Memahami Hubungan Spiritual, Personal, dan Sosial dalam Ibadah Puasa

KH Ahmad Mujab Muthohar  atau Gus Mujab
KH Ahmad Mujab Muthohar  atau Gus Mujab

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjalani ibadah puasa Ramadan bukan sekadar menahan haus dan lapar dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, Ramadan adalah madrasah spiritual yang dirancang untuk mengubah karakter dan jati diri seorang mukmin menjadi lebih baik. Melalui proses menahan diri, setiap individu diajak untuk melakukan refleksi mendalam mengenai hakikat keberadaannya di hadapan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Suasana khidmat menyelimuti ruang utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Ahad, 8 Maret 2026, bertepatan dengan 18 Ramadan 1447 H. Dalam rangkaian acara Ngaji Ngabuburit bertajuk “Healing Ramadan”, KH Ahmad Mujab Muthohar  atau Gus Mujab hadir untuk membedah tema menarik mengenai “Segitiga Transformasi Puasa”. Kajian ini memberikan perspektif baru bagi para jamaah tentang bagaimana memaksimalkan sisa hari di bulan suci untuk meraih derajat takwa yang hakiki.

Gus Mujab mengawali pemaparannya dengan menekankan bahwa manusia dibekali tiga instrumen utama oleh Allah SWT, yaitu akal, hati, dan nafsu. Akal berfungsi sebagai kompas untuk membedakan benar dan salah, sementara nafsu berperan sebagai energi penggerak dalam kehidupan. Di antara keduanya, hati hadir sebagai alarm otomatis sekaligus penengah yang menentukan apakah seseorang akan condong pada kebaikan atau justru terjerumus dalam keburukan.

Menariknya, Gus Mujab menggunakan tamsil atau perumpamaan dari dunia binatang untuk menggambarkan efektivitas puasa seseorang. Beliau membandingkan transformasi antara ulat dan ular. Ulat yang awalnya dianggap menjijikkan dan merusak daun, mau menjalani tirakat panjang dalam kepompong tanpa makan dan minum. Hasilnya, ia bertransformasi menjadi kupu-kupu yang indah, disukai semua orang, dan hanya hinggap di tempat-tempat yang bersih.

Sebaliknya, ada pula puasa yang diibaratkan seperti ular. Seekor ular juga melakukan puasa saat akan berganti kulit, namun setelah proses itu selesai, tidak ada perubahan mendasar pada karakternya. Ular tetaplah binatang pemangsa yang berbisa dan membahayakan. Gus Mujab mengingatkan jamaah agar puasa Ramadan jangan sampai hanya sekadar “ganti kulit” lahiriah tanpa menyentuh perubahan karakter batiniah.

Masuk ke inti materi, Gus Mujab menjelaskan dimensi pertama dari Segitiga Transformasi Puasa, yaitu dimensi spiritual. Puasa adalah sarana (wasilah) paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Melalui ibadah ini, hubungan vertikal seorang hamba diperkuat, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan senantiasa berorientasi pada rida Ilahi dan peningkatan kualitas iman yang berkelanjutan.

Dimensi kedua adalah transformasi personal yang menyentuh ranah kejujuran dan disiplin diri. Puasa melatih seseorang untuk jujur pada diri sendiri karena hanya ia dan Tuhan yang tahu apakah ia benar-benar berpuasa atau tidak. Mengutip Imam Ghazali, Gus Mujab menyebutkan tingkatan puasa mulai dari umum, khusus, hingga khususil khusus, di mana level tertinggi adalah ketika seseorang mampu menjaga hatinya dari niat buruk.

Sementara itu, dimensi ketiga adalah transformasi sosial. Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa seharusnya mampu memicu empati yang besar terhadap nasib sesama yang kurang beruntung. Transformasi ini menuntut seorang mukmin untuk tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, ringan tangan dalam membantu, dan peduli terhadap penderitaan orang lain di sekitarnya.

Dalam sesi tanya jawab, muncul pembahasan mengenai keringanan (rukhsah) bagi pekerja keras seperti kuli bangunan atau sopir jarak jauh. Gus Mujab menjelaskan dengan bijak bahwa secara fikih, mereka tetap wajib berniat dan bersahur. Jika di tengah pekerjaan mereka benar-benar merasa lemas dan membahayakan kesehatan, barulah diperbolehkan membatalkan puasa untuk kemudian menggantinya (qada) di hari lain saat sedang libur.

Beliau juga meluruskan persepsi mengenai etika berzikir dan membaca Al-Qur’an. Meskipun berzikir dalam keadaan suci memiliki keutamaan yang lebih besar, namun secara hukum diperbolehkan bagi seseorang untuk tetap mengingat Allah meskipun belum berwudu. Hal ini ditekankan agar tidak ada alasan bagi umat untuk berhenti berzikir atau mendengarkan kajian ilmu di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari.

Menjelang akhir kajian, suasana semakin syahdu saat Gus Mujab mengajak jamaah untuk mengevaluasi perjalanan puasa yang sudah melewati angka 50 persen. Beliau mengingatkan bahwa sebentar lagi umat Islam akan memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, masa di mana terdapat malam Lailatul Qadar. Transformasi yang telah dilatih sejak awal bulan harus semakin diperkuat agar tidak memudar saat Ramadan berlalu.

Sebagai kesimpulan, transformasi yang dihasilkan oleh puasa haruslah bersifat integratif, mencakup perbaikan hubungan dengan Tuhan, perbaikan kualitas diri, dan kontribusi nyata bagi sosial. Jika ketiga dimensi ini terpenuhi, maka janji Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183 untuk membentuk pribadi yang bertakwa akan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.

Sumber: Ngaji Ngabuburit di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Bersama KH Ahmad Mujab Muthohar dengan tema utama “Segitiga Transformasi Puasa”.

E-Buletin