Mahkota Dzikir: Amalan 100 Kali Penghapus Dosa dan Penjaga dari Godaan Setan

Kajian Ba'da Maghrib Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB.
Kajian Ba'da Maghrib Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam sebuah sesi Kajian Ba’da Maghrib pada Senin 3 November 2025 yang diselenggarakan di Masjid Al Falah Surabaya, Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB. menyampaikan pembahasan yang sangat mendalam mengenai “Keagungan Mahkota Dzikir” atau Tajud Dzikir. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak di antara kita merasa jauh dari ketenangan batin, mudah stres, bahkan terjerumus pada perilaku merusak akibat tekanan ekonomi dan sosial. Kajian ini hadir sebagai pengingat dan penawar, menawarkan solusi spiritual yang praktis untuk mengikat hati kita kembali kepada Sang Pencipta. Ustadz Taufiq menekankan bahwa hanya dengan cara inilah kita dapat meraih kesuksesan sejati di dunia dan akhirat.

Ustadz Taufiq membuka kajian dengan menegaskan kedudukan istimewa dzikir. Ia menyebutkan bahwa dzikir adalah satu-satunya ibadah yang secara eksplisit diperintahkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an untuk dilakukan sebanyak-banyaknya tanpa batasan waktu atau kuantitas. Perintah ini menunjukkan betapa pentingnya mengingat Allah, melebihi ibadah-ibadah lain yang pelaksanaannya telah diatur dan dibatasi. Dzikir, dengan demikian, merupakan denyut nadi keimanan yang harus berdetak sepanjang waktu.

Lebih lanjut, dzikir memiliki dua pengertian: sempit (mengucapkan tasbih, tahlil, istighfar) dan luas (semua aktivitas yang ditujukan untuk meraih ridha Allah, termasuk salat dan majelis ilmu). Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang tegas: orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah ibarat orang hidup dan orang mati. Sebagaimana tanah membutuhkan hujan untuk menumbuhkan tanaman, hati seorang manusia membutuhkan dzikir. Tanpa dzikir, hati akan mati, meskipun raga tetap beraktivitas di dunia. Dzikir adalah “Babullahil A’dham”, pintu terbesar menuju Allah.

Dalam aktivitas keislaman dan keimanan kita sehari-hari, ada empat pilar ibadah yang tidak dapat dipisahkan. Keempat pilar tersebut adalah: Salat, Berdoa, Al-Qur’an, dan Dzikir itu sendiri. Keempatnya membentuk satu lingkaran utuh yang mengawal seorang Muslim. Namun, dari keempatnya, salat menempati posisi sentral sebagai ibadah utama setelah syahadat, yang merupakan perintah untuk mengingat Allah (Aqimis sholata li dzikri).

Merujuk pada Surah Al-Mukminun ayat 1-3, Ustadz Taufiq menjabarkan ciri-ciri orang beriman yang telah sukses (qad aflahal mu’minūn). Ciri utamanya bukan terletak pada kekayaan atau kekuasaan, melainkan pada kualitas ibadah dan penggunaan waktu. Mereka adalah orang yang salatnya khusyuk (khāshi’ūn) dan orang yang menjauhi hal-hal yang tidak berguna (laghwi mu’ridhūn). Intinya, orang beriman sejati selalu sibuk dengan Allah dalam semua aktivitasnya (daiman masyghūlun bi Rabbihī).

Setelah memaparkan pondasi dzikir, Ustadz Taufiq memperkenalkan dzikir agung yang disebut Mahkota Dzikir (Tajud Dzikir). Dzikir ini adalah kalimat tauhid yang paling baik, yang juga diucapkan oleh para nabi sebelum Rasulullah SAW. Kalimat tersebut berbunyi:

“Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.”

Keutamaan membaca Mahkota Dzikir ini sangat luar biasa. Barangsiapa yang membacanya sebanyak 100 kali dalam sehari, ia akan mendapatkan pahala yang setara dengan memerdekakan 10 budak. Di zaman ini, memerdekakan budak adalah perumpamaan amal yang sangat besar, menunjukkan betapa berharganya dzikir ini di sisi Allah SWT.

Selain pahala memerdekakan budak, membaca Tajud Dzikir 100 kali dalam sehari akan memberikan ganjaran lain yang fantastis. Allah akan mencatat 100 kebaikan (mi’atu hasanah) dan menghapuskan 100 kesalahan/dosa (mi’atu sayyi’ah). Yang paling penting, pembaca akan dijaga oleh Allah dari godaan dan gangguan setan dari pagi hingga malam (hirzan minasy-syaiṭān). Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi keutamaan ini, kecuali mereka yang berdzikir lebih dari 100 kali.

Ustadz Taufiq menekankan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten (adwamuha) meskipun sedikit. Ia mencontohkan, bagi yang sulit salat Subuh berjamaah atau melaksanakan salat malam, mulailah dengan rutin membaca Mahkota Dzikir ini setiap hari. Konsistensi, meskipun hanya 100 kali, akan mengubah semangat hidup, menjauhkan dari sifat malas, dan menjamin kehidupan yang lebih teratur dan damai karena hati selalu lekat dengan Allah.

Namun, kenapa banyak orang sulit konsisten dalam berdzikir, berjamaah, atau bersedekah? Jawabannya, menurut Ustadz Taufiq, adalah terlalu cinta kepada dunia (hubbud-dunyā). Beliau mengutip Hasan Al-Bashri yang berpendapat bahwa rasa cinta dunia adalah dosa besar (akbaril kabā’ir). Kecintaan berlebihan pada materi akan membuat hati buta, serakah, dan sulit mengeluarkan sedekah, bahkan menjadi akar dari semua dosa besar seperti korupsi, mencuri, dan membunuh.

Umat Islam tidak dilarang untuk menjadi kaya; bahkan dianjurkan agar bisa menolong sesama dan membayar zakat. Namun, yang terpenting adalah menempatkan harta pada posisi yang benar. Harta harus berada di tangan, bukan di hati. Para ulama sering berdoa, “Yā Allāh, jangan dijadikan harta itu di dalam hati saya; jadikan ini harta di tangan saja.” Harta di tangan adalah sarana untuk beribadah dan beramal saleh, sementara harta di hati adalah siksaan dan penghalang menuju konsistensi ibadah.

Sebagai penutup, Ustadz Taufiq mengingatkan bahwa hidup ini adalah satu kali kesempatan dan merupakan ujian dari Allah SWT. Rumus utama agar kita lulus dari ujian ini—baik itu ujian kaya, jabatan, sakit, maupun kesulitan ekonomi—adalah “Kun ma’Allāh yakunillāhu ma’ak” (Hiduplah bersama Allah, niscaya Allah akan menyertai Anda). Dengan banyak berdzikir, menjauhi sifat kikir, dan menjaga salat lima waktu dengan baik, insyaallah hidup akan terjaga dan dimudahkan di setiap langkahnya.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB. Di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin