KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah keriuhan kota yang tak pernah tidur, oase spiritual tetap menjadi tujuan bagi mereka yang mencari ketenangan batin. Bulan Rajab, yang dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam, menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan kembali hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Melalui tradisi zikir bersama, masyarakat diajak untuk menepi sejenak dari urusan duniawi guna membasahi lisan dengan selawat dan untaian doa.
Kegiatan kajian rutin dan pembacaan Aurad Istighotsah ini diselenggarakan pada Rabu 7 Januari 2026 malam di Masjid Raudhatul Musyawarah, atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kemayoran Surabaya. Acara yang dipandu oleh KH. Abdullah Hasan ini menjadi magnet bagi para jamaah yang ingin mendalami makna spiritualitas Islam di tengah kearifan lokal Surabaya. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa pertemuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya kolektif untuk mengharap rahmat dan rida Allah SWT.
KH. Abdullah Hasan membuka kajian dengan mengingatkan para jamaah akan keistimewaan bulan Rajab. Beliau menjelaskan bahwa Rajab adalah bulan di mana Allah SWT mewajibkan salat lima waktu kepada umat Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa besar Isra Mi’raj. Sejarah mencatat betapa besarnya kasih sayang Allah yang memberikan keringanan dari semula 50 waktu menjadi hanya 5 waktu dalam sehari semalam bagi umat akhir zaman.
Dalam narasinya, Kyai Abdullah juga menyinggung dialog antara Nabi Muhammad dan Nabi Musa terkait keringanan jumlah waktu salat tersebut. Prediksi Nabi Musa saat itu adalah umat Nabi Muhammad akan merasa berat menjalankan kewajiban tersebut meski hanya lima kali. Hal ini menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak meremehkan salat, karena di balik jumlahnya yang sedikit, terdapat tanggung jawab spiritual yang besar untuk ditegakkan secara istikamah.
Lebih lanjut, narasumber menekankan pentingnya meningkatkan kualitas salat, bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Salat yang didirikan secara benar, sesuai syarat dan rukunnya, akan membuahkan dampak sosial yang nyata. Beliau mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa sesungguhnya salat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, sehingga salat yang berkualitas akan menjadi benteng moral bagi setiap individu.
Setelah penyampaian tausiyah, suasana masjid berubah menjadi semakin khidmat saat memasuki prosesi kirim doa atau tahlil. KH. Abdullah Hasan mengajak jamaah untuk mendoakan kerabat dan orang tua yang telah mendahului, termasuk mendoakan keluarga besar Ibu Hajah Irawati yang menjadi bagian dari jamaah malam itu. Tradisi ini mempertegas peran masjid sebagai perekat silaturahmi antara mereka yang masih hidup dengan arwah para pendahulu.
Inti dari kegiatan malam itu adalah pembacaan Aurad Istighotsah yang dilakukan secara berjamaah. Lantunan zikir dan istighfar menggema di ruang utama masjid, menciptakan getaran spiritual yang mendalam. Pembacaan ini merupakan bentuk pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah serta permohonan bantuan (istighotsah) dalam menghadapi berbagai ujian hidup yang semakin kompleks di era modern.
Rangkaian doa tersebut juga melibatkan tawasul kepada para Nabi, sahabat, dan ulama-ulama besar terdahulu. Nama-nama seperti Nabi Adam, Nabi Daud, Nabi Ibrahim, hingga Nabi Musa disebut dalam doa sebagai wasilah keberkahan. Hal ini menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap mata rantai sejarah kenabian yang membawa risalah tauhid ke muka bumi.
Tak lupa, penghormatan juga diberikan kepada para waliyullah yang berjasa menyebarkan Islam di nusantara, khususnya Wali Songo. Nama-nama besar seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, hingga Sunan Gunung Jati disebut satu per satu dengan penuh takzim. Bagi masyarakat Surabaya, tawasul ini memiliki nilai historis dan emosional yang kuat, mengingat kota ini merupakan salah satu pusat penyebaran Islam terpenting di tanah Jawa.
Mendekati akhir acara, jamaah diajak melantunkan Selawat Alfu Alfi atau selawat seribu kali seribu. Lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW ini dibacakan dengan nada yang menyentuh hati, menyebutkan berbagai gelar kemuliaan Rasulullah sebagai Syafi’al Yaumil Mahsyar atau pemberi syafaat di hari kiamat. Sesi ini menjadi puncak kerinduan jamaah kepada sosok teladan agung yang membawa cahaya kebenaran.
Sebagai penutup, KH. Abdullah Hasan memimpin doa keselamatan untuk bangsa dan negara Indonesia. Beliau memohon agar seluruh jamaah diberikan ketetapan iman, kesehatan, dan perlindungan dari segala mara bahaya. Harapan besar disampirkan agar kualitas ibadah setelah keluar dari masjid ini dapat meningkat, membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.
Sumber: Kajian Rutin dan Pembacaan Aurad Istighotsah yang dilaksanakan di Masjid Raudhatul Musyawarah (Masjid Kemayoran) Surabaya oleh KH. Abdullah Hasan