Kabarmasjid.id, Surabaya – Masalah kesehatan mental seperti kecemasan berlebih (anxiety) dan depresi kini tidak lagi menjadi isu medis semata, melainkan fenomena nyata yang makin banyak dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah laju kehidupan modern yang sarat akan tekanan, ajaran Islam sejatinya telah menawarkan pendekatan spiritual yang mendasar untuk mengurai dan mengobati akar permasalahan batin tersebut. Untuk membedah isu ini dari kacamata syariat, sebuah majelis ilmu bertema “Anxiety dan Depresi” diselenggarakan pada Minggu pagi, 2 Agustus 2026, bertempat di Masjid Al-Amin Surabaya, dengan menghadirkan penceramah Ustadz Ahmad Ubaidillah Nasiden, Lc.
Mengawali paparannya, Ustadz Ahmad Ubaidillah Nasiden mengulas tingginya angka gangguan kesehatan mental secara global berdasarkan laporan data kesehatan dunia. Dari sekitar 8 miliar penduduk dunia, sebanyak 1 miliar orang terdata mengidap penyakit mental, di mana kelompok kecemasan (anxiety) menyumbang angka terbesar yaitu lebih dari 400 juta kasus, disusul depresi dengan sekitar 300 juta kasus. Data tersebut juga menunjukkan bahwa kaum perempuan dan generasi muda pada rentang usia 10 hingga 24 tahun menjadi kelompok yang paling rentan terpapar gangguan kecemasan.
Melihat fenomena tersebut, penceramah membedah bahwa di dalam Al-Qur’an dan Hadis, akar masalah dari rasa cemas serta sedih berlebihan (huzn dan ham) dapat disederhanakan menjadi empat faktor utama. Faktor pertama adalah keterikatan serta kesedihan mendalam atas peristiwa masa lalu. Rasa sedih akibat kehilangan barang, sosok tercinta, atau hilangnya kehangatan hubungan di masa lalu sering kali memicu flashback memori buruk sewaktu musibah baru datang.
Sebagai ikhtiar penyelesaian atas trauma dan kesedihan masa lalu, penceramah mencontohkan keteladanan Nabi Ya’qub AS ketika bersedih atas kehilangan putra-putranya. Beliau tidak melampiaskan rasa sedih kepada hal-hal yang tidak syar’i, melainkan mengadukan seluruh keluh kesah dan rasa duka tersebut secara langsung hanya kepada Allah SWT. Mengadukan masalah kepada Sang Pencipta serta menyegerakan salat dua rakaat—sebagaimana kebiasaan Rasulullah SAW ketika dilanda kesusahan—merupakan langkah awal penanganan yang paling efektif.
Akar masalah kedua yang dibahas dalam kajian tersebut adalah rasa takut dan cemas menghadapi masa depan. Ustadz Ahmad Ubaidillah memaparkan bahwa ketakutan berlebih terhadap masa depan berhulu dari ambisi serta penetapan target hidup yang keliru, di mana pikiran dan hati seseorang telah didominasi penuh oleh urusan duniawi.
Untuk mengatasi kecemasan masa depan, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya melatih sifat qana’ah atau merasa cukup atas ketetapan Allah. Jamaah dianjurkan untuk lebih sering melihat orang-orang yang berada di bawahnya dalam urusan materi agar senantiasa bersyukur dan tidak meremehkan nikmat yang telah didapatkan. Selain itu, menanamkan keyakinan mendalam terhadap takdir Allah yang telah dicatat jauh sebelum penciptaan alam semesta akan menjauhkan jiwa dari angan-angan penyesalan “seandainya” yang menjadi pintu masuk gangguan setan.
Selanjutnya, faktor ketiga yang menjadi pemicu tingginya tingkat kecemasan adalah tekanan harta dan beban utang. Beban finansial yang tidak terkelola dengan baik sering kali menjerumuskan seseorang ke dalam kebiasaan buruk seperti berbohong dan melanggar janji, yang pada akhirnya kian memperberat kondisi mental.
Dalam menghadapi tekanan finansial tersebut, Ustadz Ahmad Ubaidillah mengingatkan pentingnya niat lurus untuk melunasi kewajiban serta merutinkan doa-doa pelunas utang yang diajarkan Nabi. Salah satu doa yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib RA menekankan permohonan agar Allah mencukupkan rezeki dengan cara yang halal serta menjauhkan diri dari ketergantungan kepada selain Allah.
Faktor keempat sekaligus yang terakhir adalah tekanan sosial, baik berupa tindakan fisik maupun perkataan dan komentar negatif dari sesama manusia. Di era media sosial saat ini, celaan, cemoohan, atau penilaian netizen acap kali diserap secara berlebihan hingga membuat hati menjadi sesak dan pikiran terganggu.
Guna membentengi diri dari tekanan verbal manusia, penceramah mengutip perkataan Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa meraih keridaan seluruh manusia adalah tujuan yang mustahil dicapai. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk fokus pada hal-hal yang membawa kebaikan bagi dirinya dan tidak perlu menyita waktu serta energi hanya untuk merespons atau memikirkan komentar negatif orang lain.

Kajian ditutup dengan penekanan bahwa penyakit mental membutuhkan penanganan komprehensif, baik dari sisi medis bila terjadi perubahan zat kimia di otak, maupun pendekatan syariat yang menyentuh akar batin. Melalui pemahaman tauhid yang benar, kebiasaan berdoa, salat, serta bersabar atas takdir Allah, seorang muslim diharapkan memiliki ketahanan jiwa yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Sumber: Kajian bertajuk bertajuk “Anxiety dan Depresi” Bersama Ustadz Ahmad Ubaidillah Nasiden, Lc. bertajuk yang diselenggarakan pada Sabtu 2 Agustus 2026 di Masjid Al-Amin