KabarMasjid.id, Solo – Seringkali kita merasa tidak maksimal saat menjalani ibadah di bulan Ramadan karena kurangnya persiapan fisik dan mental. Padahal, para ulama terdahulu telah memberikan rumus tentang bagaimana mengelola waktu menjelang bulan suci tersebut melalui momentum bulan-bulan haram. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kedatangan bulan Rajab sebagai pintu awal untuk membersihkan diri dan menata niat kembali.
Kajian rutin bertajuk “Nasehat Salaf” yang diselenggarakan pada Kamis pagi, 8 Januari 2026, di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta, mengupas tuntas mengenai hal ini. Bersama narasumber Ustadz Abdurrahman Umar Assegaf, jamaah diajak untuk menyelami kembali makna mendalam dari kehadiran bulan Rajab di tengah kalender Hijriah. Beliau menekankan bahwa waktu-waktu yang kita lalui saat ini bukanlah sekadar pergantian hari biasa, melainkan kesempatan emas yang diberikan Allah SWT untuk meningkatkan kualitas spiritual.
Dalam pemaparannya, Ustadz Abdurrahman menjelaskan bahwa Rajab termasuk dalam empat bulan yang diharamkan atau dimuliakan oleh Allah. Keistimewaan bulan-bulan haram ini terletak pada pelipatgandaan balasan atas segala amal yang dilakukan manusia. Ketika seorang hamba melakukan satu kebaikan di bulan ini, maka pahalanya jauh lebih besar dibandingkan bulan lainnya, sehingga ini menjadi momentum terbaik untuk “mencuri start” dalam mengumpulkan bekal akhirat.
Namun, di sisi lain, beliau juga memberikan peringatan keras atau warning kepada para jamaah. Konsekuensi dari kemuliaan bulan Rajab adalah dilipatgandakannya pula dosa bagi mereka yang melakukan kemaksiatan. Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak bermain-main dengan dosa di waktu yang suci ini, karena menjauhkan diri dari perintah Allah di bulan haram akan memberikan dampak yang lebih berat bagi jiwa dan catatan amal seseorang.
Ustadz Abdurrahman kemudian mengutip filosofi indah para salaf tentang keterkaitan antara Rajab, Syakban, dan Ramadan. Beliau mengibaratkan bulan Rajab sebagai waktu untuk menanam benih, sementara Syakban adalah waktu untuk menyirami dan memupuk tanaman tersebut. Puncaknya adalah bulan Ramadan, di mana seorang hamba tinggal memanen hasil dari apa yang telah ia tanam dan rawat dengan konsisten selama dua bulan sebelumnya.
Tanpa persiapan yang matang sejak bulan Rajab, mustahil seseorang bisa meraih kesempurnaan ibadah di bulan Ramadan. Ustadz Abdurrahman menggarisbawahi bahwa kekhusyukan dan kekuatan fisik dalam beribadah memerlukan latihan atau pembiasaan. Jika kita baru memulai “pemanasan” tepat saat Ramadan tiba, seringkali energi kita sudah habis di pertengahan jalan, atau bahkan gagal merasakan manisnya iman karena hati yang belum terbiasa.
Lebih lanjut, kajian ini menyoroti fenomena psikologis umat Islam dalam beribadah yang cenderung “musiman”. Ustadz Abdurrahman mencermati bahwa banyak orang hanya fokus beribadah secara intensif saat sedang memiliki hajat besar atau terhimpit masalah hidup, seperti kesulitan ekonomi atau urusan keluarga. Begitu masalah selesai dan hajat dikabulkan, semangat ibadah tersebut seringkali luntur dan kembali pada kelalaian.
Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat-Nya dalam segala kondisi, baik saat senang maupun susah. Ibadah yang sejati adalah yang dilakukan dengan penuh rasa syukur saat lapang, bukan hanya karena desakan kebutuhan saat sempit. Dengan menjaga kedekatan kepada Allah di waktu bahagia, maka Allah akan memberikan pertolongan yang luar biasa di saat kita benar-benar membutuhkannya.
Inti dari seluruh perjalanan spiritual ini, menurut Ustadz Abdurrahman, bermuara pada satu tiang utama yaitu shalat. Beliau menegaskan bahwa shalat bukan hanya kewajiban rutin, melainkan tolok ukur utama dalam kehidupan seorang muslim. Jika seseorang ingin memperbaiki kualitas hidupnya, urusan rezekinya, hingga ketenangan dalam rumah tangganya, maka ia harus memulai dengan memperbaiki kualitas shalatnya terlebih dahulu.
Tanggung jawab menjaga shalat ini tidak hanya berhenti pada diri sendiri, tetapi juga mencakup seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang bekerja di rumah kita. Ustadz Abdurrahman mengingatkan agar para kepala rumah tangga memperhatikan shalat istri, anak, hingga asisten rumah tangga atau karyawan. Kelalaian orang-orang di sekitar kita dalam beribadah bisa menjadi penghalang datangnya keberkahan atau bahkan menjadi sebab turunnya ujian bagi keluarga tersebut.
Terkait pelaksanaan shalat, beliau memberikan motivasi mengenai keutamaan shalat berjamaah. Meskipun terkadang imam atau makmum merasa kurang khusyuk karena pikiran yang terbagi, Allah SWT tetap memberikan jaminan penerimaan atas shalat yang dilakukan secara berjamaah. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya tetap mendapatkan pahala yang sempurna melalui kebersamaan di masjid.
Sebagai penutup kajian, Ustadz Abdurrahman Umar Assegaf mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa berdoa agar diberikan akhir hayat yang baik atau husnul khatimah. Beliau berharap agar setiap usaha kita memperbaiki diri sejak bulan Rajab ini menjadi saksi bahwa kita wafat dalam keadaan sedang menyembah Allah. Kajian ini pun diakhiri dengan lantunan selawat dan doa yang menghidupkan suasana syahdu di Masjid Jami’ Assagaf.
Sumber Kajian Pagi Masjid Jami’ Assagaf Bersama Ustadz Abdurrahman Umar Assegaf bertajuk “Nasehat Salaf”