Membedah Hadits 36 Arbain Nawawi: Kunci Keberkahan Melalui Tolong Menolong Sesama Muslim

Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA, Ph.D,
Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA, Ph.D,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia sering kali menjadi tempat yang penuh dengan himpitan persoalan, mulai dari beban ekonomi hingga urusan sosial yang menguras energi. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Islam menawarkan solusi spiritual sekaligus sosial yang luar biasa melalui konsep tolong-menolong antar sesama mukmin. Sebuah kajian mendalam baru-baru ini mengupas tuntas bagaimana setiap kebaikan kecil yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita dalam bentuk kemudahan yang jauh lebih besar di akhirat kelak.

Kajian subuh yang mencerahkan ini dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertempat di Masjid Al Falah, Surabaya. Hadir sebagai narasumber adalah Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA, Ph.D, yang secara spesifik membedah Hadits ke-36 dari kitab Arbain An-Nawawi. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa tema utama hadits ini adalah tentang menghilangkan kesulitan kaum muslimin dan keutamaan menuntut ilmu sebagai jalan pintas menuju surga.

Ustadz Wafi membuka penjelasan dengan membacakan potongan hadits yang menyatakan bahwa barang siapa melapangkan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melapangkan kesulitannya di hari kiamat. Hal ini merujuk pada kaidah al-jazau min jinsil amal, yang berarti balasan yang diterima seseorang akan setara dan sejenis dengan amal perbuatan yang ia lakukan. Jika kita memudahkan urusan orang lain, maka Allah pun tidak akan mempersulit urusan kita.

Dalam konteks kehidupan modern, kesulitan yang dimaksud bisa sangat beragam. Beliau memberikan contoh nyata seperti membantu orang yang terjerat hutang, menutupi rasa lapar sesama, hingga membantu biaya pengobatan atau pendidikan anak-anak yang kurang mampu. Tindakan-tindakan sosial ini bukan sekadar bantuan kemanusiaan biasa, melainkan investasi akhirat yang akan menjadi penyelamat saat manusia menghadapi masa-masa tersulit di padang mahsyar.

Ustadz Wafi kemudian memberikan gambaran yang menggetarkan hati mengenai dahsyatnya hari kiamat untuk menekankan betapa butuhnya manusia akan pertolongan Allah. Beliau menjelaskan bahwa di padang mahsyar kelak, matahari akan berada sangat dekat di atas kepala, hingga manusia tenggelam dalam keringatnya sendiri. Dalam kondisi yang penuh sesak dan tanpa perlindungan tersebut, bantuan Allah yang datang berkat amal baik di dunia menjadi sangat krusial.

Lebih lanjut, beliau mengisahkan betapa lamanya waktu di akhirat dibandingkan dengan singkatnya umur dunia. Mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, Ustaz Wafi menjelaskan bahwa kehidupan dunia yang puluhan tahun ini kelak hanya akan terasa seperti sesaat di waktu siang atau waktu dhuha saja. Penjelasan ini mengajak jemaah untuk sadar bahwa waktu yang terbatas di dunia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menabung amal salih melalui ibadah muta’addiyah atau amal yang manfaatnya dirasakan orang banyak.

Kajian ini juga menyoroti pentingnya menjaga kehormatan sesama dengan cara menutupi aib seorang muslim. Ustaz Wafi menegaskan bahwa barang siapa yang menjaga rahasia dan kejelekan saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, beliau memberikan pengecualian bagi pelaku maksiat yang melakukannya secara terang-terangan dan meresahkan, di mana tindakan tegas terkadang diperlukan sebagai pelajaran sosial.

Prinsip lain yang ditekankan adalah bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai hamba-Nya selama hamba tersebut mau menolong saudaranya. Hal ini menjadi jaminan spiritual bagi siapa saja yang merasa hidupnya sedang buntu atau sulit. Dengan cara keluar dari zona nyaman untuk membantu orang lain, secara otomatis pintu-pintu pertolongan langit akan terbuka lebar bagi dirinya sendiri.

Selain sisi sosial, Ustadz Wafi juga membahas bagian hadits mengenai keutamaan menuntut ilmu. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah kaki yang diayunkan menuju majelis ilmu adalah langkah yang dimudahkan Allah menuju surga. Ilmu syar’i berfungsi sebagai kompas yang membedakan mana yang hak dan batil, sehingga seseorang tidak akan tersesat dalam melangkah di dunia yang penuh fitnah ini.

Suasana majelis ilmu di Masjid Al Falah digambarkan sebagai tempat turunnya ketenangan atau sakinah. Ustadz Wafi menyebutkan bahwa para malaikat mengerubungi majelis ilmu hingga ke langit dan mendoakan para penuntut ilmu yang hadir. Oleh karena itu, beliau mengimbau jemaah untuk memperbanyak doa saat berada di dalam kajian, karena saat itulah waktu-waktu mustajab di mana permohonan hamba diamini oleh para malaikat.

Di akhir kajian, Ustadz Wafi mengingatkan agar kita tidak hanya mengandalkan nasab atau garis keturunan yang mulia. Beliau menegaskan potongan hadits yang menyebutkan bahwa barang siapa yang lambat amal perbuatannya, maka kemuliaan nasabnya tidak akan mampu mempercepatnya masuk ke surga. Hal ini menjadi pengingat bahwa di hadapan Allah, prestasi iman dan amal salih jauh lebih tinggi nilainya daripada status sosial di dunia.

Sumber: Kajian subuh di Masjid Al Falah Surabaya bersama Ustadz Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA, Ph.D membahas Hadits ke-36 dari kitab Arbain An-Nawawi

E-Buletin