Jangan Zalimi Diri: Menata Kembali Prioritas Ibadah di Tengah Bulan-Bulan Haram

Ustadz Ir. H. Bangun Samudra
Ustadz Ir. H. Bangun Samudra

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya Kehidupan urban sering kali menjebak kita dalam ritme yang mekanis, di mana waktu berlalu hanya dalam hitungan angka dan target pencapaian materi. Namun, dalam tradisi Islam, waktu bukan sekadar durasi, melainkan ruang bagi transformasi spiritual, terutama ketika memasuki fase yang disebut sebagai Asyhurul Hurum. Memahami keutamaan waktu-waktu khusus ini menjadi penting agar kita tidak sekadar lewat, namun mampu memetik esensi keberagaman yang mendalam melalui bimbingan ilmu.

Kajian bertajuk “Keutamaan Bulan Haram” ini disampaikan oleh Ustadz Ir. H. Bangun Samudra pada Senin (27 April 2026) di Masjid Al-Falah, Surabaya. Di hadapan jamaah yang memadati masjid ikonik di Jalan Darmo tersebut, beliau membedah bagaimana seorang Muslim seharusnya memposisikan diri di tengah bulan-bulan yang telah dikuduskan oleh Allah SWT sejak penciptaan alam semesta, sembari menyisipkan humor segar khas Jawa Timuran yang menjadi ciri khasnya.

Pada awal paparannya, Ustadz Bangun Samudra menekankan bahwa kehadiran seseorang di majelis ilmu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bentuk “pilihan” langsung dari Sang Pencipta. Mengutip hadis riwayat Bukhari, beliau menjelaskan bahwa indikator utama Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba adalah ketika hamba tersebut digerakkan hatinya untuk memahami agama (tafaqquh fiddin). Di tengah hiruk-pukuk kota, melangkahkan kaki ke masjid merupakan sebuah kemewahan spiritual yang harus disyukuri.

Memasuki inti kajian, beliau merujuk pada QS. At-Taubah ayat 36 yang menegaskan adanya 12 bulan dalam setahun, di mana empat di antaranya adalah bulan haram: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Pesan sentral dari ayat tersebut adalah larangan untuk menzalimi diri sendiri selama bulan-bulan tersebut. Larangan ini bukan sekadar urusan menghindari dosa besar, tetapi juga peringatan agar kita tidak menyia-nyiakan momentum ketika pintu rahmat dibuka lebih lebar dari biasanya.

Secara matematis-spiritual, bulan-bulan ini menawarkan sistem “multiplikasi pahala” yang luar biasa sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap kelemahan manusia. Beliau menjelaskan bahwa setiap amal kebaikan di bulan haram dilipatgandakan mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Logika ini dihadirkan untuk memotivasi umat agar lebih giat beribadah, mengingat catatan amal manusia sering kali dipenuhi dengan kekhilafan yang dalam istilah Suroboyoan disebutnya sebagai mbes, bulet, atau blinsat.

Ustadz Bangun Samudra juga menyoroti pentingnya meneladani Rasulullah dalam lima dimensi utama: ibadah, syariat, akhlak, muamalah, dan ukhuwah. Kelima pilar ini menjadi syarat mutlak bagi seorang hamba untuk mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan dosa. Meneladani Nabi bukan berarti sekadar menjalankan ritual, melainkan memastikan bahwa seluruh aspek kehidupan kita memiliki landasan ilmu yang benar, bukan sekadar mengikuti perasaan atau logika pribadi yang keliru.

Dalam konteks sosial, kajian ini menyentuh aspek kedermawanan melalui manajemen infak dan sedekah. Mengacu pada QS. Al-Furqan ayat 67, beliau mengajak jamaah untuk mengambil “jalan tengah” dalam berderma—tidak berlebihan hingga mengabaikan kebutuhan sendiri, namun juga tidak kikir. Konsep ini mengajarkan moderasi finansial yang sehat, di mana kualitas ketaatan diukur dari konsistensi dan kejujuran hati dalam berbagi, baik di waktu lapang maupun sempit.

Ada sebuah anekdot menarik yang dibagikan mengenai fenomena keberagamaan yang kehilangan substansi ilmu, seperti jamaah yang menambah rakaat salat Subuh menjadi tiga hanya karena merasa “sedang capek”. Fenomena ini disebutnya sebagai “bocor halus” dalam beragama—bersemangat tapi tanpa tuntunan. Hal ini menjadi pengingat bagi kaum urban agar dalam beragama tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi harus tetap bersandar pada otoritas keilmuan yang sahih.

Lebih lanjut, beliau membedah keistimewaan ibadah puasa yang disebut sebagai amalan bighairi hisab atau tanpa batas. Berbeda dengan salat atau sedekah yang memiliki angka pelipatan tertentu, pahala puasa diberikan langsung oleh Allah sesuai dengan tingkat kesabaran pelakunya dalam menahan syahwat. Di bulan-bulan haram, puasa menjadi sarana paling efektif untuk mengikis ego dan memperkuat ketahanan mental serta spiritual seorang hamba.

Beliau juga mengingatkan bahwa keberagaman yang inklusif harus tercermin dalam sikap tidak mudah menyalahkan namun tetap teguh pada prinsip. Sebagaimana Rasulullah yang selalu ingin tampil berbeda dari tradisi kaum lain, umat Islam diajak untuk memiliki identitas yang kuat namun tetap membawa rahmat bagi lingkungan sekitarnya. Pengalaman pribadi beliau sebagai seorang mualaf sering kali memperkaya perspektif betapa Islam adalah agama yang sangat logis dan teratur.

Menjelang akhir kajian, suasana masjid menjadi lebih kontemplatif saat membahas keterbatasan umur manusia. Tidak ada yang tahu kapan jatah usia berakhir, sehingga memanfaatkan bulan-bulan mulia yang sedang berjalan ini menjadi urgensi yang mendesak. Mengoptimalkan amal fardu dan memperbanyak amal sunah di waktu-waktu ini adalah investasi terbaik sebelum manusia kembali ke haribaan-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Sumber: kajian bertema “Keutamaan Bulan Haram” yang disampaikan oleh Ustadz Ir. H. Bangun Samudra di Masjid Al-Falah, Surabaya, pada hari Senin, 27 April 2026.

E-Buletin