Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjalani ibadah di bulan suci Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum emas untuk membedah kembali kualitas spiritualitas kita. Di tengah hiruk-pikuk persiapan berbuka, sering kali kita terjebak pada rutinitas fisik tanpa menyentuh esensi pembersihan jiwa. Salah satu panduan yang relevan untuk merefleksikan diri adalah memahami klasifikasi amal yang dapat menyelamatkan atau justru membinasakan seorang hamba dalam perjalanan hidupnya.
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh narasumber utama, Ustadz H. Ahmad Muzakki Al Hafidz, dalam program “Ngaji Ngabuburit” yang berlangsung pada Senin, 23 Februari 2026 atau 5 Ramadan 1447 H. Bertempat di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, kajian ini mengangkat tema sentral mengenai tiga hal yang membinasakan dan tiga hal yang menyelamatkan manusia, merujuk pada nasihat-nasihat spiritual dalam kitab klasik Nashaikhul Ibad.
Dalam pemaparannya, Ustadz Muzakki menekankan pentingnya memiliki “sistem kontrol” dalam diri yang disebut dengan khofyatullah atau takut kepada Allah. Hal ini merupakan unsur pertama dari tiga perkara yang menyelamatkan (munjiat). Seseorang yang selamat adalah mereka yang merasa selalu diawasi oleh Allah, baik ketika berada di keramaian maupun saat sendirian di ruang rahasia, sehingga ia terjaga dari perbuatan maksiat yang tersembunyi.
Perkara penyelamat kedua adalah sikap proporsional atau al-qasdu dalam kondisi fakir maupun kaya. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa seorang mukmin harus mampu mengelola hartanya dengan adil; tidak terlalu pelit namun juga tidak berlebihan dalam berbelanja. Keseimbangan ini menjadi kunci agar seseorang tidak diperbudak oleh harta benda dan tetap berada di jalur ketaatan dalam kondisi ekonomi apa pun.
Penyelamat yang ketiga adalah berlaku adil, baik dalam keadaan rida maupun marah. Sering kali manusia kehilangan akal sehat dan objektivitasnya saat emosi memuncak, namun mereka yang diselamatkan Allah adalah yang mampu menahan diri dan tetap berpijak pada kebenaran. Kestabilan emosi ini mencerminkan kematangan iman seseorang dalam menghadapi berbagai ujian interaksi sosial sehari-hari.
Beralih pada sisi peringatan, kajian ini mengupas tiga hal yang membinasakan (muhlikat), di mana yang pertama adalah sifat kikir yang ditaati. Sifat pelit yang berlebihan bukan hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga mencekik ketenangan jiwa pelakunya. Di bulan Ramadan ini, umat Islam justru diajak untuk melakukan terapi melawan kikir dengan memperbanyak sedekah secara dipaksa agar terbiasa menjadi dermawan.
Hal membinasakan kedua adalah hawa nafsu yang selalu diikuti (hawan muttaba’). Ustaz Muzaki memberikan analogi bahwa hawa nafsu ibarat anak kecil yang jika tidak disapih akan terus ingin menyusu hingga dewasa. Jika seseorang tidak memiliki keberanian untuk memutus rantai keinginan nafsunya, maka ia akan terus terseret dalam kubangan dosa yang semakin dalam dan sulit untuk dihentikan.
Perkara ketiga yang sangat berbahaya bagi eksistensi amal adalah sifat ujub atau kagum pada diri sendiri. Sifat ini sering kali muncul tanpa disadari ketika seseorang merasa paling berjasa, paling cantik, atau paling pintar. Ujub adalah racun yang menghanguskan pahala karena pelakunya merasa kelebihan yang dimiliki adalah mutlak miliknya, bukan titipan dan karunia dari Allah SWT.

Selain itu, kajian ini memberikan kabar gembira mengenai amalan yang dapat mengangkat derajat manusia (darajat). Menebarkan salam kepada sesama, memberi makan kepada orang yang membutuhkan—terutama memberi takjil berbuka—serta mendirikan salat malam di saat manusia lain terlelap adalah tiga kunci utama. Amalan-amalan ini tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga keharmonisan horizontal dengan sesama.
Tak kalah penting, Ustadz Muzakki juga menguraikan tentang penebus dosa atau kafarat. Tiga amalan sederhana namun berat bobotnya adalah menyempurnakan wudu di saat cuaca dingin, melangkahkan kaki menuju jemaah di masjid atau musala, serta menunggu waktu salat berikutnya. Setiap langkah kaki menuju rumah Allah disebut sebagai penggugur dosa sekaligus pengangkat derajat bagi pelakunya.
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan menarik mengenai bagaimana menyikapi pujian agar tidak terjatuh pada sifat ujub. Ustaz Muzaki menyarankan agar umat Islam senantiasa membalas pujian dengan kalimat “Hadza min fadhli Rabbi” (ini adalah karunia Tuhanku). Kalimat ini menjadi tameng spiritual agar hati tetap rendah hati dan menyadari bahwa segala keindahan yang tampak hanyalah titipan sementara.
Sebagai penutup, Ustadz Muzakki mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan Ramadan sebagai madrasah penyucian hati. Dengan memahami apa yang menyelamatkan dan apa yang membinasakan, diharapkan setiap individu dapat keluar dari bulan suci ini sebagai pribadi yang lebih tangguh secara mental dan lebih jernih secara spiritual, demi meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
Sumber: Ngaji Ngabuburit Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya yang berlangsung pada 23 Februari 2026 (bertepatan dengan 5 Ramadan 1447 H) Bersama Ustadz H. Ahmad Muzakki Al Hafidz