kunci utama agar energi psikis kita tidak terbuang sia-sia.

Langkah kedua adalah dengan melatih ketrampilan mengelola arus pikiran melalui metode penyaringan (filtering) informasi. Manusia perlu bersikap skeptis terhadap isi pikirannya sendiri dengan cara memilah mana hal yang didasarkan atas fakta riil dan mana yang sekadar proyeksi ketakutan masa depan. Jika sebuah kecemasan tidak memiliki dasar fakta yang kuat, maka pikiran tersebut harus segera diabaikan agar tidak mendominasi ruang kesadaran yang dapat merusak suasana hati.

Selain mengelola internal pikiran, merawat hati juga membutuhkan dukungan eksternal berupa pembangunan relasi sosial yang sehat dan suportif. Nadya menyarankan agar kita tidak memendam problematika kehidupan sendirian, melainkan membukanya kepada anggota keluarga atau sahabat yang dapat dipercaya. Menyeleksi dan bergabung dengan komunitas yang positif—baik itu komunitas yang fokus pada ilmu agama, parenting, atau bahkan komunitas hobi yang produktif—akan sangat membantu individu menjalankan perannya di masyarakat dengan lebih optimal.

Secara klinis, salah satu terapi efektif untuk mengubah pola pikir negatif menjadi positif adalah dengan rutin melakukan latihan bersyukur melalui metode gratitude journaling. Setiap malam sebelum beristirahat, biasakan untuk menuliskan minimal tiga hal sederhana yang terjadi sepanjang hari yang patut untuk diapresiasi, seperti perjalanan yang lancar atau kondisi tubuh yang sehat. Kebiasaan jurnalisme sederhana ini secara perlahan akan meningkatkan kepekaan radar emosi kita terhadap limpahan nikmat-nikmat kecil yang selama ini sering luput dari perhatian.

Sebagai penutup, Nadya Attuwy menegaskan bahwa seluruh ikhtiar psikologis seperti jurnalisme pikiran dan olahraga fisik untuk memicu hormon dopamin, tidak akan pernah mencapai titik kesempurnaan tanpa adanya pendekatan spiritual dan perbaikan hubungan dengan Sang Pencipta. Ketika Allah menurunkan rasa sumpek ke dalam dada, hal itu bisa jadi merupakan sebuah sinyal teguran halus agar manusia segera membasahi lidahnya dengan istigfar, merutinkan salat tepat waktu, serta membaca Al-Qur’an sebagai obat (As-Syifa) yang mampu melelehkan kerasnya hati. Pada akhirnya, saat fisik terasa letih, obatnya bukanlah sekadar tidur atau pergi berlibur, karena sejatinya yang sedang kelelahan adalah hati kita yang sedang merindukan tempat bersandar terbaik, yaitu Allah SWT.

Sumber: Kajian Subuh Psikologi Islam bertajuk “Kenapa Hati Kita Mudah Lelah? Perspektif Psikologi dan Islam” yang disampaikan oleh narasumber Nadya Attuwy, M.Psi., Psikolog, pada Jum’at 5 Juni 2026.

E-Buletin