Kabarmasjid.id, Solo – Dzikir bukan sekadar untaian kata yang diucapkan di lisan, melainkan napas bagi jiwa yang merindukan ketenangan. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali melalaikan, mengingat Allah menjadi benteng terkuat bagi setiap Muslim. Terlebih di bulan suci, setiap amalan dilipatgandakan, menjadikan momen ini waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan hamba dengan Sang Pencipta melalui lisan yang terus basah oleh dzikir.
Kajian mendalam mengenai rahasia dzikir ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Alaydrus dalam acara Rauha Sore bertajuk “Semarak Ramadhan 1447H”. Kegiatan yang membahas Kitab Riyadhus Shalihin ini berlangsung pada hari Jumat, 13 Maret 2026, bertempat di Majelis Jami’atul Ahbaab (MJA) Solo. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa dzikir adalah ibadah yang paling ringan namun memiliki bobot timbangan yang luar biasa di akhirat kelak.
Ustadz Muhammad mengawali penjelasan dengan mengutip hadis populer mengenai dua kalimat yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Kalimat tersebut adalah Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil adzim. Meski sangat ringan diucapkan dan tidak memerlukan waktu lama, Rasulullah SAW menegaskan bahwa kedudukan kedua kalimat ini sangat berat dalam timbangan amal di hari kiamat. Ini menunjukkan betapa Allah sangat menghargai hamba-Nya yang meluangkan waktu untuk memuji-Nya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan keutamaan dzikir harian yang dapat menjadi pelindung diri. Membaca kalimat tauhid Lailahaillallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahua ala kulli saaiin qodir sebanyak 100 kali setiap hari dijanjikan pahala yang setara dengan memerdekakan sepuluh budak. Selain itu, pembacanya akan mendapatkan 100 kebaikan, dihapus 100 kesalahan, dan dijaga dari gangguan setan hingga sore hari.
Bagi mereka yang merasa memiliki banyak kekhilafan, dzikir juga berfungsi sebagai penggugur dosa. Dengan membaca Subhanallahi wabihamdihi sebanyak 100 kali, dosa-dosa kecil seorang hamba akan diampuni meskipun jumlahnya sebanyak buih di lautan. Namun, Ustadz Muhammad mengingatkan bahwa untuk dosa besar, dzikir saja tidak cukup, melainkan harus dibarengi dengan tobat nasuha yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.
Kajian ini juga membedah tradisi dzikir setelah salat fardu yang diajarkan Rasulullah SAW. Dimulai dengan istigfar tiga kali dan doa keselamatan, dzikir ini menjadi penyempurna ibadah salat. Beliau juga mengisahkan dialog antara Rasulullah dengan kaum Muhajirin yang fakir, yang merasa cemburu dengan orang kaya karena tidak bisa bersedekah harta. Rasulullah kemudian memberikan “modal” berupa dzikir tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali sebagai cara mengejar pahala tersebut.
Salah satu poin menarik yang dibahas adalah bagaimana dzikir berkaitan dengan kesehatan tubuh secara spiritual. Setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap harinya. Setiap ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar dihitung sebagai sedekah bagi sendi-sendi tersebut. Hal ini menyadarkan kita bahwa setiap gerak tubuh yang kita miliki adalah nikmat yang harus disyukuri dengan cara mengingat Sang Pemberi Nikmat.
Menariknya, seluruh kewajiban sedekah persendian tersebut ternyata dapat dirangkum hanya dengan satu ibadah sederhana, yaitu salat duha. Ustadz Muhammad menjelaskan bahwa dua rakaat salat duha di pagi hari sudah cukup untuk menunaikan sedekah bagi seluruh persendian tubuh. Ini menunjukkan betapa Islam memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk meraih pahala besar melalui amalan-amalan yang terukur dan konsisten.
Ustadz Muhammad kemudian memberikan perumpamaan yang kuat mengenai perbedaan antara orang yang berdzikir dan yang tidak. Beliau menyebutkan bahwa orang yang rajin berdzikir ibarat orang yang hidup, sementara yang lalai ibarat orang mati. Rumah yang di dalamnya sering dibacakan zikir akan terasa hidup dan penuh berkah, sedangkan rumah yang sepi dari dzikir akan terasa sesak, penuh pertengkaran, dan hambar bagaikan kuburan.

Di bagian akhir kajian, beliau menyoroti adab dan keberkahan dalam menghadiri majelis ilmu atau majelis dzikir. Melalui kisah tiga orang yang mendatangi majelis Nabi, beliau menjelaskan berbagai tingkatan respons manusia. Ada yang bersungguh-sungguh mencari tempat terdepan sehingga Allah menaunginya, ada yang malu-malu di belakang namun tetap dihargai Allah, dan ada yang berpaling sehingga Allah pun berpaling darinya.
Beliau memberikan peringatan keras agar kita jangan sampai menjadi golongan ketiga yang berpaling dari ilmu. Menghadiri majelis ilmu di sela-sela kesibukan adalah kebutuhan pokok bagi hati. Ustadz Muhammad berpesan agar setidaknya dalam satu minggu, setiap Muslim memiliki satu majelis rutin yang diikuti agar hatinya tidak mengeras dan selalu mendapatkan siraman rohani yang segar.
Sebagai penutup, kajian Rauha Sore ini diakhiri dengan lantunan qasidah dan doa yang syahdu, memohon agar istikamah dalam dzikir senantiasa terjaga. Dengan memahami besarnya keutamaan dzikir, diharapkan umat Muslim dapat menjadikan lisan mereka sebagai sarana untuk terus mendekatkan diri kepada Allah, terutama di sisa hari-hari Ramadan yang penuh ampunan ini.
Sumber: Kajian Rauha Sore Masjid Jami’ Assagaf yang membahas Kitab Riyadhus Shalihin bersama Ustadz Muhammad Alaydrus