Membangun Paradigma Solidaritas Islam dan Kemanusiaan untuk Kemaslahatan Bersama

Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA
Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya  -Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, esensi agama sering kali terjebak dalam ritualitas formal semata. Namun, sebuah pesan kuat mengenai keseimbangan antara spiritualitas pribadi dan tanggung jawab sosial kembali menggema dari mimbar masjid. Tulisan ini merangkum esensi penting mengenai bagaimana iman seharusnya bertransformasi menjadi aksi nyata dalam bentuk solidaritas kolektif demi kemaslahatan umat manusia secara luas.

Pada pelaksanaan ibadah salat Jumat tanggal 23 Januari 2026 di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA menyampaikan khutbah mendalam bertajuk “Membangun Solidaritas untuk Kemaslahatan Bersama”. Dalam durasi sekitar 25 menit, beliau mengajak jemaah untuk merefleksikan kembali peran individu dalam struktur sosial yang lebih besar, terutama saat menghadapi berbagai ujian zaman yang kian beragam.

Prof. Syafiq  mengawali khutbahnya dengan menekankan bahwa kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari ujian Allah, baik yang bersifat personal maupun kolektif. Ujian tersebut bisa datang dalam bentuk bencana alamiah seperti gempa bumi dan erupsi, hingga malapetaka yang justru dipicu oleh tangan-tangan manusia yang tidak mengindahkan kelestarian alam. Kesadaran akan kerentanan ini seharusnya menjadi titik awal bagi setiap individu untuk saling menguatkan.

Dalam pandangan Islam yang disampaikan Prof. Syafiq, beragama secara baik tidak cukup hanya dengan mengandalkan kesalehan individual atau hablum minallah. Meskipun salat dan doa adalah bentuk komunikasi intim antara hamba dengan Sang Pencipta, kualitas iman seseorang juga sangat ditentukan oleh bagaimana ia menjalin hubungan baik dengan sesama manusia atau hablum minannas.

Prof. Syafiq menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh hidup secara individualistik dan hanya mementingkan diri sendiri. Peringatan keras dari Allah menyebutkan bahwa fitnah atau bencana sering kali tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat zalim saja, melainkan bisa berdampak luas kepada orang-orang saleh di sekitarnya. Oleh karena itu, menjaga kebaikan lingkungan sosial menjadi tanggung jawab bersama untuk menghindari dampak buruk kolektif.

Terdapat dua dimensi solidaritas atau at-tadamun yang perlu dibangun secara beriringan. Pertama adalah at-tadamun al-islami atau solidaritas keislaman, di mana setiap muslim memiliki tanggung jawab moral untuk memperhatikan kepentingan saudaranya yang seiman. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa umat Islam adalah satu kesatuan yang dipersatukan oleh tauhid dan ajaran nabi yang sama.

Namun, solidaritas tersebut tidak boleh bersifat eksklusif. Dimensi kedua yang ditekankan adalah at-tadamun al-insani atau solidaritas kemanusiaan. Dalam dimensi ini, bantuan dan kepedulian harus diberikan kepada siapa saja yang menderita tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun bangsa. Islam menjunjung tinggi martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Tuhan, sehingga nilai kemanusiaan bersifat universal.

Beliau juga mengingatkan kembali sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa seseorang belum bisa dikatakan beriman secara sempurna jika ia bisa tidur dengan tenang dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya sedang menderita kelaparan. Pesan ini menjadi kritik tajam bagi gaya hidup modern yang sering kali membuat orang buta terhadap kesulitan yang dialami oleh orang-orang di lingkungan terdekatnya.

Lebih jauh lagi, solidaritas juga mencakup konsep pembelaan. Khatib mengutip prinsip untuk menolong saudara baik yang sedang didzalimi maupun yang berbuat zalim. Menolong orang yang didzalimi berarti melakukan advokasi terhadap mereka yang didiskriminasi atau diperlakukan tidak adil secara hukum dan sosial. Sebaliknya, menolong orang yang zalim adalah dengan memberikan nasihat agar mereka berhenti dari perbuatannya.

Wujud nyata dari solidaritas ini dapat dilakukan sesuai dengan kapasitas masing-masing individu. Bagi mereka yang memiliki kelebihan ekonomi, bantuan finansial adalah jalan utama. Bagi para ahli ilmu, memberikan nasihat dan wejangan yang menguatkan mental adalah bentuk kontribusi nyata. Sementara bagi para pemegang kekuasaan, solidaritas diwujudkan melalui kebijakan dan undang-undang yang berorientasi pada keadilan sosial.

Prof. Syafiq juga memberikan catatan mengenai fenomena humanisme sekuler di beberapa negara maju, di mana solidaritas dibangun semata-mata atas dasar kemanusiaan tanpa mengaitkannya dengan tuhan. Bagi umat Islam, solidaritas kemanusiaan harus melampaui itu; setiap tindakan baik harus diniatkan sebagai ibadah dan amal saleh yang didorong oleh keimanan agar memiliki nilai ukhrawi di akhirat nanti.

Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Al Akbar oleh Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA dengan tema “Membangun Solidaritas untuk Kemaslahatan Bersama”.

E-Buletin