Meluruskan Mitos Suro: Mengapa Bulan Penuh Kemuliaan Ini Malah Dianggap Horor?

Ustadz Dr. H. M. Junaidi Sahal, M.Ag.
Ustadz Dr. H. M. Junaidi Sahal, M.Ag.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya –  Bulan Muharram selalu hadir membawa nuansa spiritual yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Sebagai pembuka tirai tahun baru Hijriah, bulan ini bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan sebuah jeda sakral untuk menengok kembali rekam jejak spiritual kita di masa lalu sekaligus menyusun resolusi ibadah yang lebih kokoh ke depan. Melalui refleksi mendalam terhadap momentum bersejarah ini, kita diajak untuk membersihkan hati dari segala bentuk penyakit ego dan kepalsuan demi menyambut lembaran baru yang lebih berkah.

Guna mengupas tuntas urgensi spiritual tersebut, Masjid Ash-Shoobiriin Surabaya menyelenggarakan kegiatan Kajian Ahad Subuh bertajuk “Muharaman Awal Muhasabah Diri” pada Minggu, 21 Juni 2026, yang bertempat di Masjid Ash-Shoobiriin dengan menghadirkan narasumber utama, Ustadz Dr. H. M. Junaidi Sahal, M.Ag. Dalam ceramahnya yang komprehensif, beliau mengawali pemaparan dengan mengajak jemaah tadabur Surah At-Taubah ayat 36, yang menegaskan bahwa bilangan bulan di sisi Allah secara resmi berjumlah dua belas bulan. Dua belas bulan yang dimaksud dalam ayat tersebut merujuk pada kalender Hijriah yang berbasis pada sistem peredaran bulan atau lunar system.

Meski Islam secara khusus menetapkan kalender berbasis bulan untuk menentukan penanggalan ibadah tahunannya, Ustadz Junaidi menekankan bahwa Al-Qur’an dan syariat Islam sama sekali tidak menafikan keberadaan sistem peredaran matahari atau solar system. Bukti konkretnya dapat dilihat dari penentuan waktu salat lima waktu—yang merupakan tiang agama—di mana seluruhnya bersandar pada pergerakan matahari, mulai dari tergelincir hingga terbenamnya fajar. Lebih jauh lagi, beliau mengutip Surah Al-Kahfi mengenai kisah Ashabul Kahfi yang tertidur selama 300 tahun dalam perhitungan matahari, yang setara dengan 309 tahun dalam hitungan bulan, membuktikan bahwa Islam sejak 14 abad lalu telah mengakomodasi kedua sistem astronomi ini dengan sangat presisi.

Melanjutkan isi ayat dari Surah At-Taubah tersebut, dari dua belas bulan yang ada, terdapat empat bulan yang dikategorikan sebagai bulan hurum atau bulan haram. Secara harfiah, kata “haram” bermakna larangan, yang dalam konteks penanggalan Islam diartikan sebagai bulan yang penuh kesucian sehingga terdapat larangan keras untuk melakukan peperangan, konflik, maupun perbuatan maksiat. Tradisi gencatan senjata pada bulan-bulan haram ini bahkan telah dihormati sejak zaman Arab kuno jauh sebelum Islam datang, dan salah satu bulan suci yang sarat akan proteksi spiritual tersebut adalah bulan Muharram yang kini sedang kita jalani.

Keagungan bulan haram ini melahirkan sebuah sudut pandang unik dari para sahabat Nabi terdahulu mengenai bagaimana mereka memperlakukan tanah suci dan waktu suci. Ustadz Junaidi menceritakan kisah inspiratif dari sahabat Ibnu Abbas yang memilih untuk berhijrah dan menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat di Thaif, yang secara hukum agama masuk dalam kategori tanah halal. Alasan di balik keputusan besar Ibnu Abbas tersebut didasari oleh rasa takut yang luar biasa akan konsekuensi spiritual, di mana beliau khawatir secara tidak sengaja melakukan perbuatan dosa di tanah haram Makkah. Bagi para kekasih Allah, kesadaran bahwa jika pahala kebaikan dilipatgandakan di tempat dan waktu suci, maka bobot dosa kemaksiatan pun akan mengalami pelipatgandakan yang sama mengerikannya.

Lebih lanjut, narasumber juga memaparkan sisi historis sosiologis yang sangat dekat dengan kebudayaan masyarakat di tanah air, khususnya mengenai penamaan bulan Muharram yang identik dengan sebutan bulan “Suro”. Ketika Islam mulai merasuk ke dalam sendi-sendi kebudayaan Jawa pada abad ke-16, penguasa Muslim pertama Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung, berinisiatif melakukan asimilasi penanggalan. Mengingat tanggal 10 Muharram merupakan momentum agung yang disebut Hari Asyura, Sultan Agung kerap menggaungkan nama “Asyura” di lingkungan kerajaannya. Namun, akibat keterbatasan artikulasi lidah masyarakat Jawa dalam melafalkan huruf ‘ain, kata Asyura perlahan bergeser menjadi “Ngayuro”, hingga akhirnya menyusut menjadi kata “Suro” seperti yang kita kenal hari ini.

Fenomena asimilasi budaya ini tidak berhenti pada penamaan bulannya saja, melainkan juga merembet pada penyematan sifat bulan tersebut. Karena Muharram atau Suro adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah, dalam bahasa Arab bulan ini memiliki sifat karamah yang berarti kemuliaan. Di tengah pergaulan masyarakat Jawa yang kurang fasih melafalkan kata karamah, istilah tersebut kemudian diserap dan diucapkan menjadi kata “keramat”. Ironisnya, makna asli dari “Suro Keramat” yang seharusnya berarti “Bulan Suro yang penuh dengan kemuliaan dan kesucian” kini telah mengalami distorsi makna yang cukup tajam akibat pengaruh budaya populer.

Ustadz Junaidi menyayangkan adanya pergeseran persepsi di kalangan generasi muda saat ini yang menganggap malam satu Suro sebagai malam yang menyeramkan, angker, dan penuh mistis. Penyesatan makna ini tidak lepas dari framing masif industri perfilman zaman dulu, salah satunya lewat film-film horor legendaris yang dibintangi oleh Suzanna, yang kerap mengeksploitasi ritual malam satu Suro menjadi latar cerita yang menakutkan. Akibatnya, alih-alih menyambut tahun baru Islam dengan penuh suka cita dan optimisme spiritual, sebagian masyarakat, khususnya generasi Z, justru menjadikannya sebagai momok yang menakutkan layaknya mitos malam Jumat Kliwon yang mencekam.

Padahal, jika kita merujuk pada hakikat sejarah Islam yang autentik, esensi utama dari memasuki bulan Muharram adalah melakukan muhasabah atau evaluasi total terhadap kualitas diri. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, saat penanggalan Hijriah pertama kali diformulasikan secara resmi, bulan Muharram sengaja dipilih sebagai bulan pertama untuk memulai lembaran tahun yang baru. Penetapan ini memiliki filosofi mendalam, di mana bulan Muharram diletakkan tepat setelah bulan Zulhijah (bulan pelaksanaan ibadah haji). Harapannya, setelah manusia membersihkan diri dan kembali suci layaknya bayi yang baru lahir melalui ibadah haji, mereka dapat langsung mengawali tahun baru dengan modal kesucian hati tersebut untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, mempertahankan konsistensi kesucian hati pasca-ibadah tentu bukan perkara yang mudah bagi manusia biasa. Ustadz Junaidi secara jenaka namun sarat makna menyentil fenomena jemaah haji yang terkadang langsung diuji ego dan emosinya, bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki kembali di tanah air. Godaan-godaan kecil seperti perselisihan antara suami istri di kamar mandi hotel, atau ketegangan akibat barang bawaan belanjaan oleh-oleh yang menumpuk, sering kali mengikis esensi kemabruran haji dalam sekejap. Oleh karena itu, Allah SWT yang Maha Pengasih menyediakan sarana berupa kalimat istigfar sebagai penawar dan pembersih dari segala kekhilafan yang dilakukan manusia.

Menutup ceramahnya, Ustadz Junaidi memberikan panduan praktis mengenai amalan-amalan utama yang sangat dianjurkan untuk mendulang keberkahan di bulan Muharram ini. Amalan paling utama yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW setelah puasa Ramadan adalah memperbanyak ibadah puasa sunah di bulan Muharram. Beliau merinci tingkatan puasa sunah tersebut: yang paling utama adalah berpuasa satu bulan penuh jika mampu, atau mengambil paket tiga hari pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Jika masih terasa berat, umat Muslim sangat dianjurkan untuk berpuasa selama dua hari pada tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 (Asyura), atau minimal tidak melewatkan puasa pada hari puncaknya, yaitu tanggal 10 Muharram yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu.

Melalui momentum tahun baru 1448 Hijriah ini, mari kita bersama-sama meluruskan kembali kiblat pemikiran kita dan mengikis habis segala mitos horor yang keliru seputar bulan Suro. Bulan Muharram adalah waktu yang dirahmati Allah untuk memperbanyak istigfar, memperluas sedekah, memupuk amal saleh, dan mengencangkan benteng pertahanan dari godaan maksiat. Dengan menjadikan awal tahun ini sebagai pijakan untuk berbenah, kita berharap segala langkah kaki kita di masa depan senantiasa dinaungi petunjuk, keselamatan, dan keberkahan yang utuh dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sumber: Kajian Ahad Subuh bertajuk “Muharaman Awal Muhasabah Diri” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. M. Junaidi Sahal, M.Ag. di Masjid Ash-Shoobiriin Surabaya pada Minggu 21 Juni 2026.

E-Buletin