Menang Melawan Nafsu: Rahasia Sukses Jihad Ramadhan Menuju Pribadi yang Bermanfaat

Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si.
Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi momentum krusial bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali hakikat kemenangan yang sesungguhnya. Di tengah situasi dunia yang penuh gejolak, pesan-pesan spiritual dan peradaban menjadi kompas penting bagi kaum muslimin. Bertempat di Masjid Al Falah Surabaya pada Sabtu, 21 Maret 2026, Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si. menyampaikan khutbah Idul Fitri yang menekankan bahwa suksesnya ibadah Ramadhan adalah langkah awal menuju pembangunan peradaban mulia.

Dalam khutbahnya, Ustadz Adian menegaskan bahwa Ramadhan sejatinya adalah proses “Jihad Fisabilillah” yang komprehensif. Mengutip pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, beliau memaparkan bahwa jihad pertama dan utama adalah mujahadah linafs atau berjihad melawan hawa nafsu sendiri. Sebelum mampu menghadapi tantangan eksternal seperti setan atau musuh-musuh agama, seorang Muslim harus terlebih dahulu memenangkan pertarungan di dalam batinnya selama sebulan penuh.

Keberhasilan dalam berjihad melawan nafsu ini akan melahirkan proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Ustadz Adian menjelaskan bahwa siapa pun yang sukses membersihkan jiwanya, maka Allah menjamin kemenangan dalam hidupnya. Indikator kesuksesan Ramadhan seseorang bukan hanya terletak pada ritualitasnya, melainkan pada perubahan karakter yang menjadi lebih jujur, pemberani (syaja’ah), penyayang, dan jauh dari sifat sombong maupun dengki.

Lebih jauh, khutbah tersebut menyoroti peran Rasulullah SAW yang diutus untuk menjalankan tiga pilar utama: tilawah (menyampaikan ayat), tazkiah (penyucian), dan taklim (pengajaran ilmu). Proses tazkiah selama Ramadhan tidak hanya menyentuh aspek rohani, tetapi juga jasmani. Berbagai riset kesehatan modern saat ini membuktikan bahwa pola puasa yang diajarkan Islam memberikan dampak regenerasi luar biasa bagi kesehatan tubuh manusia.

Aspek ketiga, yaitu taklim, menjadi kunci bagi kebangkitan sebuah bangsa. Ustadz Adian menekankan bahwa sebuah bangsa tidak akan mudah dihancurkan jika memiliki karakter yang kuat, jujur, dan pekerja keras. Namun, untuk bisa memimpin peradaban dunia, karakter saja tidak cukup. Umat Islam harus menguasai sains dan teknologi sebagai alat untuk memperkuat daya tawar dan kemandirian di kancah internasional.

Menariknya, khatib memberikan catatan kritis terhadap kondisi peradaban global saat ini. Beliau merujuk pada karya Samuel Huntington dan Francis Fukuyama tentang benturan peradaban dan akhir sejarah. Menurutnya, klaim bahwa demokrasi liberal Barat adalah akhir dari sejarah kini mulai terpatahkan. Sebaliknya, saat ini dunia tengah menyaksikan apa yang disebut sebagai penurunan atau decline dari dominasi peradaban Barat yang gagal mewujudkan janji keadilan.

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza menjadi bukti nyata kegagalan narasi kemanusiaan yang selama ini didengungkan dunia Barat. Penindasan dan kekejaman yang disaksikan oleh miliaran manusia melalui layar gawai masing-masing telah membuka mata dunia. Ustadz Adian menyebutkan bahwa Zionisme kini telah sampai pada tahap akhir sejarahnya karena kehilangan simpati dari masyarakat global akibat tindakan biadab yang mereka lakukan.

Di tengah kegagalan sistem global tersebut, Islam muncul sebagai satu-satunya peradaban yang paling siap menawarkan solusi bagi umat manusia. Sejarah telah membuktikan selama ratusan tahun, di bawah naungan Islam, keadilan ditegakkan bagi semua golongan. Yerusalem di masa kepemimpinan Islam menjadi tempat yang damai bagi penganut Yahudi, Nasrani, dan Muslim untuk hidup berdampingan tanpa rasa takut.

Khatib juga mengingatkan bahwa kemuliaan dalam pandangan Islam bukan didasarkan pada keturunan, kekayaan, atau kecantikan, melainkan pada ketakwaan dan kebermanfaatan. Prinsip khairunnas anfauhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama—harus menjadi orientasi baru dalam sistem pendidikan kita. Kebahagiaan sejati bukanlah saat menumpuk harta, melainkan saat mampu berbagi dengan orang lain.

Namun, kejayaan peradaban Islam bisa runtuh jika umat terjangkit tiga penyakit kronis yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW. Penyakit tersebut adalah terlalu memuja dunia, meninggalkan tugas dakwah (amar ma’ruf nahi mungkar), serta penyakit perpecahan dan saling caci maki. Sejarah jatuhnya Yerusalem di masa lalu dan hancurnya Baghdad menjadi pelajaran pahit yang jangan sampai terulang akibat umat yang tercerai-berai.

Menghadapi tantangan masa depan, Ustadz Adian mengajak para orang tua dan pendidik untuk kembali pada model pendidikan Nabi. Pendidikan yang memadukan antara adab dan ilmu secara proporsional adalah kunci melahirkan generasi emas seperti generasi Salahuddin Al-Ayyubi atau para tokoh bangsa Indonesia terdahulu. Di era banjir informasi saat ini, menjaga akidah dan akhlak anak-anak menjadi tugas yang sangat berat namun mulia.

Sebagai penutup, khutbah tersebut menjadi seruan bagi umat Muslim Indonesia untuk memikul tugas peradaban. Kemenangan Idul Fitri harus ditransformasikan menjadi energi untuk membangun bangsa yang beradab dan berilmu tinggi. Dengan iman yang kuat dan ilmu yang luas, umat Islam diharapkan tidak hanya menjadi pengikut arus global, melainkan menjadi pemberi warna dan rahmat bagi seluruh alam semesta.

Sumber: Khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si. di Masjid Al Falah Surabaya. Dengan tema utama “Sukses Ramadhan sebagai sarana jihad menuju peradaban  mulia”

E-Buletin