Kabarmasjid.id, Surabaya – Kerap kali kita memaknai ketaqwaan sebatas menjalankan perintah dan menjauhi larangan secara formal. Namun, dalam khazanah keislaman yang lebih dalam, taqwa adalah sebuah perjalanan mendaki yang memerlukan perjuangan batin yang luar biasa. Kajian Kitab Nashaihul Ibad pada Senin, 13 April 2026 yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mengupas tuntas mengenai bagaimana seorang hamba bisa mencapai derajat taqwa yang sesungguhnya melalui lima tahapan atau tanjakan spiritual yang tidak mudah.
Ustadz Muzakki menekankan bahwa taqwa bukanlah status yang statis, melainkan hasil dari pilihan-pilihan sulit yang diambil seseorang dalam kesehariannya. Mengutip pendapat para Hukama atau ahli hikmah, beliau menjelaskan bahwa di depan pintu taqwa terdapat lima tanjakan yang harus dilewati. Siapa pun yang berhasil melampaui kelima tantangan ini, maka ia akan memperoleh hakikat ketaqwaan yang akan menyejukkan jiwanya baik di dunia maupun di akhirat.
Tanjakan pertama adalah memilih jalan yang berat atau sulit di atas kenikmatan (ikhtiarus syiddah). Dalam konteks ini, seorang mukmin diajarkan untuk sedikit mengekang hawa nafsunya dan tidak memanjakan diri dengan segala fasilitas dunia secara berlebihan. Sebagai contoh sederhana, perintah untuk berhenti makan sebelum kenyang adalah bentuk pengekangan nikmat agar seseorang tidak menjadi hamba bagi perutnya sendiri.
Pengekangan ini juga terlihat jelas dalam ibadah salat tahajud. Di saat manusia sedang menikmati puncak tidurnya yang paling lelap, yakni sekitar pukul tiga dini hari, seorang hamba justru diminta untuk bangun dan bersujud. Pilihan untuk meninggalkan kasur yang empuk demi menghadap Sang Pencipta adalah salah satu bentuk nyata dari upaya melewati tanjakan pertama menuju ketaqwaan yang sejati.
Tanjakan kedua adalah memilih usaha keras dan kesusahan di atas kenyamanan (ikhtiarul jahdi). Ust. Ahmad Muzakki mengingatkan bahwa meskipun seseorang memiliki kemampuan finansial untuk hidup serba mewah, agama justru menganjurkan untuk hidup bersahaja. Pilihan untuk tetap sederhana di tengah kelimpahan adalah cara agar kenikmatan tersebut tidak habis sepenuhnya di dunia, melainkan tersimpan sebagai ganjaran di surga kelak.
Beliau memberikan ilustrasi melalui ibadah haji, di mana terdapat perbedaan antara mereka yang memilih fasilitas serba nyaman dengan mereka yang harus berjuang keras secara fisik. Meskipun keduanya sah, nilai spiritual sering kali lebih terasa saat seseorang merasakan “sengsara” dalam beribadah. Kesusahan yang dirasakan tanpa banyak mengeluh justru menjadi pembersih jiwa dan penguat ikatan batin dengan Allah SWT.
Tanjakan ketiga melibatkan pilihan untuk hidup rendah hati atau bahkan terlihat lemah di mata manusia demi kemuliaan di sisi Allah (ikhtiaruz zulli). Di zaman sekarang, banyak orang terjebak dalam perlombaan mencari ketenaran atau menjadi viral. Namun, orang yang bertaqwa justru lebih memilih untuk tidak dikenal (anonym) dan tidak mengejar pengakuan makhluk, meskipun hal itu membuat mereka tampak biasa-biasa saja di mata publik.
Selanjutnya, tanjakan keempat adalah memilih diam daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat (ikhtiarus sukut). Banyak bicara sering kali membawa seseorang pada kesalahan, kesombongan, atau ucapan yang menyakiti orang lain. Sebaik-baiknya ucapan adalah yang singkat, padat, dan mengandung manfaat, sehingga diam menjadi benteng pertahanan bagi seorang mukmin agar terhindar dari dosa lisan yang sia-sia.
Tanjakan terakhir atau kelima adalah memilih “kematian” di atas kehidupan (ikhtiarul maut). Makna kematian di sini bukanlah kematian fisik, melainkan memutus rantai keterikatan hawa nafsu terhadap kemegahan dunia. Orang yang terlalu mencintai dunia biasanya akan sangat takut mati, karena mereka merasa akan kehilangan segala kemewahan yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah selama di dunia.
Kajian ini juga merinci empat jenis kematian spiritual yang perlu dipahami, salah satunya adalah Mautun Abyad atau kematian putih, yang dicapai melalui rasa lapar atau berpuasa. Rasa lapar yang terkendali dipercaya dapat menerangi batin dan mencerahkan hati. Sebaliknya, perut yang selalu kenyang secara berlebihan sering kali menumpulkan kecerdasan spiritual dan membuat hati menjadi keras.
Ada pula yang disebut sebagai Mautun Ahdor atau kematian hijau, yaitu kesediaan untuk mengenakan pakaian yang sederhana atau bersahaja sebagai bentuk sifat qanaah. Pilihan untuk tidak bermegah-megahan dengan merek-merek mewah menunjukkan bahwa seseorang telah memutus ketergantungan mentalnya pada status sosial duniawi, dan lebih fokus pada hiasan akhlak yang mulia di dalam dirinya.

Terakhir, Ustadz Muzakki menyinggung tentang Mautun Aswad atau kematian hitam, yang bermakna kesabaran dalam menghadapi gangguan atau rasa sakit yang datang dari makhluk lain. Menanggung penderitaan dengan lapang dada demi mencari rida Allah adalah tingkatan tinggi dalam ketaqwaan. Hal ini melatih jiwa untuk tetap tenang dan tidak reaktif terhadap segala dinamika kehidupan yang mungkin mengecewakan.
Sebagai penutup, beliau mengibaratkan kehidupan taqwa seperti meminum jamu yang pahit namun menyehatkan, sementara kenikmatan dunia yang liar ibarat gula yang manis namun bisa membawa penyakit. Dengan melewati lima tanjakan ini, seorang hamba tidak hanya menjalankan ritual agama secara lahiriah, tetapi juga membangun benteng spiritual yang kokoh untuk menghadapi fitnah dunia yang penuh dengan tipu daya.
Sumber: Kajian Kitab Nashaihul Ibad edisi 13 April 2026 yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.