KabarMasjid.id, Surabaya – Kehidupan beragama sering kali terjebak pada pemaknaan ritual semata, seolah kesalehan hanya urusan di atas sajadah. Padahal, inti dari ajaran spiritual juga terletak pada bagaimana seorang individu memosisikan dirinya di tengah masyarakat, terutama saat berhadapan dengan ketidakbenaran. Dalam ruang sosial yang penuh kepentingan, sering kali kita diuji antara menjaga prinsip atau justru hanyut dalam arus kompromi yang merusak.
Kajian rutin yang digelar di Masjid Roudlotul Musyawarah, Kemayoran, Surabaya pada Kamis, 8 Januari 2026, menghadirkan Gus Abdullah Zahir sebagai narasumber utama. Beliau membedah kitab klasik Risalatul Muawanah karya Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad, yang memberikan panduan mendalam tentang pentingnya menjaga kepribadian sosial dan menjauhi sikap-sikap tercela dalam berinteraksi dengan sesama manusia.
Gus Abdullah menekankan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya melalui zikir dan ibadah, tetapi juga sangat menekankan aspek horizontal. Perilaku, akhlak, dan etika sosial menjadi kunci penting bagi siapa pun yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Hal ini sejalan dengan misi utama kenabian, yakni menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.
Salah satu peringatan keras yang disampaikan dalam kajian ini adalah mengenai risiko menjadi orang yang “bangkrut” atau muflis di akhirat. Gus Abdullah menjelaskan bahwa seseorang bisa saja datang di hari pembalasan dengan membawa segunung pahala salat, puasa, dan zakat. Namun, pahala tersebut bisa ludes seketika hanya untuk membayar dosa-dosa sosial, seperti menzalimi orang lain atau mengambil hak yang bukan miliknya.
Fokus utama bahasan kali ini adalah perintah untuk menjauhi sifat mudahanah. Secara terminologi, mudahanah adalah sikap diam atau berkompromi terhadap suatu kemungkaran atau kesalahan yang terjadi di depan mata. Orang yang memiliki sifat ini cenderung membiarkan hal buruk tetap berlangsung tanpa ada upaya untuk meluruskan atau menegur, demi menjaga kepentingan pribadinya.
Mengapa seseorang bisa terjebak dalam sikap mudahanah? Gus Abdullah memaparkan bahwa pemicu utamanya adalah ketakutan akan kehilangan materi, kedudukan, atau keuntungan duniawi. Sering kali, seseorang enggan bersuara karena takut relasinya terputus atau posisinya terancam oleh pihak-pihak yang sedang melakukan pelanggaran tersebut.
Sikap ini tentu berbeda dengan mudarah. Jika mudahanah berarti mengorbankan agama untuk kepentingan dunia, maka mudarah adalah menggunakan pendekatan yang lembut dan bijaksana demi kemaslahatan agama tanpa harus berkompromi dengan kebatilan. Mudarah adalah bentuk diplomasi dakwah, sementara mudahanah adalah bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran.
Di dalam Al-Qur’an, umat Islam diperintahkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, namun dilarang keras bekerja sama dalam dosa dan permusuhan. Gus Abdullah mengingatkan bahwa mendiamkan kemungkaran demi keuntungan sepihak adalah bentuk “komplotan” dalam keburukan yang dapat merusak tatanan sosial secara luas.
Lebih lanjut, kajian ini menyentuh aspek lingkungan yang keruh. Gus Abdullah menjelaskan bahwa sangat sulit bagi seseorang untuk tetap jernih jika berada di lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan. Sering kali, kepercayaan diri seseorang untuk mengubah lingkungan justru berakhir dengan dirinya yang ikut terseret ke dalam arus lingkungan yang negatif tersebut.
Oleh karena itu, jika sebuah lingkungan sudah tidak lagi kondusif dan prinsip-prinsip kebenaran sulit ditegakkan, maka berhijrah atau menjauhkan diri menjadi opsi yang sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan integritas diri dan menghindari dampak sistemik dari kerusakan moral yang ada di lingkungan tersebut.
Pentingnya menjaga diri dan lingkungan ini berkaitan erat dengan cara Allah menurunkan teguran-Nya. Gus Abdullah menjelaskan bahwa jika azab atau musibah turun di suatu tempat, dampaknya akan menimpa semua orang, baik pelaku maksiat maupun orang saleh yang ada di sana. Namun, terdapat perbedaan nilai: bagi orang bermaksiat itu adalah siksa, sedangkan bagi orang saleh itu adalah penghapus dosa (kifarah) dan rahmat.
Sebagai penutup, kajian ini mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali posisi kita dalam kehidupan sosial. Menjadi pribadi yang baik bukan berarti hanya diam dan mencari aman, melainkan berani bersikap dengan integritas. Menghindari mudahanah adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga bermanfaat dan berdampak secara sosial.
Sumber: Kajian kitab Risalatul Muawanah karya Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad di Masjid Roudlotul Musyawarah, Kemayoran Surabaya oleh Gus Abdullah Zahir