KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika, sering kali manusia terjebak di antara rasa optimisme yang berlebihan hingga melupakan batasan, atau sebaliknya, terperosok dalam keputusasaan akibat beban dosa yang dirasa tak terampuni. Keseimbangan batin menjadi kunci utama agar seorang hamba tetap tegak berdiri di atas jalan ketaatan. Salah satu konsep fundamental dalam menjaga stabilitas spiritual tersebut adalah memahami hakikat Raja’ atau harapan kepada Allah SWT secara benar.
Kajian mendalam mengenai tema ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. dalam sesi “Tazkiyatun Nufus: Raja’ (Harap)” yang berlangsung di Masjid Al-Irsyad pada tanggal 25 Januari 2026. Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan bahwa Raja’ bukanlah sekadar angan-angan kosong, melainkan sebuah energi penggerak yang harus dibersamai dengan amal nyata. Sebagai narasumber, beliau mengupas tuntas bagaimana seharusnya seorang muslim memosisikan harapan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ustadz Sholeh mengawali penjelasannya dengan mengutip perkataan Ibnu Qayyim yang mengibaratkan dua perasaan penting dalam diri manusia, yaitu Khauf (takut) dan Raja’ (harap), layaknya dua sayap burung. Seekor burung hanya akan mampu terbang tinggi secara seimbang jika kedua sayapnya berfungsi dengan baik. Demikian pula dengan iman seseorang; jika rasa takut terlalu mendominasi, ia akan mudah stres dan putus asa, namun jika rasa harap terlalu tinggi tanpa dibarengi rasa takut, ia akan cenderung meremehkan dosa.
Memasuki bulan Syakban, kajian ini menjadi sangat relevan sebagai sarana persiapan mental menuju Ramadan. Ustaz mengingatkan bahwa rahmat Allah itu sangat luas, namun tidak datang secara instan atau “simsalabim”. Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 218, beliau menjelaskan bahwa mereka yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menjaga imannya, berhijrah dari keburukan, dan bersungguh-sungguh (jihad) di jalan-Nya.
Hijrah yang ditekankan dalam kajian ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan hijrah maknawi. Di era modern, hijrah berarti berpindah dari kebiasaan yang tidak bermanfaat menuju aktivitas yang diridai, seperti mulai rutin salat berjamaah atau meninggalkan muamalah yang mengandung riba. Perubahan perilaku ini menjadi bukti autentik bahwa harapan seseorang akan surga Allah bukanlah sekadar klaim di lisan, melainkan sebuah perjuangan transformasi diri yang konsisten.
Selain hijrah, konsep jihad juga diperluas maknanya. Ustaz Sholeh memaparkan lima sasaran jihad, di mana salah satu yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu dan setan. Setan selalu mencari celah selama 24 jam untuk menjatuhkan manusia, namun kekuatannya akan hancur seketika saat seorang hamba membasahi lisannya dengan zikir dan menjaga kesucian dengan wudu. Inilah bentuk pertahanan spiritual yang harus dibangun oleh setiap muslim yang berharap akan perlindungan-Nya.
Lebih lanjut, Ustaz mengajak jemaah untuk merenungkan QS. Al-Kahfi ayat 110 mengenai kerinduan berjumpa dengan Allah. Pertemuan dengan pencipta alam semesta tentu jauh lebih mulia daripada pertemuan dengan pejabat atau tokoh besar di dunia. Oleh karena itu, bagi siapa saja yang merindukan pertemuan tersebut, syarat mutlaknya adalah memperbanyak produksi amal saleh dan menjaga kemurnian tauhid agar tidak terjerumus dalam kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
Dalam aspek sosial, harapan akan keberkahan hidup juga harus diwujudkan melalui kedermawanan. Ustaz Sholeh mendorong agar jemaah tidak hanya fokus pada ritual pribadi, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap sesama. Beliau mencontohkan semangat memberi takjil di bulan Ramadan sebagai salah satu pintu jihad harta. Dengan memberikan makan orang yang berpuasa, seseorang akan mendapatkan pahala yang sempurna tanpa mengurangi pahala orang yang diberi makan tersebut.
Kajian ini juga menyentuh aspek literasi spiritual melalui QS. Fatir ayat 29. Beliau menekankan pentingnya menjadi pribadi yang tidak pernah lepas dari Al-Qur’an dan salat. Menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan utama di atas segala jenis informasi dari media sosial adalah kunci ketenangan hati. “Perniagaan yang tidak akan rugi” adalah investasi waktu dan tenaga untuk selalu akrab dengan kalamullah dalam setiap situasi.
Bagi mereka yang sering merasa lelah dengan hiruk-pikuk dunia, Ustadz Sholeh menawarkan solusi melalui salat malam (tahajud). Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Az-Zumar ayat 9, orang-orang yang cerdas (Ulul Albab) adalah mereka yang bangun di tengah malam, bersujud, dan ruku dengan penuh ketundukan. Di saat itulah, harapan akan rahmat Allah memuncak dan memberikan kekuatan bagi jiwa untuk menghadapi hari esok dengan lebih optimis.
Pada bagian akhir kajian, Ustadz Sholeh menekankan bahwa waktu di bulan Syakban yang tersisa tinggal sedikit lagi sebelum memasuki bulan suci. Beliau mengajak seluruh jemaah untuk memaksimalkan setiap potensi kebaikan yang ada, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Persiapan yang matang di bulan ini akan menentukan kualitas ibadah kita di bulan Ramadan nanti.
Sumber: Kajian “Tazkiyatun Nufus: Raja’ (Harap)” yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. di Masjid Al-Irsyad.