Kabarmasjid.id, Surabaya – Merokok telah lama menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat, bahkan sering kali dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan fokus dan ketenangan. Namun, di balik kenikmatan semu tersebut, terdapat ancaman kesehatan yang mengintai secara perlahan dan berpotensi merusak kualitas ibadah seseorang. Untuk mengupas fenomena ini dari sudut pandang medis dan spiritual, Masjid Al Akbar TV menyelenggarakan kajian “Ngaji Sehat” dengan tajuk tajuk “Merokok Bisa Menggangggu Kekhidmatan Ibadah Shalat” yang berlangsung pada hari Kamis, 25 Juni 2026, bertempat di Masjid Al Akbar Surabaya, bersama narasumber dr. Agus Hidayat, Sp.P (K), seorang Dokter Spesialis Paru dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Dalam pembukaan kajiannya, dr. Agus Hidayat menyoroti bagaimana rokok kerap dijadikan alasan oleh banyak orang, termasuk tenaga pendidik, agar bisa tetap fokus dan konsentrasi saat bekerja dalam waktu lama. Secara ilmiah, fenomena ini terjadi karena nikotin yang dihirup dari rokok mengalir ke darah lalu menuju otak, yang kemudian merangsang pelepasan dopamin atau hormon kebahagiaan. Sensasi gembira dan fokus yang muncul inilah yang membuat perokok merasa lebih produktif, meski sebenarnya efek tersebut hanyalah manipulasi hormonal yang bersifat sementara.
Ketergantungan mulai terbentuk ketika kadar dopamin di dalam tubuh mengalami penurunan karena sebagian zatnya dibuang melalui saluran urine. Saat dopamin turun, tubuh akan memberikan respons negatif berupa rasa cemas, mudah marah, gelisah, hingga hilangnya konsentrasi secara drastis. Untuk mengembalikan rasa nyaman tersebut, seorang perokok akan terdorong secara refleks untuk kembali menyalakan rokoknya, menciptakan siklus kecanduan yang terus berulang dan cenderung meningkatkan jumlah konsumsi batang rokok setiap harinya.
Lebih lanjut, dr. Agus menjelaskan bahwa efek buruk dari rokok tidak langsung muncul seketika saat seseorang mulai merokok di usia muda, melainkan melalui proses sedimentasi yang panjang. Zat-zat berbahaya seperti nikotin akan mengendap sedikit demi sedikit di dalam tubuh, mirip dengan penumpukan kerak pada dinding bendungan. Dampak kerusakan ini umumnya baru bermanifestasi secara nyata ketika seseorang memasuki usia lanjut atau di atas 50 tahun, di mana sistem kekebalan tubuh mulai menurun.
Salah satu kandungan yang paling mengerikan di dalam sebatang rokok adalah formaldehid atau yang lebih dikenal masyarakat awam sebagai formalin, zat kimia yang biasa digunakan untuk mengawetkan jenazah. Dokter Paru RSUD Dr. Soetomo ini memberikan perumpamaan visual yang sangat logis seperti proses pembuatan ikan bandeng asap. Jika paru-paru manusia terus-menerus terpapar dan “diasepi” oleh asap rokok, organ tersebut lama-kelamaan akan mengeras, kaku, dan kehilangan elastisitas alaminya untuk mengembang serta mengempis secara sempurna.
Kondisi paru-paru yang rusak ini pada akhirnya akan membawa dampak buruk yang secara langsung dapat mengganggu kekhusyukan seseorang ketika melaksanakan ibadah salat. Berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an, keberuntungan besar dinilai mengalir bagi orang-orang mukmin yang mampu menjaga kekhusyukan di dalam salatnya. Namun, gangguan fisik yang dialami oleh seorang perokok, seperti batuk kronis dan sesak napas, sering kali menjadi penghalang besar untuk mencapai titik ketenangan ibadah tersebut.
Secara anatomi tubuh, ketika seseorang berada dalam posisi rukuk atau sujud, letak jantung dan paru-paru akan berada dalam posisi sejajar atau datar. Posisi ini secara alami membutuhkan usaha dan tenaga yang jauh lebih besar dari paru-paru untuk menarik udara dibandingkan saat posisi berdiri tegak. Bagi seorang perokok yang organ pernapasannya sudah terganggu, aktivitas sujud dan rukuk yang agak lama akan terasa sangat berat, memicu rasa ampek di dada, serta membuat mereka terengah-engah saat bangun.
Tidak hanya mengganggu diri sendiri, kebiasaan merokok juga berpotensi menzalimi jemaah lain yang berada di dalam satu barisan salat berjemaah. Rokok dapat merusak selaput lendir rongga mulut, memicu radang gusi, serta membuat gigi menjadi kuning, keropos, dan berlubang. Gigi yang berlubang tersebut menjadi tempat menumpuknya bakteri dan sisa makanan yang membusuk, sehingga menimbulkan bau mulut yang sangat menyengat dan mengganggu kenyamanan jemaah di sebelahnya saat bertakbir.
Dalam kajian ini, dr. Agus Hidayat juga meluruskan sebuah mitos yang berkembang di masyarakat mengenai rokok elektrik atau vape yang kini digandrungi generasi muda. Beliau menegaskan bahwa vape justru jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok tembakau konvensional karena mengandung propilen glikol dan bahan pewarna kimia yang merusak paru-paru lebih cepat. Selain itu, bentuk cairan pada vape memiliki risiko tinggi disalahgunakan sebagai media peredaran narkoba cair yang dapat merusak masa depan generasi emas.
Mitos lain yang turut dibongkar adalah anggapan bahwa efek buruk rokok dapat dinetralisir dengan mengonsumsi kopi, susu, ataupun minuman bersoda. Secara medis, klaim tersebut sepenuhnya keliru karena asap rokok masuk melintasi saluran pernapasan menuju paru-paru, sedangkan makanan dan minuman mengalir menuju sistem pencernaan atau lambung. Dua jalur yang berbeda ini menegaskan bahwa tidak ada korelasinya sama sekali antara minum kopi dengan pembersihan organ paru-paru yang sudah terkontaminasi racun asap.
Bagi para perokok yang memiliki niat tulus untuk berhenti, dr. Agus membagikan beberapa tips medis yang praktis dan dapat diterapkan secara bertahap. Langkah utama adalah menguatkan niat, lalu menyampaikannya secara terbuka kepada keluarga dan lingkaran pertemanan agar mereka tidak lagi menawarkan rokok. Selain metode berhenti seketika, proses ini bisa disiasati dengan pengurangan jumlah batang rokok secara berkala setiap hari, atau dengan menunda jam mulanya merokok guna melatih kendali diri.

Sebagai penutup kajian, dr. Agus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan sisa asap atau third-hand smoke yang menempel pada pakaian dan kulit, terutama bagi para ayah yang memiliki bayi di rumah. Racun rokok yang tertinggal di baju dan badan dapat terhirup oleh anak saat digendong, yang menjadi pemicu utama kasus batuk bronkitis berulang pada balita. Berhenti merokok tidak hanya menyelamatkan kesehatan fisik dan meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga menghemat finansial keluarga yang bisa dialokasikan untuk pemenuhan gizi anak.
Sumber: Ngaji Sehat dengan tajuk “Merokok Bisa Menggangggu Kekhidmatan Ibadah Shalat” bersama dr. Agus Hidayat, Sp.P (K) di Aula Masjid Al Akbar Surabaya pada Kamis 25 Juni 2026