Ketegasan Iman dan Luasnya Pintu Taubat: Catatan Kajian Tafsir At-Taubah

Drs. KH. Abdullah Bahreisy
Drs. KH. Abdullah Bahreisy

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita merasa sulit menerima sebuah keputusan yang tampak tidak adil, namun di balik itu semua, Allah SWT selalu memiliki rencana besar yang tak terduga. Kajian tafsir Al-Qur’an yang berlangsung di Masjid Kemayoran Surabaya pada Jum’at 2 Januari 2026  menghadirkan ulasan mendalam mengenai Surat At-Taubah ayat 1-3. Dalam kajian yang disampaikan oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy ini, para jamaah diajak menyelami sejarah penting tentang bagaimana ketegasan Islam ditegakkan di masa Rasulullah SAW.

Kajian ini menitikberatkan pada momen penting tahun ke-9 Hijriah, di mana Surat At-Taubah turun sebagai pernyataan lepas tangan atau pemutusan hubungan (Bara’ah) dari Allah dan Rasul-Nya terhadap kaum musyrik. Narasumber menjelaskan bahwa ketegasan ini muncul bukan tanpa sebab, melainkan akibat dari pelanggaran janji dan pengkhianatan yang berulang kali dilakukan oleh kaum kafir terhadap umat Muslim pada masa itu.

Salah satu poin unik yang dibahas adalah alasan mengapa Surat At-Taubah tidak diawali dengan kalimat Basmalah. Narasumber memaparkan bahwa surat ini merupakan bentuk peringatan keras dan pernyataan tegas, sehingga langsung dibuka dengan maklumat pemutusan hubungan. Hal ini menandai berakhirnya masa toleransi yang selama ini diberikan kepada mereka yang terus-menerus menentang dakwah Rasulullah dengan cara-cara yang melampaui batas.

Dalam kajian tersebut, diceritakan kembali momen saat Rasulullah SAW mengutus Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk membacakan maklumat ini di hadapan khalayak pada saat musim haji. Ali bin Abi Thalib ditugaskan menyampaikan 40 ayat pertama dari surat ini agar seluruh manusia mengetahui bahwa mulai tahun depan, tidak ada lagi orang musyrik yang diperbolehkan mendekati Ka’bah atau melakukan ibadah haji.

Narasumber juga menyoroti tiga poin utama dalam pengumuman tersebut yang sangat krusial. Pertama adalah pemutusan hubungan total, kedua larangan haji bagi orang kafir, dan ketiga adalah penghapusan tradisi jahiliyah berupa tawaf tanpa busana. Pengumuman ini disampaikan secara luas di tempat-tempat berkumpulnya orang-orang musyrik untuk memastikan pesan tersebut sampai dengan jelas tanpa keraguan sedikit pun.

Menariknya, kajian ini juga menarik mundur sejarah ke Perjanjian Hudaibiyah sebagai latar belakang. Saat itu, Rasulullah menunjukkan kesabaran luar biasa meski banyak sahabat, termasuk Umar bin Khattab, merasa berat hati karena isi perjanjian yang seolah menyudutkan umat Islam. Namun, Rasulullah menegaskan bahwa beliau hanya mengikuti perintah Allah SWT dalam menjalankan diplomasi tersebut.

Kesabaran Rasulullah dalam menghadapi tuntutan kaum musyrik—seperti penghapusan kalimat Bismillahirrahmanirrahim dalam naskah perjanjian—ternyata merupakan strategi besar dari Allah. Narasumber menekankan bahwa kepatuhan total Rasulullah terhadap perintah Allah, meskipun secara logika manusia tampak “mengalah”, justru menjadi pembuka jalan bagi kemenangan yang nyata di masa depan.

Selama masa gencatan senjata 10 tahun yang disepakati, Islam justru menyebar dengan sangat pesat hingga ke pelosok wilayah. Orang-orang mulai melihat kebenaran ajaran Islam melalui perilaku umat Muslim, sehingga ketika kaum musyrik melanggar perjanjian tersebut dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, kekuatan umat Islam sudah jauh lebih solid dan siap untuk melakukan Fathu Makkah.

Ketika Fathu Makkah terjadi, narasumber menjelaskan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Meskipun beliau telah dikhianati, beliau tetap memberikan jaminan keamanan bagi siapa pun yang masuk ke rumah Abu Sufyan atau masuk ke dalam Ka’bah. Ini adalah bukti bahwa ketegasan dalam Islam selalu berjalan beriringan dengan rahmat dan keadilan, bukan sekadar pelampiasan dendam.

Pesan mendalam dari ayat ke-3 Surat At-Taubah juga disampaikan, di mana Allah masih memberikan pintu tobat bagi mereka yang ingin kembali. Allah menyatakan bahwa jika mereka bertobat, itu jauh lebih baik bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa sekeras apa pun teguran Allah, kasih sayang dan ampunan-Nya selalu terbuka bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.

Namun, bagi mereka yang tetap berpaling dan angkuh, Allah memberikan peringatan keras melalui “kabar gembira” yang bersifat ejekan (bisyarah istihza). Narasumber mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang bisa meloloskan diri dari kekuasaan Allah, seberapa pun kuatnya penjagaan atau kekuasaan yang mereka miliki di dunia ini, sebagaimana maut yang datang tanpa bisa dicegah oleh pasukan pengawal.

Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah selalu mengedepankan ketaatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Pelajaran dari Surat At-Taubah ini menjadi pengingat bahwa ketegasan diperlukan untuk menjaga kehormatan iman, namun pintu tobat dan rahmat tetap menjadi landasan utama dalam beragama.

Sumber : Kajian Rutin Al Qur’an Masjid Kemayoran Surabaya Bersama Drs. KH. Abdullah Bahreisy dengan bahasan tafsir Surat At Taubah

E-Buletin