Kabarmasjid.id, Surabaya – Kajian tafsir Al-Qur’an yang mendalam kembali digelar untuk mempertebal iman dan memperluas wawasan keislaman jamaah di tengah dinamika zaman. Kajian ini disampaikan langsung oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy yang bertempat di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Kamis, 7 Mei 2026. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas rahasia di balik kemenangan dan ujian yang dialami umat Islam melalui lensa Surah At-Taubah ayat 24 hingga 27.
Pada bagian awal kajian, KH. Abdullah Bahreisy menekankan pentingnya menjaga garis demarkasi antara iman dan kekufuran. Merujuk pada ayat 24, dijelaskan bahwa seorang mukmin dilarang menjadikan orang-orang kafir sebagai wali atau pemimpin setia, meskipun mereka memiliki hubungan darah yang sangat dekat seperti ayah atau saudara kandung. Hal ini menjadi prinsip dasar dalam menjaga integritas akidah agar tidak goyah oleh kepentingan duniawi atau ikatan emosional yang bertentangan dengan syariat.
Namun, Islam adalah agama yang moderat dan penuh kasih sayang dalam konteks sosial. Beliau menjelaskan bahwa larangan menjadikan wali tidak menghapuskan kewajiban berbakti kepada orang tua. Meskipun orang tua berbeda keyakinan, seorang anak tetap wajib melayani, memberi nafkah, dan memperlakukan mereka dengan cara yang terbaik (ma’ruf). Garis tegasnya adalah tidak mengikuti perintah mereka jika itu berkaitan dengan kesyirikan, namun tetap menjaga hubungan kemanusiaan dengan penuh kelembutan.
Kisah heroik sahabat Saad bin Abi Waqqas diangkat sebagai contoh nyata dalam kajian di Masjid Kemayoran ini. Saat ibunya melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes atas keislaman Saad, ia tetap menunjukkan bakti dengan menyuapi dan merawat ibunya. Namun, dengan iman yang kokoh, Saad menyatakan bahwa meskipun ibunya memiliki seribu nyawa dan keluar satu per satu, ia tidak akan meninggalkan agama Muhammad SAW. Ketegasan ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus berada di atas segalanya.
Memasuki pembahasan ayat 25, jamaah diajak merenungkan peristiwa Perang Hunain yang penuh pelajaran. KH. Abdullah Bahreisy mengisahkan bagaimana saat itu umat Islam merasa sangat percaya diri, bahkan cenderung sombong, karena memiliki jumlah pasukan yang sangat besar mencapai 10.000 personil. Ini adalah jumlah terbesar dalam sejarah peperangan Islam hingga saat itu, sehingga muncul perasaan bahwa kemenangan pasti diraih semata-mata karena keunggulan kuantitas.
Namun, Allah SWT memberikan pelajaran berharga melalui peristiwa tersebut untuk mengikis rasa bangga diri. Rasa bangga terhadap jumlah (‘ujub) justru menjadi bumerang ketika pasukan musuh dari suku Hawazin melakukan serangan mendadak dengan hujan panah yang bertubi-tubi. Pasukan Islam yang tadinya merasa kuat seketika kocar-kacir dan lari ke belakang, menunjukkan bahwa kekuatan fisik manusia tidak ada artinya tanpa perlindungan Ilahi.
Dalam situasi kritis tersebut, bumi yang luas terasa sempit bagi mereka karena kebingungan dan rasa takut yang luar biasa. Beliau menekankan bahwa peristiwa ini adalah teguran keras dari Allah agar umat tidak pernah menyandarkan harapan pada angka, materi, atau kekuatan sendiri. Hanya sekitar 80 hingga 100 orang sahabat yang tetap teguh berdiri di samping Rasulullah SAW di tengah kepungan musuh yang sangat agresif.
Di tengah kekacauan itu, Allah kemudian menurunkan sakinah atau ketenangan ke dalam hati Rasulullah SAW dan orang-orang mukmin yang tersisa. Ketenangan inilah yang membuat Rasulullah tetap tenang dan berani maju ke depan menghadapi musuh. Dengan bantuan paman beliau, Al-Abbas, yang memiliki suara lantang untuk memanggil kembali pasukan, umat Islam akhirnya menyadari kekhilafan mereka dan kembali merapatkan barisan.
Kajian ini juga mengungkap sisi supranatural dari kemenangan Hunain, di mana Allah mengirimkan “tentara yang tidak terlihat” atau malaikat untuk membantu kaum mukmin. Keajaiban terjadi saat Rasulullah melemparkan pasir ke arah musuh yang menyebabkan mata pasukan kafir mengalami kebutaan sesaat. Hal ini mempertegas pesan utama KH. Abdullah Bahreisy bahwa segala daya manusia hanyalah perantara, sementara penentu kemenangan adalah hak mutlak Allah SWT.
Sebagai pengingat akan kemahakuasaan Allah, beliau memberikan analogi sejarah tentang bagaimana Allah menghancurkan kesombongan dengan makhluk yang dianggap lemah. Raja Namrud yang sangat berkuasa dihancurkan hanya oleh seekor lalat yang masuk ke hidungnya, sementara pasukan gajah Abraha ditumpas oleh burung-burung kecil pembawa kerikil panas. Ini adalah pesan bagi siapa pun agar tidak pernah merasa besar di hadapan Sang Pencipta.
KH. Abdullah Bahreisy mengingatkan jamaah untuk selalu mengawali segala sesuatu dengan Bismillah dan mengakhirinya dengan Tawakal. Kalimat La haula wala quwwata illa billah harus menjadi nafas dalam setiap perjuangan hidup, karena manusia sama sekali tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan Allah. Tanpa izin-Nya, usaha sekeras apa pun tidak akan membuahkan keberkahan yang nyata.

Sebagai penutup, kajian ini memberikan harapan tentang luasnya ampunan Allah bagi hamba-Nya yang mau bertaubat. Bagi mereka yang sempat khilaf, sombong, atau melakukan kesalahan dalam perjuangan, pintu ampunan selalu terbuka lebar. Allah adalah Ghafur (Maha Pengampun) dan Rahim (Maha Penyayang) yang senantiasa menanti hamba-Nya untuk memperbaiki diri setelah mendapat pelajaran dari setiap ujian yang diberikan.
Sumber: Kajian ini tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 24-27 yang disampaikan oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada 1 Mei 2026.