Manhaj Islam: 2 Pilar Utama Mendidik Anak Sebelum Baligh

Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc
Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Mendidik anak di era digital saat ini menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi para orang tua. Di tengah gempuran informasi dan berbagai figur idola modern, Islam sebenarnya telah menyediakan kurikulum atau manhaj yang sangat lengkap dan aplikatif untuk membentuk karakter generasi muda. Salah satu fase krusial yang menentukan masa depan anak adalah masa sebelum mereka menginjak usia baligh, di mana jiwa mereka masih bersih dan siap menyerap apa saja yang diajarkan oleh lingkungannya.

Esensi penting mengenai pendidikan anak ini dikupas tuntas oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc dalam sebuah kajian bertajuk “Pendidikan Anak Dalam Islam” yang disiarkan oleh Masjid Al-Irsyad TV pada Jumat, 3 Juli 2026. Berlokasi di Masjid Anur Jagalan, Malang, kajian ini mengulas bab kedua dari kitab monumental Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan, yang secara khusus membedah manhajul Islam fi islahis sighar atau metode Islam dalam memperbaiki dan mendidik anak-anak yang masih kecil sebelum usia puber.

Dalam pemaparannya, Ustadz Muhammad Sholeh menjelaskan bahwa jiwa anak yang belum baligh diibaratkan oleh Imam Al-Ghazali sebagai permata atau berlian yang sangat berharga sekaligus suci. Hati anak yang bersih ini merupakan amanah besar di pundak kedua orang tuanya, sehingga jangan sampai diisi dengan hal-hal yang kotor. Pada masa-masa keemasan (golden age) ini, otak anak memiliki kemampuan merekam dan menghafal yang sangat luar biasa terhadap apa saja yang mereka dengar dan lihat di sekitarnya.

Oleh karena itu, manhaj Islam menekankan dua pilar utama yang sangat fundamental dan harus berjalan beriringan, yaitu at-talkin dan at-ta’wid. At-talkin merupakan sisi teoritis berupa penyampaian, arahan, dan doktrin kebaikan secara lurus melalui kata-kata yang dilakukan terus-menerus. Sementara itu, at-ta’wid adalah aspek praktis atau pengamalan langsung di lapangan untuk memformat, membentuk, dan membiasakan nilai-nilai positif tersebut dalam keseharian anak.

Pilar pertama yang harus ditanamkan melalui kombinasi metode ini adalah masalah akidah dan kalimat tauhid. Rasulullah ﷺ memerintahkan para orang tua untuk membuka pendengaran anak mereka yang baru lahir dengan kalimat Lailahaillallah, yang salah satunya diaplikasikan melalui lantunan azan dan iqamah. Seiring bertumbuhnya anak ke usia mumayyiz (mulai bisa berpikir), orang tua harus aktif mentalkinkan keyakinan yang mendalam bahwa tidak ada zat yang berhak disembah, dicintai, dan ditakuti selain Allah Subhanahu wa taala.

Implementasi praktis dari penanaman akidah ini bisa dilakukan orang tua dengan memanfaatkan momen keseharian, seperti saat liburan atau berjalan-jalan ke alam terbuka. Ketika melihat keindahan warna-warni bunga yang tumbuh dari satu ranting atau saat memandang hamparan laut yang luas, orang tua dapat mengajak anak berdialog. Ajukan pertanyaan pemantik seperti, “Siapa yang menciptakan dan menggerakkan semua keajaiban alam ini?” untuk menanamkan kesadaran bertauhid secara nyata dalam benak mereka.

Pilar kedua dalam kurikulum Islam ini adalah membiasakan anak untuk menegakkan shalat sebagai tiang agama. Rasulullah ﷺ secara tegas memerintahkan orang tua untuk mulai mengajarkan tata cara, rukun, dan jumlah rakaat shalat kepada anak secara lurus saat mereka menginjak usia tujuh tahun. Proses talkin mengenai pentingnya berkomunikasi dengan Sang Pencipta ini harus disampaikan dengan bahasa yang dipahami anak.

Aspek ta’wid atau pembiasaan shalat ini kemudian menuntut konsistensi dan kesabaran luar biasa dari orang tua selama tiga tahun berturut-turut, yaitu sejak anak berusia tujuh hingga sepuluh tahun. Bagi anak laki-laki, sang ayah sangat dianjurkan untuk mengajak mereka shalat berjamaah ke masjid demi membangun kedisiplinan dan kecintaan pada rumah Allah. Jika menginjak usia sepuluh tahun anak mulai malas, Islam membolehkan pemberian sanksi atau pukulan yang mendidik dan tidak mencelakakan sebagai bentuk ketegasan.

Selain ibadah ritual, manhaj Islam juga mengharuskan orang tua mengenalkan batasan syariat mengenai hukum halal dan haram semenjak dini. Anak-anak harus diajarkan mana perintah Allah yang wajib dijalankan dan mana larangan-Nya yang harus dijauhi demi membentengi diri serta keluarga dari jilatan api neraka. Hal ini penting agar anak memiliki kompas moral yang jelas ketika mereka mulai bersosialisasi dan berinteraksi sebagai makhluk sosial di luar rumah.

Dalam praktik sehari-hari, orang tua harus peka dan komunikatif memantau perilaku anak. Jika anak pulang ke rumah membawa barang yang bukan miliknya atau mulai mengakses tontonan yang tidak sesuai usianya di televisi maupun gawai, orang tua tidak boleh diam dan harus segera meluruskannya dengan dialog dari hati ke hati. Sebaliknya, setiap kali anak menunjukkan perilaku terpuji seperti suka berbagi, bersedekah, dan menolong temannya, berikan apresiasi yang tinggi agar karakter mulia tersebut menetap menjadi kebiasaan hidupnya.

Hal yang tidak kalah penting dalam mendidik anak usia kecil adalah menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau (ahli bait), para sahabat, serta Al-Qur’anul Karim. Di tengah maraknya idola modern seperti para pemain sepak bola dunia yang sangat digandrungi anak-anak saat liburan, orang tua berkewajiban mengenalkan figur-figur teladan sejati Islam. Mengenalkan kisah perjuangan Rasulullah ﷺ dan keluhuran sifat para Khulafaur Rasyidin sebelum tidur bisa menjadi cara efektif agar anak memiliki role model yang tepat.

Sebagai penutup kajiannya, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem mengingatkan bahwa anak yang sejak kecil diakrabkan dengan membaca Al-Qur’an menggunakan tajwid dan makhraj yang benar cenderung akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan fokus. Melalui penerapan manhaj Islam yang seimbang antara arahan lisan dan pembiasaan nyata ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang saleh, berbakti kepada orang tua (birrul walidain), serta menjadi penyejuk hati (qurratu ‘ain) baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sumber: Kajian “Pendidikan Anak Dalam Islam” bersama Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc yang disiarkan melalui kanal YouTube Masjid Al-Irsyad TV pada Jum’at 3 Juli 2026.

E-Buletin