KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam sebuah forum Kajian Pagi yang inspiratif pada 29 Oktober 2025 di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta, Ust Amin Alathos kembali melanjutkan pembahasan mendalam mengenai KitabAyyuhal Walad (Wahai Anakku) karya monumental Imam Al-Ghazali. Setelah sempat beristirahat dari kegiatan haul, kajian ini berfokus pada empat pilar mendasar yang wajib dimiliki oleh seorang Salik—sebutan bagi mereka yang menempuh jalan spiritual menuju keridaan Allah SWT—yang sejatinya merupakan bekal tak ternilai untuk keselamatan di akhirat.
Kitab ini adalah surat nasihat yang ditujukan Imam Al-Ghazali kepada muridnya, namun relevan bagi setiap Muslim yang ingin serius memperbaiki diri dan berhijrah. Ustad Amin Alathos menjelaskan bahwa menjadi seorang Salik bukan sekadar duduk di majelis ilmu, melainkan menjadikan setiap detik kehidupan dipantau oleh Allah, menghindari yang dilarang, dan melaksanakan yang diperintahkan. Keempat pilar ini adalah kunci untuk memastikan perjalanan spiritual kita berada di jalur yang benar.
Pilar pertama adalah memiliki I’tiqadun Shahih atau keyakinan yang benar dan sahih. Keyakinan ini harus bebas dari bid’ah, kokoh, dan sesuai syariat. Ustad mengingatkan bahwa keyakinan yang benar adalah fondasi; tanpa akidah yang kuat, seorang Salik akan mudah goyah atau salah arah.
Kedua, seorang Salik harus memiliki Taubatun Nasuha (taubat yang sesungguhnya). Definisi taubat nasuha adalah pengakuan, penyesalan, dan yang paling krusial, tekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa yang sama. Taubat bukan hanya di lisan, tetapi harus mencapai level menolak kembali pada kesalahan masa lalu.
Namun, bagi banyak orang, kembali terjerumus dalam maksiat setelah bertaubat adalah tantangan yang pahit. Ustad Amin Alathos menekankan, jangan sampai kesulitan mencapai taubat nasuha membuat seseorang putus asa dan berhenti bertaubat sama sekali. Selama masih ada upaya untuk menyesal, kembali bertaubat, dan berusaha keras meninggalkan dosa—meski sering salah—itu masih lebih baik daripada meremehkan taubat karena merasa mustahil.
Pilar ketiga adalah Istirdul Khusum, yaitu memiliki hati yang lapang, rela, dan legowo terhadap musuh atau orang lain. Hal ini bertujuan agar seorang Salik tidak memiliki utang hak atau kewajiban yang tersisa dengan sesama manusia. Kelapangan dada ini memungkinkan seseorang fokus sepenuhnya menghadap Allah SWT tanpa terbebani urusan hak antar-makhluk.
Pilar keempat yang wajib dipenuhi adalah Tahsilu ‘Ilmi Syariah (mendapatkan ilmu syariat). Ilmu ini tidak bisa didapat hanya dengan “ikut-ikutan” atau kata “yang penting”. Ilmu syariat harus didapatkan hingga mencapai level yang mencukupi untuk melaksanakan semua perintah Allah (Awamirullah), seperti tata cara salat yang sah, puasa, dan zakat, serta ilmu-ilmu lain yang menyokong keselamatan di akhirat.
Setelah memaparkan empat kewajiban tersebut, Ustad Amin Alathos kemudian mengutip kisah Imam Syibli yang memilih dan mengamalkan hanya satu hadis dari 4.000 hadis yang ia pelajari, karena ia menemukan keselamatan dan inti ilmu terdahulu dan akhir di dalamnya. Hadis tersebut berisi empat perintah Rasulullah SAW yang menyeimbangkan kehidupan seorang Muslim.
Perintah pertama dan kedua Hadis itu mengajarkan keseimbangan: “Beramallah untuk duniamu seukuran kedudukanmu di dunia (sementara), dan beramallah untuk akhiratmu seukuran kekalnya kamu di sana.” Nasihat ini menyentil realitas, di mana banyak Muslim menghabiskan 24 jam sehari untuk urusan dunia, seolah-olah akan hidup selamanya di dunia, sementara urusan akhirat hanya dijadikan kegiatan “ekstra” atau sisa waktu.
Perintah ketiga berbunyi: “Beramallah untuk Allah seukuran hajatmu kepada-Nya.” Jika kita memiliki hajat (kebutuhan dan permintaan) yang banyak—seperti ingin lunas utang, sehat, selamat di akhirat, dan masuk surga—maka amal dan ibadah kita kepada Allah haruslah sebanding dengan besarnya hajat tersebut.
Perintah terakhir adalah: “Beramallah untuk neraka seukuran sabarmu di atasnya.” Maksudnya, jadikan amal perbuatanmu sebagai wujud ketakutan dan kesabaran yang ekstrem terhadap siksa api neraka. Tahan diri dari maksiat, bersabar dalam ketaatan, dan tunjukkan amal yang mencerminkan perjuangan untuk selamat dari api neraka Allah.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk introspeksi diri. Keempat pilar dan keempat nasihat dari hadis Nabi Muhammad SAW ini adalah peta jalan bagi setiap Muslim. Sudahkah keyakinan kita benar? Sudahkah kita bersabar dalam ketaatan? Dan sudahkah porsi amal akhirat kita sebanding dengan kekekalan yang kita cari? Semoga kita dijadikan hamba yang taat dan mendapatkan keridaan Allah SWT.
Sumber: Kajian Pagi dengan Ustad Amin Alathos mengenai Kitab Ayyuhal Walad di Channel Youtube MJA Solo