Kabarmasjid.i, Solo – Manusia sering kali terjebak dalam hiruk-pikuk pencapaian duniawi hingga melupakan esensi dari setiap kenikmatan yang digenggamnya. Dalam sebuah majelis ilmu yang sarat akan makna, terungkap bagaimana setiap tindakan manusia, baik yang dilakukan oleh pemimpin maupun rakyat jelata, memiliki konsekuensi sistemik yang dapat mendatangkan keberkahan atau justru mengundang bencana bagi sebuah peradaban.
Kajian kitab Sofwatuttafasir dalam Majelis Salaf Rouhah ini dilaksanakan secara langsung di Masjid Riyadh, Solo, pada Sabtu 14 Februari 2026 dengan menghadirkan Ustadz Ali Bin Hasan Alhabsyi. Beliau membedah secara mendalam ayat-ayat dalam Surah Al-Isra yang berkaitan dengan hukum Allah mengenai kehancuran suatu kaum dan perbedaan orientasi hidup antara pemburu dunia dan pencari akhirat.
Dalam penjelasannya, Ustadz Ali Bin Hasan Alhabsyi menekankan bahwa Allah tidak akan membinasakan suatu kaum secara sewenang-wenang. Kebinasaan sebuah wilayah biasanya dimulai ketika mereka yang “mutrofiha”—yakni orang-orang yang diberikan kemewahan dan kekuasaan—justru melakukan kefasikan dan melanggar perintah-perintah Allah yang disampaikan melalui lisan para Rasul.
Hal ini memberikan peringatan keras bahwa kemakmuran suatu bangsa bisa menjadi ujian yang mematikan. Ketika para pemimpin dan orang-orang kaya di suatu tempat sudah tidak lagi pandai bersyukur dan justru menyebarkan kemaksiatan secara terang-terangan, maka secara hukum ilahi, wilayah tersebut sedang menunggu waktu datangnya azab.
Menariknya, beliau menjelaskan bahwa azab Allah tidaklah turun secara instan begitu kemaksiatan terjadi. Ada jeda waktu yang diberikan Allah sebagai bentuk rahmat, agar manusia memiliki kesempatan untuk bertaubat. Namun, jika hujah dan peringatan terus diabaikan hingga kemaksiatan itu “tidak bisa lagi diobati”, barulah kehancuran itu diturunkan secara mutlak.
Kajian ini juga menepis anggapan bahwa bencana yang menimpa suatu daerah berarti seluruh penduduknya adalah orang jahat. Mengutip hadis Rasulullah, Ustadz Ali menjelaskan bahwa ketika azab turun, ia bisa menimpa siapa saja di tempat itu, namun kelak di akhirat, setiap individu akan dibangkitkan dan dibalas sesuai dengan niat serta amalan masing-masing.
Lebih lanjut, tulisan ini menyoroti pembagian dua kelompok manusia dalam memandang kehidupan. Kelompok pertama adalah mereka yang hanya mengejar “al-ajilah” atau dunia yang fana. Bagi kelompok ini, Allah mungkin memberikan apa yang mereka inginkan di dunia, namun itu hanya terbatas pada apa yang Allah kehendaki, bukan semua yang mereka harapkan.
Konsekuensi bagi pemburu dunia tanpa iman adalah kerugian ganda. Di dunia mereka tidak mendapatkan kepuasan penuh, dan di akhirat mereka harus menghadapi neraka Jahanam dalam keadaan terhina dan jauh dari rahmat Allah. Hal ini dikarenakan seluruh jerih payah mereka hanya diniatkan untuk kesenangan sesaat yang tidak berakar pada pengabdian kepada Sang Pencipta.
Sebaliknya, kelompok kedua adalah mereka yang orientasi hidupnya adalah akhirat. Mereka tidak hanya sekadar berharap, tetapi “wasa’a laha sa’yaha”, yakni bekerja keras dengan amalan-amalan yang nyata. Syarat utama agar kerja keras ini diterima di sisi Allah adalah adanya dasar keimanan yang kokoh di dalam hati.
Bagi orang beriman, setiap kebaikan akan mendapatkan apresiasi atau “maskuro” dari Allah. Penting untuk dipahami bahwa orang yang melakukan kebaikan tanpa iman tetap akan dibalas oleh Allah yang Maha Adil di dunia sebagai bentuk keadilan-Nya, namun mereka tidak akan memiliki sisa tabungan pahala saat memasuki gerbang akhirat nanti.
Ustadz Ali Bin Hasan Alhabsyi juga mengingatkan agar umat Islam tidak iri melihat kemewahan orang-orang yang tidak beriman. Kemewahan tersebut hanyalah pemberian duniawi yang sifatnya menyeluruh untuk semua makhluk. Harta bukanlah indikator kecintaan Allah, karena jika harta adalah ukuran kemuliaan, maka Rasulullah SAW tidak akan tidur di atas alas kasar hingga membekas di tubuhnya.
Sebagai penutup, Ustadz Ali Bin Hasan Alhabsyi ini mengajak jamaah untuk merefleksikan kembali niat di balik setiap aktivitas harian. Apakah kita sedang membangun istana pasir di dunia yang akan segera sirna, atau sedang menanam benih di dunia untuk dipanen di akhirat yang abadi? Keadilan Allah itu pasti, dan setiap langkah kita sedang menuju balasannya masing-masing.
Sumber: kajian Majelis Salaf Rouhah yang diadakan di Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ali Bin Hasan Alhabsyi. Kajian ini membahas kitab Sofwatuttafasir