Kerinduan Ulama Salaf pada Ramadhan dan Cermin Ketawaduan Rasulullah SAW

Habib Muchsin bin Ali Al-Hamid.
Habib Muchsin bin Ali Al-Hamid.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Mendekati bulan suci Ramadhan, umat Muslim diingatkan kembali untuk menata hati dan memperdalam kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Salah satu caranya adalah dengan menyelami kembali kisah hidup beliau yang penuh dengan kesederhanaan namun sarat akan kemuliaan jiwa. Melalui pemahaman terhadap keseharian Nabi, kita diajak untuk merefleksikan diri sejauh mana nilai-nilai kenabian telah terimplementasi dalam kehidupan modern yang serba instan ini.

Kajian rutin Ba’da Maghrib yang diselenggarakan di Masjid Agung Jami Malang pada Rabu, 4 Februari 2026, menghadirkan Habib Muchsin bin Ali Al-Hamid sebagai narasumber utama. Dalam ceramah yang berlangsung khidmat tersebut, beliau membedah kitab Wasailul Wul ila Syamailir Rasul yang secara spesifik mengulas detail kehidupan dan karakter fisik serta spiritual Rasulullah SAW. Kehadiran jamaah yang memenuhi ruang utama masjid menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat Malang dalam menimba ilmu agama langsung dari keturunan Nabi.

Habib Muchsin mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah mengenai posisi waktu yang saat ini telah memasuki bulan Sya’ban. Beliau menekankan betapa pentingnya bagi setiap Muslim untuk memohon kepada Allah agar disampaikan umurnya hingga ke bulan Ramadhan dalam kondisi sehat walafiat. Kesadaran akan waktu ini menjadi momentum awal untuk membersihkan diri dari penyakit hati sebelum memasuki bulan yang paling mulia.

Dalam pemaparannya, beliau mengutip kerinduan para ulama salafus shalih terhadap Ramadhan yang begitu luar biasa. Ada di antara mereka yang sudah berdoa memohon dipertemukan dengan Ramadhan sejak awal tahun atau bulan Muharram. Bahkan, ada ulama yang rela jika hanya diberikan kesempatan mencicipi satu hari saja di bulan Ramadhan sebelum ajal menjemput, saking besarnya keberkahan yang ada di dalam bulan tersebut.

Memasuki inti kajian kitab, Habib Muchsin menjelaskan tentang potret kesederhanaan tempat tidur Rasulullah SAW berdasarkan riwayat Sayidatuna Aisyah RA. Beliau menggambarkan bahwa dipan milik Nabi bukanlah sesuatu yang mewah, melainkan terbuat dari anyaman daun pohon albardi. Penjelasan ini menjadi kontras yang tajam jika dibandingkan dengan gaya hidup manusia zaman sekarang yang sering kali terlalu mengejar kemewahan material.

Lebih lanjut, Habib Muchsin merinci bahwa selimut yang digunakan Rasulullah juga berisi daun-daun kering, bukan bahan empuk seperti kapas atau dakron. Hal ini menunjukkan bahwa fokus utama kehidupan Nabi bukanlah pada kenyamanan fisik semata, melainkan pada pengabdian kepada Sang Khalik. Kesederhanaan ini bahkan sering kali meninggalkan bekas anyaman pada kulit mulia Nabi saat beliau terbangun dari tidurnya.

Kisah tersebut semakin menyentuh ketika menceritakan reaksi Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar saat melihat bekas anyaman di tubuh Nabi. Kedua sahabat mulia tersebut menangis haru membandingkan kemiskinan materiil pemimpin mereka dengan kemewahan raja-raja di Persia dan Romawi. Namun, Rasulullah dengan tenang menanggapi bahwa kemuliaan sejati bukanlah di dunia yang fana, melainkan di akhirat yang kekal.

Habib Muchsin juga menyoroti sifat low profile Rasulullah yang tidak pernah membangun jarak dengan rakyatnya. Beliau menjelaskan bahwa dalam majelis, sering kali tamu asing tidak bisa membedakan mana yang merupakan Rasulullah karena beliau duduk membaur bersama sahabat tanpa singgasana yang tinggi. Sikap membumi ini adalah teladan nyata bagi para pemimpin dan tokoh masyarakat saat ini agar tetap dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Ketawaduan Nabi juga terlihat jelas dari interaksi beliau dengan kaum yang paling rendah status sosialnya saat itu, seperti para budak. Habib Muchsin menceritakan bagaimana Nabi tidak segan memegang tangan seorang budak untuk makan bersama dalam satu nampan. Hal ini membuktikan bahwa di mata Rasulullah, nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh status sosial atau harta, melainkan oleh ketakwaan dan kebersihan hatinya.

Sifat pemaaf Nabi pun menjadi sorotan penting dalam kajian ini, terutama saat peristiwa Fathu Makkah. Meskipun memiliki kekuatan 10.000 tentara untuk membalas dendam atas penindasan yang beliau terima selama bertahun-tahun, Rasulullah justru memilih untuk membebaskan dan memaafkan penduduk Makkah. Beliau memasuki kota dengan kepala tertunduk saking tawadunya kepada Allah atas kemenangan yang diberikan.

Disisipkan pula kisah inspiratif tentang hubungan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar yang saling memuliakan dalam hal memberi salam. Habib Muchsin menjelaskan bahwa Abu Bakar sengaja menunggu Umar memulai salam agar sahabatnya itu mendapatkan pahala berupa rumah di surga. Persaingan dalam kebaikan tanpa rasa iri hati seperti inilah yang seharusnya menjadi fondasi dalam hubungan persaudaraan sesama Muslim.

Sebagai penutup, Habib Muchsin mengajak seluruh jamaah untuk tidak sekadar mengagumi kisah-kisah tersebut, tetapi juga berusaha menjadikannya pedoman hidup. Beliau berharap agar pengenalan terhadap sosok Nabi melalui kajian kitab ini dapat mempertebal rasa cinta atau mahabbah yang akan berbuah pada syafaat di hari kiamat nanti. Kajian pun diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan seluruh umat dalam menyambut bulan Ramadhan.

Sumber: Pengajian Rutin Ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang oleh Habib Muchsin bin Ali Al-Hamid.

E-Buletin