Lebih dari Ritual Rutin, Inilah 4 Fadilah Puasa yang Jarang Diketahui dalam Kitab Maqashidus Shaum

Gus Abdullah Zahir
Gus Abdullah Zahir

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga terbenamnya matahari. Di balik rasa haus yang menyengat dan perut yang kosong, tersimpan samudra hikmah dan kemuliaan yang sering kali luput dari perhatian kita. Memahami fadilah atau keutamaan puasa menjadi krusial agar ibadah yang kita jalankan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan sarana transformasi spiritual yang berkualitas.

Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Gus Abdullah Zahir pada Rabu, 25 Februari 2026, bertempat di Masjid Roudlotul Musyawarah  (Kemayoran), Surabaya. Dalam ceramahnya, beliau mengupas tuntas kitab Maqashidus Shaum karya Sultanul Ulama, Syekh Izzuddin bin Abdus Salam, yang secara spesifik menjelaskan alasan di balik istimewanya ibadah puasa di mata Allah SWT serta bagaimana cara meraih derajat tertinggi di bulan suci.

Pada awal kajiannya, Gus Abdullah Zahir menekankan bahwa puasa memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh ibadah lain, yaitu sifatnya yang sangat privat atau eksklusif. Puasa disebut sebagai ibadah yang hanya melibatkan hamba dan Tuhannya secara langsung. Seseorang bisa saja berpura-pura puasa di depan orang banyak, namun hanya Allah yang tahu apakah ia benar-benar menjaga komitmen tersebut saat sedang sendirian.

Fadhilah pertama yang dibahas adalah Raf’ud Darajat atau pengangkatan derajat. Allah SWT menaikkan derajat orang yang berpuasa karena mereka rela meninggalkan kebutuhan paling mendasar manusia demi ketaatan. Pengorbanan inilah yang membuat pintu-pintu surga dibuka lebar, sementara pintu neraka ditutup rapat. Allah bahkan menyiapkan pintu khusus bernama Ar-Rayyan di surga yang hanya boleh dilewati oleh mereka yang ahli berpuasa.

Fadhilah kedua yang tak kalah penting adalah Takfirul Khatha’at atau penghapusan dosa. Berdasarkan riwayat hadis, Ramadan adalah momentum pelebur dosa bagi mereka yang menjalankannya atas dasar imanan (iman) dan ihtisaban (mengharap rida Allah). Puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh mampu membersihkan noda-noda kesalahan di masa lalu dan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk lahir kembali secara bersih.

Selanjutnya, fadhilah ketiga yang dikupas adalah Kasrusy Syahawat atau mematahkan kekuatan syahwat. Gus Abdullah menjelaskan bahwa rasa lapar dan haus secara spiritual berfungsi meredam keinginan buruk anggota tubuh. Saat perut kosong, ego dan kesombongan manusia cenderung meluruh, sehingga nafsu tidak lagi mendominasi pikiran. Inilah esensi puasa sebagai perisai yang membentengi manusia dari kemaksiatan.

Adapun fadhilah keempat adalah Taktsirush Shadaqat wal ‘Ibadat, yakni mendorong peningkatan sedekah dan ibadah. Dengan merasakan lapar, seseorang akan tumbuh rasa empatinya terhadap kaum fakir miskin. Kesadaran sosial ini memicu semangat untuk berbagi, yang diganjar pahala berlipat ganda oleh Allah. Di bulan ini pula, ibadah sunah dinilai setara dengan ibadah wajib, memotivasi hamba untuk terus memperbanyak ketaatan.

Gus Abdullah Zahir kemudian memaparkan tingkatan puasa merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali. Tingkatan terendah adalah puasanya orang awam yang hanya menahan lapar dan haus secara fisik. Kita diajak untuk tidak berhenti di level ini, karena puasa yang hanya bersifat lahiriah tanpa diiringi penjagaan hati belum menyentuh esensi spiritual yang diharapkan oleh Syekh Izzuddin bin Abdus Salam.

Level selanjutnya adalah puasa khusus, di mana seseorang tidak hanya menahan perut, tetapi juga menjaga seluruh panca indranya dari kemaksiatan. Mata, telinga, dan tangan juga ikut “berpuasa” dari hal-hal yang tidak diridai Allah. Ini adalah tahap di mana kualitas puasa seseorang mulai memberikan pengaruh nyata pada karakter serta perilakunya sehari-hari, sejalan dengan fungsi puasa sebagai perisai.

Puncak tertinggi adalah puasa Khususil Khusus, yang merupakan puasanya para Nabi dan Aulia. Pada tingkatan ini, hati dan pikiran seseorang benar-benar “berpuasa” dari selain Allah. Fokus utamanya bukan lagi sekadar menahan nafsu makan, melainkan menjaga agar seluruh kesadaran hanya tertuju pada kehadiran Sang Khaliq di setiap hembusan napas, yang merupakan bentuk pengangkatan derajat paling mulia.

Sepanjang kajian, Gus Abdullah terus mengingatkan bahwa keberhasilan meraih empat fadhilah tersebut bergantung pada kualitas kejujuran kita. Puasa adalah ibadah eksklusif yang pahalanya dijanjikan langsung oleh Allah tanpa perantara. Oleh karena itu, konsistensi dalam menjaga lisan dan perbuatan selama berpuasa menjadi kunci agar kita tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga, namun juga mendapatkan ampunan total.

Sebagai penutup kajian di Masjid Kemayoran tersebut, Gus Abdullah Zahir mengajak jamaah untuk senantiasa memperbarui niat setiap harinya. Puasa yang berkualitas akan melahirkan pribadi yang lebih bertakwa, sabar, dan memiliki kedermawanan yang tinggi. Diharapkan dengan memahami fadhilah dari kitab Maqashidus Shaum ini, Ramadan tahun ini menjadi momentum bagi kita semua untuk naik kelas di hadapan Allah SWT.

Sumber: Kajian Menjelang Berbuka Masjid Roudlotul Musyawarah  (Kemayoran), Surabaya Bersama Gus Abdullah Zahir mengupas tuntas kitab Maqashidus Shaum karya Sultanul Ulama

E-Buletin