Kabarmasjid.id, Surabaya – Memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan, semangat umat Islam untuk meningkatkan intensitas ibadah semakin memuncak. Salah satu amalan yang menjadi primadona dan kunci utama dalam meraih keberkahan malam Al-Qadar adalah Qiyamul Lail atau shalat malam. Melalui ibadah ini, seorang hamba tidak hanya menjalankan sunnah, tetapi juga membangun dialog spiritual yang sangat personal dengan Sang Pencipta di saat dunia sedang terlelap.
Kajian mendalam mengenai topik ini disampaikan oleh K.H. Abdul Hamid Abdullah, S.H., M.Si., selaku Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, dalam kegiatan Ngaji Ngabuburit yang berlangsung pada Sabtu, 14 Maret 2026. Acara yang bertempat di ruang utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya tersebut bertepatan dengan tanggal 24 Ramadhan 1447 H. Dalam paparannya, Kiai Abdul Hamid menekankan bahwa shalat malam adalah sarana paling efektif untuk menenangkan jiwa dan memperkuat raga di tengah tantangan hidup yang kian kompleks.
Beliau menjelaskan bahwa dasar hukum pelaksanaan shalat malam termaktub jelas dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Muzzammil dan Surah Al-Isra ayat 79. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bangun di sebagian waktu malam sebagai ibadah tambahan yang sangat dianjurkan. Perintah ini bukan sekadar beban ibadah, melainkan sebuah undangan istimewa bagi manusia untuk mendapatkan kedudukan yang terpuji di sisi Allah.
Keistimewaan shalat malam terletak pada pengorbanan yang dilakukan seorang mukmin. Di saat orang lain sedang menikmati tidur nyenyak di bawah selimut yang hangat, ahli Qiyamul Lail justru memilih untuk bersuci dan bersujud. Kiai Abdul Hamid menyebutkan bahwa Allah sangat membanggakan hamba-hamba-Nya yang meninggalkan tempat tidur demi beribadah kepada-Nya di hadapan para malaikat.
Salah satu fokus utama dalam kajian ini adalah kaitan erat antara shalat malam dengan upaya meraih malam Lailatul Qadar. Mengingat malam tersebut memiliki nilai yang lebih baik dari seribu bulan, shalat malam menjadi instrumen utama untuk “berburu” keberkahan tersebut. Barangsiapa yang konsisten menghidupkan malam-malam ganjil dengan shalat dan zikir, maka peluangnya untuk bertemu dengan malam kemuliaan tersebut akan semakin besar.
Selain nilai pahala yang melimpah, shalat malam juga disebut sebagai kunci penyelesaian berbagai persoalan hidup. Kiai Abdul Hamid memaparkan bahwa banyak masalah yang tidak mampu dipecahkan dengan logika manusia, justru menemukan jalan keluarnya melalui “laporan” yang disampaikan saat sujud di tengah malam. Shalat Hajat dan Tahajud menjadi jembatan bagi seorang hamba untuk memohon bantuan langsung kepada Sang Pemilik alam semesta.
Kiai Abdul Hamid juga memberikan tips praktis dalam melaksanakan ibadah ini, seperti pentingnya menjaga kekhusyukan dengan memahami makna ayat yang dibaca. Beliau menyarankan jamaah untuk membaca ayat-ayat yang mampu menyentuh hati, seperti ayat tentang hari kiamat atau kekuasaan Allah, agar timbul rasa harap dan cemas (raja’ dan khauf) yang membawa pada ketulusan ibadah. Air mata yang menetes karena takut dan cinta kepada Allah saat shalat malam akan menjadi saksi di akhirat kelak.
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai teknis shalat malam bagi mereka yang sudah melakukan shalat Witir setelah Tarawih. Kiai Abdul Hamid menegaskan bahwa tidak ada larangan untuk kembali melaksanakan shalat malam seperti Tahajud, Hajat, atau Tasbih meskipun sudah menutup ibadah dengan Witir. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dan luasnya ruang bagi umat Islam untuk terus menambah pundi-pahala selama bulan suci.
Kiai Abdul Hamid juga memberikan ijazah amalan kepada para jamaah, yakni untuk tidak melupakan doa bagi keturunan. Beliau menekankan bahwa kesuksesan seorang anak seringkali merupakan hasil dari “tirakat” atau doa malam orang tuanya. Memohon agar anak-cucu menjadi ahli shalat dan pribadi yang saleh adalah investasi jangka panjang yang paling berharga bagi setiap orang tua muslim.
Ibadah shalat malam tidak hanya terbatas pada Tahajud, tetapi juga mencakup shalat Tasbih yang memiliki keutamaan luar biasa dalam menghapus dosa-dosa masa lalu, baik yang disengaja maupun tidak. Dengan melaksanakan shalat Tasbih secara istiqamah, hati seorang hamba akan menjadi lebih bersih dan doanya lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Ini merupakan kesempatan emas, terutama di hari-hari terakhir Ramadhan yang penuh ampunan.
Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk membudayakan shalat malam dalam keluarga dengan cara yang lembut, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW saat membangunkan anggota keluarganya. Keharmonisan rumah tangga yang dibangun di atas fondasi ibadah malam dipercaya akan mendatangkan ketenangan jiwa (sakinah) dan keberkahan dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.

Sebagai penutup kajian, Kiai Abdul Hamid memimpin doa bersama yang sangat menyentuh, memohon agar seluruh jamaah dipertemukan dengan malam Al-Qadar dan segala hajat mereka dikabulkan. Pesan utama yang dibawa dari Masjid Al Akbar sore itu adalah bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan momentum untuk mereformasi spiritualitas melalui kedekatan dengan Allah di keheningan malam.
Sumber: Ngaji Ngabuburit di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya yang berlangsung pada tanggal 24 Ramadhan 1447 H (14 Maret 2026) Bersama K.H. Abdul Hamid Abdullah, S.H., M.Si