Meluruskan Salah Kaprah Nama Malaikat Izrail dan Ridwan Berdasarkan Dalil Sahih

Ustadz Fuad Baswedan, M.Pd.I.
Ustadz Fuad Baswedan, M.Pd.I.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Umat Islam tentu tidak asing dengan rukun iman yang kedua, yaitu iman kepada malaikat. Namun, dalam realitas kehidupan beragama, masih banyak kesalahpahaman yang terjadi mengenai hakikat, tugas, hingga nama-nama dari makhluk ciptakan Allah yang satu ini. Pemahaman yang keliru atau sekadar ikut-ikutan tanpa landasan dalil yang sahih dapat mencederai kemurnian akidah seorang Muslim. Untuk mengupas tuntas perkara fundamental ini, mari kita simak sari pati bimbingan dari kitab akidah yang sangat monumental.

Kajian mendalam mengenai urgensi iman kepada malaikat ini disampaikan oleh Ustadz Fuad Baswedan, M.PD.I. dalam program pembahasan kitab Aqidah Wasithiyah. Kajian ilmiah ini berlangsung pada hari Senin, 1 Juni 2026, bertempat di Masjid Syafi’i, Surabaya. Melalui penjelasannya, Ustad Fuad membedah bagaimana semestinya seorang Muslim mendudukkan keimanan kepada malaikat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus meluruskan berbagai persepsi keliru yang telanjur beredar di tengah masyarakat.

Pada awal pembahasannya, Ustadz Fuad memaparkan sejarah penyimpangan aqidah yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy terdahulu. Mereka secara serampangan menganggap malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah (banatullah) dan bahkan menjadikannya sebagai objek sesembahan. Penyimpangan berlebihan terhadap makhluk ini serupa dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang menuhankan nabi-nabi mereka, suatu bentuk kesyirikan yang sangat dikecam dalam Islam karena memalingkan hak peribadatan dari Allah semata.

Selain kaum musyrikin, penyimpangan akidah yang tidak kalah berbahaya juga datang dari kalangan filosof masa lalu, seperti Ibnu Sina. Ustadz Fuad menjelaskan bahwa para filosof memandang malaikat bukan sebagai makhluk fisik yang nyata, melainkan hanya simbol kekuatan rohani atau spirit kebaikan yang muncul dari dalam diri manusia. Akibat racun filsafat ini, mereka juga mengeklaim bahwa maqam kenabian bisa diraih siapa saja melalui latihan, tapa, atau amalan khusus, sebuah keyakinan kufur yang merusak tatanan wahyu.

Lebih jauh lagi, kelompok ahli filsafat dan ahli kalam ini sampai berani mengingkari keterpaduan fisik malaikat yang disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya terkait kepemilikan sayap. Ketika Allah menegaskan dalam Surah Fatir bahwa malaikat memiliki sayap berjumlah dua, tiga, atau empat, para filosof menolaknya dengan logika buatan manusia. Mereka berdalih bahwa jika jumlah sayap ganjil, maka terbangnya malaikat tidak akan stabil, sebuah bentuk kelancangan yang mendahulukan akal di atas dalil sam’iyyat.

Penyimpangan dalam menyikapi malaikat ternyata tidak hanya monopoli masa lalu, melainkan juga terjadi pada kaum Yahudi yang memelihara kebencian historis kepada Malaikat Jibril. Kaum Yahudi memusuhi Jibril karena ia kerap ditugaskan oleh Allah untuk membawa azab dan hukuman bagi bangsa-bangsa yang ingkar. Salah satu contoh kedahsyatan yang dibenci mereka adalah saat Jibril membalikkan bumi kaum Nabi Luth hanya dengan satu sayapnya hingga membentuk area yang kini dikenal sebagai Laut Mati.

Tidak kalah memprihatinkan, fenomena mengolok-olok malaikat juga kerap dijumpai di kalangan umat Islam yang awam atau jahil. Ustadz Fuad mencontohkan bagaimana hadis sahih riwayat Bukhari tentang malaikat yang melaknat istri yang menolak ajakan ranjang suaminya sering menjadi bahan ejekan. Orang-orang bodoh ini mencela dengan kalimat satire seperti mempertanyakan mengapa malaikat repot-repot ikut campur urusan domestik rumah tangga orang lain, tanpa mau memahami pesan syariat di baliknya.

Untuk membentengi diri dari pemikiran nyeleneh tersebut, kajian ini menegaskan kembali hakikat malaikat yang sesungguhnya menurut Islam. Secara istilah, malaikat adalah makhluk gaib hamba Allah yang diciptakan murni dari cahaya (nur). Berdasarkan asal katanya, Malaikah mencerminkan kekuatan yang luar biasa sekaligus bermakna utusan (arusul). Walau memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya, mereka sama sekali tidak punya sifat ketuhanan (rububiyah) dan tidak mengetahui hal-hal gaib kecuali yang Allah wahyukan.

Ustadz Fuad kemudian menekankan bahwa iman kepada malaikat bukanlah sekadar hafalan teori, melainkan harus memberikan urgensi dan pengaruh nyata pada kepribadian. Seseorang yang benar-benar meyakini adanya malaikat pencatat amal (Kiramul Katibin) di sisi kanan dan kirinya pasti akan menjaga lisannya dengan sangat hati-hati. Kesadaran bahwa tidak ada satu pun kata yang luput dari catatan gaib ini memicu perubahan spiritual yang mendalam agar manusia selalu mawas diri.

Urgensi keimanan ini juga memengaruhi bagaimana seorang Muslim menata lingkungan tempat tinggalnya. Orang yang percaya bahwa malaikat rahmat membawa keberkahan dan ketenangan dari Allah tentu akan menjaga kebersihan rumahnya dari hal-hal yang dibenci. Berlandaskan hadis sahih, mereka akan menjauhkan rumah dari keberadaan anjing atau pajangan patung dan gambar makhluk bernyawa, demi memastikan malaikat rahmat sudi bertamu ke dalam hunian mereka.

Bahkan, imbas keimanan ini turut mengatur adab dan etika seorang Muslim saat hendak mendatangi rumah Allah atau masjid. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW, malaikat memiliki rasa tidak nyaman terhadap bau yang busuk atau tidak sedap, persis seperti kenyamanan manusia yang terganggu. Oleh karena itu, Ustadz Fuad mengingatkan jamaah untuk memperhatikan bau mulut dan kebersihan pakaian serta mengenakan wewangian sebelum melangkah masuk ke dalam masjid.

Sebagai penutup kajian, Ustad Fuad meluruskan kekeliruan massal terkait penamaan malaikat yang telanjur diajarkan sejak usia dini. Nama “Izrail” sebagai malaikat maut dan “Ridwan” sebagai penjaga surga rupanya tidak memiliki sandaran dalil dari hadis yang sahih, melainkan hanya bersumber dari riwayat yang lemah atau palsu. Islam secara resmi menyebut mereka dengan nama Malakul Maut dan Khazanah. Melalui pelurusan ini, diharapkan umat Islam dapat berakidah dengan tegak, murni, dan bersih di atas bimbingan Al-Qur’an serta Sunnah yang sahih.

Sumber: Kajian kitab Aqidah Wasithiyah Bersama Ustadz Fuad Baswedan, M.Pd.I.  di Masjid Syafi’i Surabaya pada, Senin 1 Juni 2026

E-Buletin