Memetik Buah Puasa: Menjadi ‘Al-Wasil’ Sejati dengan Menyambung yang Terputus

KH. Drs. Imam Ma’ruf
KH. Drs. Imam Ma’ruf

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Suasana khidmat menyelimuti kawasan alun-alun dan pusat kota Malang saat ribuan umat Muslim berkumpul untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Di tengah udara pagi yang sejuk, Masjid Agung Jami Malang menyelenggarakan rangkaian Shalat Idul Fitri 01 Syawwal 1447 H pada Sabtu, 21 Maret 2026, dengan menghadirkan KH. Drs. Imam Ma’ruf, Pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Islam PPAI Sanggrahan, Kepanjen, sebagai khatib yang memberikan pesan-pesan mendalam bagi jamaah.

Dalam khutbahnya, KH. Imam Ma’ruf mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kembali apakah ibadah Ramadan yang baru saja berlalu telah memberikan dampak nyata pada perubahan jiwa. Beliau menekankan bahwa indikator keberhasilan puasa seseorang terletak pada munculnya sifat sabar, kemampuan mengendalikan emosi, serta tumbuhnya kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Perubahan jiwa atau al-fawaid ar-ruhiyah ini menurutnya harus menjadi karakter baru bagi setiap Muslim, di mana sifat pemarah berganti menjadi penyayang dan sifat egois bertransformasi menjadi empati. Jika sifat-sifat mulia ini belum dirasakan menempel pada diri setelah Idul Fitri, maka diperlukan evaluasi diri yang mendalam serta permohonan ampun atau istighfar kepada Allah atas ketidaksempurnaan ibadah yang telah dilakukan.

Selain aspek spiritual, khatib juga menyoroti aspek kesehatan fisik sebagai berkah dari ibadah puasa, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa puasa membawa kesehatan. Jika kondisi kesehatan justru menurun pasca-Ramadan, hal itu menjadi pengingat untuk memperbaiki cara berbuka, bersahur, hingga pemilihan menu makanan yang sesuai dengan tuntunan kesehatan di masa mendatang.

Poin krusial ketiga yang disampaikan dalam khutbah tersebut adalah faedah sosial kemasyarakatan atau al-faid al-ijtimaiyah. Ramadan seharusnya melahirkan kepekaan sosial yang tinggi, di mana rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa menjadi jembatan empati untuk lebih peduli terhadap nasib fakir miskin dan mereka yang kekurangan secara ekonomi.

KH. Imam Ma’ruf memberikan peringatan cerdas mengenai tren masa kini yang sering kali lebih mengutamakan destinasi wisata setelah Shalat Id dibandingkan agenda silaturahim. Beliau menyayangkan jika euforia liburan justru mengikis nilai-nilai luhur mengunjungi sanak saudara yang seharusnya menjadi prioritas utama di hari kemenangan ini.

Mengutip kitab Ar-Targhib Wat-Tarhib, beliau menjelaskan bahwa silaturahim bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan kunci pembuka pintu rezeki dan pemanjang usia yang barokah. Orang tua diharapkan mampu mendidik anak cucunya untuk mengenal akar silsilah keluarga agar hubungan kekeluargaan tidak terputus diterjang arus zaman.

Lebih dalam lagi, khatib membedah makna sejati dari penyambung silaturahim atau al-wasil yang sesungguhnya. Beliau menegaskan bahwa disebut penyambung silaturahim bukanlah mereka yang hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepadanya, karena perilaku tersebut hanya bersifat membalas atau menyeimbangkan perbuatan orang lain.

Kriteria al-wasil yang dicintai Allah adalah orang yang tetap menjalin hubungan baik meskipun pihak lain telah memutusnya, serta tetap memberi meskipun pernah diabaikan. Inilah “panen” sesungguhnya dari pelatihan Ramadan, yakni kemampuan untuk tetap berbuat baik dan tidak menzalimi meskipun dihadapkan pada perlakuan yang tidak menyenangkan.

Khatib juga menyebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah yang diberikan kepada kerabat atau keluarga yang memiliki ganjalan hati atau bibit permusuhan dengan kita. Dengan memberikan perhatian dan bantuan kepada mereka, maka nilai halal bihalal dan silaturahim akan mencapai tingkatan tertinggi dalam membersihkan hati dari segala penyakit batin.

Ada janji kemudahan hisab dan jaminan surga bagi mereka yang mampu memaafkan orang yang menzalimi, memberi kepada yang menghalangi, serta menyambung yang terputus. Hal ini merupakan tantangan berat bagi ego manusia, namun merupakan jalan pintas mendapatkan rahmat Allah secara luas.

Sebagai penutup khutbah, beliau mengingatkan sebuah kisah saat Rasulullah di Padang Arafah yang melarang seseorang mengikuti majelis suci jika masih ada permusuhan dengan keluarganya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya urusan silaturahim, di mana satu orang yang tidak rukun dapat menghambat turunnya rahmat Allah bagi seluruh komunitas atau jamaah di sekitarnya.

Khutbah ini diakhiri dengan ajakan untuk segera pulang dan menemui keluarga guna saling memaafkan dengan tulus sebelum memikirkan kegiatan rekreasi lainnya. Harapannya, dengan hati yang bersih dan hubungan kekeluargaan yang erat, masyarakat Kota Malang dapat menyongsong hari-hari setelah Idul Fitri dengan penuh keberkahan dan kedamaian.

Sumber: Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Masjid Agung Jami Malang dengan Khatib KH. Drs. Imam Ma’ruf

E-Buletin