Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Muharram atau yang akrab disurakan sebagai bulan Suro oleh masyarakat Jawa sering kali diselimuti oleh atmosfer yang sakral sekaligus mistis. Di sebagian kalangan, terutama di wilayah pelosok pedesaan, muncul anggapan bahwa bulan ini memuat pantangan besar untuk menggelar hajat atau acara sukaria seperti pernikahan karena dikhawatirkan mendatangkan petaka. Untuk mengurai benang kusut mitos tersebut, sebuah kajian subuh bertajuk “Muharram Bulan Kebaikan” digelar di Masjid As Sakinah, Pantai Mentari, Surabaya, pada Minggu, 5 Juli 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustadz H. M. Junaidi Sahal, M.Ag.
Dalam pemaparannya, Ustadz Junaidi menegaskan bahwa Muharram secara logis dan syariat adalah bulan yang sangat baik karena menyandang status sebagai syahrullah atau bulannya Allah. Jika sebuah waktu sudah ditetapkan sebagai waktu yang baik, maka secara otomatis segala aktivitas kebaikan yang dilakukan di dalamnya akan bernilai positif dan mendatangkan pahala yang berlipat ganda. Oleh karena itu, kekhawatiran berlebih masyarakat untuk melaksanakan pernikahan atau kegiatan mulia lainnya di bulan Muharram dinilai kurang berdasar dan perlu diluruskan secara bijak.
Ada tiga alasan utama mengapa Muharram memegang kedudukan sebagai bulan yang penuh kebaikan dan keutamaan. Alasan pertama adalah karena Muharram merupakan satu-satunya nama bulan dalam kalender Hijriah yang paling islami dan lahir langsung dari lisan Rasulullah SAW. Perlu diketahui bahwa nama-nama bulan lainnya—termasuk Ramadan, Safar, maupun Rajab—sebenarnya sudah digunakan oleh masyarakat Arab kuno sejak zaman pra-Islam atau masa Jahiliah.
Nabi Muhammad SAW memberikan nama Muharram untuk menggantikan nama asli bulan tersebut, yaitu Safar Awal. Penggantian nama ini bukan tanpa sebab, melainkan untuk meruntuhkan sisa-sisa keyakinan kaum jahiliah yang menganggap bulan Safar Awal sebagai waktu penuh bala, musibah, dan petaka. Melalui perubahan nama menjadi Muharram, Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi khurafat dan ramalan buruk dalam ajaran Islam yang membawa cahaya kebenaran.
Alasan kedua terletak pada filosofi urutan penanggalannya yang dibakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah Umar secara sengaja menempatkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, tepat berdempetan setelah bulan Zulhijah yang merupakan bulan ke-12. Penempatan ini membawa pesan mendalam agar umat Islam mengawali tahun baru dengan spirit perubahan atau hijrah yang kuat, berkaca pada momentum hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.
Lebih jauh lagi, gandengan antara Zulhijah dan Muharram mengajarkan bahwa sebuah kesuksesan di tahun yang baru hanya bisa diraih melalui pengorbanan dan kesabaran yang matang. Bulan Zulhijah diisi dengan ibadah-ibadah yang membutuhkan pengorbanan besar, seperti ibadah haji dan kurban. Suksesnya pengorbanan serta keteguhan sabar yang ditempa di akhir tahun tersebut diproyeksikan menjadi modal utama dan energi positif untuk meraih keberhasilan hidup sepanjang setahun ke depan yang dimulai sejak tanggal satu Muharram.
Alasan ketiga yang menjadikan bulan ini begitu mulia adalah keberadaan Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Ustadz Junaidi menjelaskan dari sisi kebahasaan bahwa kata Asyir (artinya kesembilan/kesepuluh) bisa ditemukan di semua bulan, tetapi istilah khusus Asyura hanya disematkan untuk hari ke-10 di bulan Muharram karena keagungan harinya. Pada hari Asyura ini, Rasulullah SAW justru menganjurkan umatnya untuk berpuasa sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan besar Nabi Musa AS saat diselamatkan dari kejaran Firaun.
Melihat landasan syariat yang begitu terang, lalu dari manakah asal-usul mitos mistis “Malam Satu Suro” yang berkembang di tengah masyarakat Jawa? Sejarah mencatat bahwa integrasi kalender Islam ke tanah Jawa diinisiasi oleh Sultan Agung, Raja Mataram Muslim. Sultan Agung menyesuaikan pelafalan kata “Asyura” menjadi “Suro” agar lebih mudah diucapkan oleh lidah masyarakat Jawa, sekaligus menetapkan malam satu Suro sebagai momentum refleksi diri yang penuh kemuliaan (karomah).
Sultan Agung sengaja menghidupkan tradisi malam tahun baru Islam yang sakral demi menandingi budaya pesta pora dan mabuk-mabukan yang biasa dilakukan oleh penjajah Belanda saat merayakan tahun baru Masehi (Gregorian). Sayangnya, setelah Sultan Agung wafat, pihak VOC/Belanda melakukan pengondisian opini (framing) secara sistematis untuk mengaburkan nilai luhur tersebut. Mereka mengubah citra malam satu Suro yang semula dianggap penuh keberkahan menjadi sesuatu yang berbau klenik, mistis, dan menakutkan agar umat Islam menjauhinya.
Framing negatif warisan kolonial ini kemudian terus terawat dari generasi ke generasi, bahkan semakin diperparah oleh industri budaya populer modern, seperti kemunculan film-film horor bertema “Malam Satu Suro” pada era tahun 1980-an. Akibatnya, masyarakat luas hingga saat ini kerap salah kaprah dan menyamakan kesakralan bulan Suro dengan tempat berkumpulnya makhluk halus, mirip dengan salah kaprahnya masyarakat menilai area pekuburan sebagai tempat yang angker.
Di sisi lain, dalam sesi tanya jawab, Ustadz Junaidi juga mengklarifikasi anggapan bahwa pantangan bersuka cita di bulan Suro disebabkan oleh suasana berkabung atas tragedi Karbala—yakni terbunuhnya cucu Nabi, Imam Husain, pada 10 Muharram. Beliau menjelaskan bahwa secara syariat, Islam tidak mengenal konsep hari duka nasional tahunan yang membatasi kebahagiaan umat. Munculnya tradisi duka di bulan Muharram ini lebih dipengaruhi oleh masuknya sebagian kelompok Syiah ke tanah Jawa pada masa lampau, padahal Rasulullah SAW sendiri memerintahkan puasa Asyura dengan spirit kemenangan dan optimisme.

Sebagai penutup, kajian subuh ini mengingatkan jemaah bahwa Muharram adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak amal saleh, bersedekah, dan menolong sesama karena kemuliaan waktunya. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan adalah komitmen untuk menjaga diri dari segala bentuk perbuatan dosa dan kezaliman di bulan haram ini. Sebab, sebagaimana pahala ibadah yang dilipatgandakan, dampak buruk dari dosa yang dilakukan di bulan Muharram pun akan diganjar dengan bobot yang jauh lebih berat.
Sumber: Kajian subuh bertajuk “Muharram Bulan Kebaikan” yang disampaikan oleh Ustadz H. M. Junaidi Sahal, M.Ag di Masjid As Sakinah, Pantai Mentari, Surabaya, pada Sabtu 5 Juli 2026.