Kunci Sukses Akhirat: Ubah Aktivitas Harian Jadi Ibadah

Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA dalam Kajian Maghrib di Masjid Al Falah
Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA dalam Kajian Maghrib di Masjid Al Falah

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Kehidupan dunia seringkali menjebak kita dalam rutinitas yang seolah tak berujung, membuat kita lupa bahwa setiap detik yang berjalan adalah penentu bagi kehidupan yang kekal. Bagaimana memastikan setiap pekerjaan, setiap langkah kaki, bahkan saat kita beristirahat, tidak sia-sia? Hal ini menjadi fokus utama dalam kajian Fikih Ibadah Harian yang disampaikan oleh Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA dalam Kajian Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya pada Kamis 23 Oktober 2025. Kajian ini mengingatkan kita tentang hakikat waktu dan peran amal sebagai satu-satunya bekal menuju akhirat.

Ustadz Agung Cahyadi membuka kajian dengan menegaskan perbedaan karakter antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia adalah “hubungan kerja,” tempat kita beramal dan berupaya, sedangkan akhirat adalah waktu “menerima hasil.” Durasi dunia sangatlah sementara, namun kualifikasi amal di masa inilah yang menentukan nasib abadi kita, baik di surga maupun neraka. Inilah mengapa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah (illa ya’budun).

Poin krusial yang harus dipegang adalah bahwa kondisi saat kematian seseorang (yubatu kullu abdin ala ma mata alaihi) akan menentukan bagaimana ia dibangkitkan. Kematian dapat datang kapan saja, tanpa memandang sehat atau sakit. Oleh karena itu, memastikan bahwa aktivitas harian kita senantiasa bernilai ibadah menjadi sebuah keharusan agar kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Terdapat tiga jenis aktivitas yang diberikan jaminan istimewa oleh Allah SWT: jaminan kecukupan rezeki jika ia masih hidup, dan jaminan surga jika ia mati saat melakukannya. Pertama, orang yang keluar rumah menuju masjid untuk salat dengan niat karena Allah. Kedua, orang yang pulang ke rumah dan membawakan kedamaian serta menunaikan hak-hak keluarganya.

Ketiga, orang yang keluar rumah untuk menjalankan tugas negara atau berjihad. Tiga aktivitas ini, baik yang bersifat ibadah personal (ibadah mahdhah) maupun sosial, menunjukkan bahwa amal perbuatan di luar salat pun dapat menjadi ibadah agung asalkan diniatkan dan dilakukan sesuai syariat.

Selain aktivitas yang berdimensi besar, ibadah harian juga mencakup hal-hal kecil, yaitu melalui doa. Doa adalah ibadah yang harus menjadi kebiasaan rutin kita. Setiap gerakan—dari masuk dan keluar rumah, sebelum dan sesudah makan, hingga menjelang tidur—memiliki doanya. Doa-doa ini secara otomatis mengubah rutinitas menjadi pahala.

Keutamaan membaca doa juga berfungsi sebagai pelindung. Bagi yang membaca doa keluar rumah seperti “Bismillahi tawakkaltu alallah…,” malaikat akan menjamin tiga hal: diberi petunjuk, diberi kecukupan, dan dijaga dari setan. Doa adalah benteng kita dari gangguan setan yang senantiasa menyertai, bahkan saat kita makan atau memasuki rumah.

Ustaz Agung kemudian melanjutkan pembahasan khusus mengenai Al-Qur’an sebagai sumber ibadah harian yang wajib dirutinkan. Al-Qur’an adalah firman Allah, nikmat terbesar, dan sumber petunjuk. Untuk mengambil manfaat darinya, kita harus menjadikannya rutinitas, bukan sekadar menunggu kesempatan atau waktu luang.

Terdapat lima langkah interaksi dengan Al-Qur’an. Pertama adalah Belajar dan Mengajar, karena Nabi bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (Khairukum man ta’allamal-Qur’ana wa ‘allamah). Aktivitas ini harus diberi waktu khusus, jangan sampai kalah dengan waktu yang kita alokasikan untuk urusan dunia.

Kedua, Membaca dan Mendengarkan. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah dengan pahala besar: satu huruf diganjar 10 kebaikan. Bahkan, mendengarkan Al-Qur’an pun diperintahkan Allah dan dapat mendatangkan rahmat-Nya. Penting untuk menjaga adab, seperti tidak memotong bacaan saat sedang berinteraksi dengan firman Allah.

Ketiga, Menghafal dan Menjaga Hafalan (Muraja’ah). Seorang Muslim yang tidak memiliki hafalan diibaratkan rumah yang rusak. Bagi yang sulit menghafal, jangan berputus asa, karena kesulitan yang membuatnya mengulang bacaan justru menambah pahala yang lebih besar.

Keempat, Mengaji Bersama (Tadarus). Kajian bersama untuk membaca, menafsirkan, dan memahami Al-Qur’an akan mendatangkan empat keutamaan: dijaga oleh malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan, dan pelakunya akan dibanggakan oleh Allah di hadapan para malaikat.

Kelima, Mentadabburi. Tujuan akhir diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk ditadabburi—dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merutinkan kelima proses interaksi ini, kita telah memastikan diri menjadi bagian dari umat terbaik, karena segala yang bersentuhan dengan Al-Qur’an akan menjadi baik.

Sebagai penutup, Ustadz Agung Cahyadi menekankan bahwa semua proses interaksi dengan Al-Qur’an dan seluruh aktivitas yang diniatkan karena perintah Allah adalah jaminan bagi kita. Jika kita meninggal saat melakukannya, surga menjadi balasan. Jika kita masih hidup, kita dijamin kecukupan. Marilah kita pastikan setiap jam dalam hari kita bernilai ibadah.

Sumber: KAJIAN MAGHRIB MASJID AL FALAH – Ustadz. Agung Cahyadi, Lc, MA di Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin