Membuka Keran Keberkahan Melalui Al-Qur’an dan Kemuliaan Ramadhan

Ustadz Ahmad Mudhoffar Jufri, Lc. MA
Ustadz Ahmad Mudhoffar Jufri, Lc. MA

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, ada satu kata yang sering diucapkan namun maknanya sangat dalam dan luas, yakni “berkah”. Keberkahan bukan sekadar angka yang melimpah atau raga yang selalu bugar, melainkan sebuah nilai ketetapan kebaikan yang bersumber langsung dari rida Sang Pencipta. Memahami hakikat berkah menjadi sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam mengejar kebahagiaan semu yang sering kali menipu pandangan mata.

Pembehasan mendalam mengenai urgensi keberkahan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Mudhoffar Jufri, Lc. MA dalam agenda Kultum Tarawih 1447 H malam ke-17. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Irsyad pada Sabtu, 7 Maret 2026 ini, mengajak para jamaah untuk merenungkan kembali posisi mereka di tengah bulan Ramadhan yang disebut sebagai Syahrun Mubarak atau bulan yang diberkahi.

Ustadz Ahmad membuka ceramahnya dengan mengutip hadis sahih riwayat Imam Ahmad yang menegaskan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas yang diberikan Allah. Di bulan ini, pintu surga dibuka selebar-lebarnya, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Semua itu merupakan fasilitas langit agar manusia bisa lebih fokus meraup keberkahan tanpa gangguan yang berarti.

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad menekankan bahwa yang paling kita butuhkan dalam hidup ini bukanlah sekadar umur panjang atau harta melimpah, melainkan keberkahan atas semua itu. Ia menjelaskan bahwa hidup tanpa barokah akan terasa hampa dan kering, meski secara lahiriah terlihat serba berkecukupan. Keberkahan adalah kunci yang mengubah hal sederhana menjadi bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

Definisi barokah menurut para ulama, sebagaimana dijelaskan dalam kajian tersebut, adalah subutul khairil ilahi atau menetapnya kebaikan standar Ilahi pada sesuatu. Hal ini mencakup peningkatan kebaikan (ziadatul khair), pertumbuhan yang positif (namauhu), serta kesinambungan yang terus berlanjut (istimraruhu). Jadi, berkah bukan sekadar ada, tapi ia terus bertumbuh dan memberi dampak positif.

Penting untuk digarisbawahi bahwa standar kebaikan dalam berkah adalah standar Allah, bukan standar manusia. Sering kali manusia menganggap sehat itu baik dan sakit itu buruk, atau kaya itu barokah dan miskin itu tidak. Padahal, banyak kebaikan semu yang justru menjauhkan manusia dari Tuhannya, sehingga kebaikan hakiki hanya bisa diukur dari sejauh mana hal tersebut mendatangkan rida-Nya.

Ustadz Ahmad memberikan ilustrasi sederhana mengenai harta yang berkah. Meskipun jumlah nominalnya sama, misalnya satu juta rupiah, harta yang berkah akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas dan menenangkan hati pemiliknya. Sebaliknya, harta tanpa berkah mungkin akan habis begitu saja tanpa meninggalkan jejak kebaikan atau justru mendatangkan masalah yang tidak berujung.

Dalam konteks Ramadhan, Ustadz Ahmad mengajak jamaah untuk melakukan “tabarruk” atau mencari berkah dengan cara yang benar. Ia mengamati fenomena di mana banyak orang mencari keberkahan ke berbagai tempat yang tidak jelas sumbernya. Padahal, sumber keberkahan yang paling nyata dan dekat ada pada dua hal utama: bulan Ramadhan itu sendiri dan Al-Qur’an.

Al-Qur’an disebut sebagai kitab yang penuh berkah (Mubarak), sehingga berinteraksi dengannya adalah cara paling efektif untuk menarik keberkahan ke dalam hidup. Dengan membaca, mendengarkan, dan merenungkan ayat-ayat suci Al-Qur’an selama Ramadhan, seorang hamba sebenarnya sedang membuka keran keberkahan untuk waktu, keluarga, dan seluruh aspek kehidupannya tanpa perlu biaya besar.

Memasuki fase akhir Ramadhan, perhatian jamaah diarahkan pada puncaknya keberkahan, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik dari seribu bulan, yang berarti nilai keberkahannya sangat luar biasa. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikan malam tersebut, maka ia benar-benar telah dijauhkan dari rahmat Allah yang luas, sebuah kerugian besar bagi seorang mukmin.

Ustadz Ahmad mengingatkan bahwa sisa waktu di bulan suci ini harus dimanfaatkan dengan semangat fastabiqul barokat atau berlomba-lomba meraih keberkahan. Jangan sampai detik demi detik berlalu tanpa adanya kesadaran bahwa setiap waktu di bulan Ramadhan adalah peluang emas untuk memperbaiki kualitas hidup di hadapan Allah Ta’ala.

Sebagai penutup, ia berharap agar keberkahan yang diraih selama Ramadhan, khususnya dari Lailatul Qadar, dapat menjadi bekal untuk menyinari sebelas bulan berikutnya. Dengan hidup yang penuh berkah, setiap langkah kaki dan urusan duniawi kita akan senantiasa berada dalam bimbingan dan perlindungan Allah hingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun mendatang.

Sumber: Kultum tarawih malam ke-17 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Irsyad yang disampaikan oleh Ust. Ahmad Mudhoffar Jufri, Lc. MA

E-Buletin