Kabarmasjid.id, Surabaya – Kesehatan mental kini telah menjadi topik perbincangan yang hangat di berbagai lini masa, mulai dari ruang kelas, tempat kerja, hingga platform media sosial. Banyak orang terjebak dalam pencarian kebahagiaan semu yang sering kali justru berujung pada rasa hampa dan ketidakpuasan yang tiada habisnya. Fenomena maraknya gangguan kecemasan, depresi, hingga kasus melukai diri sendiri menjadi sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang keliru dalam cara manusia modern mengelola jiwanya. Menjawab tantangan zaman tersebut, Masjid Al Akbar Surabaya menggelar kegiatan interaktif “Ngaji Sehat” pada Jum’at, 5 Juni 2026, dengan menghadirkan narasumber dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ, Subsp.K.L(K), FISCM, seorang psikiater konsultan dari RSUD Dr. Soetomo sekaligus akademisi Universitas Airlangga, guna membedah kesehatan jiwa dari perspektif Islam.
Dalam pemaparannya, Dokter Uci—sapaan akrab sang psikiater—menyoroti perbedaan mendasar antara psikologi modern barat dengan psikologi Islam atau ilmu nafs. Psikologi barat pada umumnya berkembang secara sekuler, di mana fokus utamanya terbatas pada pengelolaan pikiran, emosi, dan perilaku manusia tanpa menyertakan aspek spiritualitas ke dalam ilmu inti. Sebaliknya, psikologi Islam memandang manusia sebagai entitas yang utuh, di mana kesehatan mental tidak akan pernah bisa dilepaskan dari hubungan seorang hamba dengan dimensi ilahiah dan kekuatan rohani yang ada di dalam dirinya.
Merujuk pada pemikiran monumental Imam Al-Ghazali, Dokter Uci memperkenalkan empat komponen kejiwaan yang harus dijaga keseimbangannya, yaitu nafs (kepribadian), qalbu (hati), akal, dan ruh. Dalam dunia medis dan psikologi Islam, qalbu diartikan sebagai pusat emosi yang jalurnya terikat kuat dengan fungsi organ otak, begitu pula dengan akal sebagai pusat penalaran. Masalah kesehatan mental sering kali muncul ketika terjadi ketimpangan di antara komponen-komponen ini; sebagai contoh, banyak ditemui individu dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang sangat tinggi, namun memiliki ketahanan emosi yang rapuh karena akal dan kalbunya tidak berjalan beriringan secara seimbang.
Satu poin krusial yang ditekankan dalam kajian ini adalah mengenai tujuan akhir dari kesehatan mental dalam Islam, yang ternyata bukan sekadar mengejar kebahagiaan (happiness), melainkan mencapai ketenangan jiwa (mutmainah). Secara neurosains dan psikologi Islam, bahagia dan tenang adalah dua hal yang direspons berbeda oleh otak kita. Kebahagiaan duniawi cenderung bersifat adiktif, membuat manusia selalu merasa kurang dan ketagihan untuk menuntut lebih. Sementara itu, ketenangan melahirkan rasa berkecukupan (qana’ah) dan stabilitas emosi, di mana seseorang mampu bersyukur atas apa yang ada tanpa didekte oleh nafsu materi.
Dokter Uci juga mengkritisi stigma keliru yang berkembang di tengah masyarakat modern, yang sering kali langsung melabeli penderita gangguan jiwa sebagai orang yang “kurang iman”, “kerasukan”, atau “ketempelan jin”. Pandangan simplistis ini dinilai sebagai sebuah kemunduran yang nyata jika dibandingkan dengan peradaban Islam di masa lampau. Pada zaman kejayaan Islam, para ilmuwan muslim justru menaruh perhatian yang sangat ilmiah, penuh kasih sayang, dan menempatkan gangguan jiwa sebagai bagian dari penyakit medis yang membutuhkan penanganan klinis secara profesional.
Sejarah mencatat nama-nama besar seperti Abu Yusuf Al-Kindi yang sejak tahun 800-an Masehi telah memelopori perbaikan depresi lewat restrukturisasi cara berpikir, yang menjadi cikal bakal Terapi Kognitif modern. Ada pula Al-Thabari yang menekankan pentingnya ikatan kepercayaan (trust) antara dokter dan pasien demi proses penyembuhan. Sementara itu, Profesor Abu Bakar Al-Razi (Rhazes) dikenal sebagai bapak kedokteran kesehatan mental karena keberhasilannya mendirikan rumah sakit dengan bangsal jiwa khusus di Baghdad, serta memelopori metode penyembuhan lewat musik yang lembut, lingkungan asri yang bersih, dan stimulasi kata-kata positif.
Ilmuwan muslim lainnya, Al-Balkhi, tercatat sebagai tokoh pertama yang berhasil mengklasifikasikan gangguan obsesif kompulsif (OCD) atau yang dalam istilah Islam dikenal sebagai penyakit was-was, lengkap dengan metode psikoterapinya. Tak ketinggalan, Ibnu Sina (Avicenna) dalam Kitab Asy-Syifa mengkaji secara mendalam tentang psikosomatik, yakni hubungan erat antara penyakit fisik dengan kondisi emosional pasien. Melalui fakta sejarah ini, Dokter Uci menunjukkan bahwa peradaban Islam dahulu telah mendirikan Bimaristan (rumah sakit kuno) yang memberikan perawatan komprehensif dan gratis karena kemakmuran negaranya, jauh sebelum dunia barat menerapkan sistem serupa.
Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk memahami bahwa rasa sedih, cemas, dan tertekan adalah bagian dari sifat kemanusiaan yang juga dialami oleh para nabi. Nabi Muhammad SAW pernah melewati Amul Huzni atau Tahun Kesedihan selama satu tahun penuh setelah wafatnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib. Nabi Yunus AS juga mengalami tekanan batin yang luar biasa saat terisolasi di dalam gelapnya perut ikan paus di dasar laut yang dalam. Peristiwa-peristiwa tersebut membuktikan bahwa mengalami masa-masa sulit secara emosional tidak serta-merta membuat keimanan seorang hamba dianggap runtuh atau cacat.
Dari kisah Nabi Ayub AS yang menderita penyakit berat, Islam memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya ikhtiar medis. Ketika Nabi Ayub mendapatkan wahyu untuk mandi dan minum dari mata air agar sembuh, beliau harus menggerakkan tubuhnya untuk melakukan perintah tersebut. Hal ini menjadi analogi bahwa jika seseorang mengalami gangguan pada nafs, qalbu, akal, maupun ruhnya, mereka tidak boleh hanya berdiam diri menanti keajaiban, melainkan wajib melakukan ikhtiar yang nyata, termasuk mencari pengobatan ke psikiater atau psikolog jika diperlukan.
Sebagai panduan praktis, Dokter Uci membagikan kiat islami dalam mengelola kecemasan dan depresi berdasarkan konsep dimensi waktu. Kecemasan umumnya terjadi ketika pikiran seseorang melompat terlalu jauh ke masa depan, merisaukan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sebaliknya, depresi sering kali dipicu oleh pikiran yang terikat pada penyesalan masa lalu. Islam membimbing umatnya untuk hidup di masa kini (here and now), menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya, serta berserah diri atas waktu yang sejatinya merupakan ciptaan Allah SWT yang berada di luar kendali mutlak manusia.
Langkah konkret yang bisa diambil saat menghadapi kecemasan adalah memperbanyak zikir yang disertai dengan rasa tumaninah dan pemahaman maknanya, khususnya kalimat istigfar. Secara psikologis, istigfar adalah bentuk pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang kecil dan tidak berdaya, sehingga harus menundukkan ego kesombongannya di hadapan Zat yang Maha Besar. Selain itu, merawat kesehatan jiwa juga harus didukung oleh regulasi fisik yang sehat, seperti mencontoh pola tidur Rasulullah SAW yang teratur selepas Isya serta menjaga porsi makan agar berhenti sebelum kenyang.

Pada akhir kajian Dokter Uci pesan tentang pentingnya self-care dan menetapkan batasan diri (boundary). Manusia berhak membatasi konsumsi hal-hal yang merusak tubuhnya, seperti paparan radiasi gawai yang berlebihan dan makanan yang tidak sehat. Lebih dari itu, Islam juga menghalalkan umatnya untuk menjaga jarak dari lingkungan atau hubungan sosial yang “toksik” demi menjaga ketenangan hati. Dengan menjaga keseimbangan akal, emosi, kepribadian, dan ruh, setiap individu diharapkan dapat memiliki jiwa yang sehat demi tujuan yang lebih mulia, yaitu mendekatkan diri kepada sang Pencipta.
Sumber: Ngaji Sehat di Masjid Al Akbar TV dengan judul “Memelihara Kesehatan Jiwa dari Pandangan Islam” yang disampaikan oleh psikiater dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ, Subsp.K.L(K), FISCM pada Jum’at 5 Juni 2026.