Kabarmasjid.id, Surabaya – Penyakit hati sering kali menjadi musuh tersembunyi yang merusak amal ibadah seorang Muslim tanpa disadari. Di antara sekian banyak noda yang dapat mengotori kesucian jiwa, sifat sombong dan ujub merupakan dua penyakit batin yang paling diwaspadai karena dampaknya yang fatal bagi keselamatan di akhirat. Untuk mengupas tuntas fenomena ini, Masjid Al-Hilal Surabaya menyelenggarakan kajian kitab Mukhtasar Minhajil Qasidin karya Al Imam Ibnu Qudamah pada hari Rabu, 1 Juli 2026, yang disampaikan secara mendalam oleh Ustadz Budi Santoso, Lc., M.Pd.
Dalam pemaparannya, Ustadz Budi Santoso menjelaskan bahwa sombong (alkibr) pada hakikatnya merupakan akhlak batin yang bersumber dari dalam hati. Namun, noda hitam ini tidak akan selamanya tersembunyi; ia lambat laun akan termanifestasi dan terlihat jelas dalam ucapan, tulisan, maupun perbuatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Secara bahasa, sombong diartikan sebagai perasaan merasa lebih kuat, merasa tinggi, atau merasa memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Lebih lanjut, jika ditinjau dari segi istilah syariat yang merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim, sombong memiliki dua pilar utama, yaitu menolak kebenaran (bathorul haqqi) dan meremehkan sesama manusia (wagomtunas). Ketika seseorang menolak kebenaran yang datang dari Al-Qur’an dan hadis yang sahih hanya karena ego, maka saat itulah kesombongan telah bertahta di hatinya. Begitu pula ketika ia memandang rendah orang lain karena status sosial, profesi, atau pekerjaannya.
Al-Qur’an sendiri telah mengabadikan banyak sejarah kelam makhluk-makhluk terdahulu yang binasa akibat memelihara sifat ini. Contoh paling nyata adalah iblis, yang dilaknat dan dikeluarkan dari surga karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud menghormati Nabi Adam alaihi salam. Kesombongan iblis yang merasa asal-usul penciptaannya lebih mulia telah menutup mata hatinya dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
Selain iblis, sifat takabur ini juga menjadi penyakit menahun umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Kisah kaum Nabi Nuh menjadi bukti nyata bagaimana kesombongan membuat mereka menutup telinga rapat-rapat dengan jari dan menyembunyikan kepala di dalam baju agar tidak mendengarkan dakwah. Kedongkolan batin tersebut membuat mereka terus-menerus berada dalam penolakan hingga azab banjir besar menenggelamkan mereka.
Begitu pula dengan kaum ‘Ad pada masa Nabi Hud yang teperdaya oleh kekuatan fisik mereka sendiri. Dengan postur tubuh yang besar dan kuat, mereka mampu memahat gunung-gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal tanpa bantuan alat berat. Kekuatan fisik ini memicu kesombongan besar hingga mereka dengan angkuh menantang dan bertanya tentang siapa yang lebih kuat dari mereka di muka bumi, melupakan fakta bahwa Allah yang menciptakan mereka jauh lebih maha kuat.
Ancaman bagi orang yang memelihara kesombongan ini sangatlah berat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, walau hanya seberat biji sawi. Namun, Ustadz Budi Santoso meluruskan bahwa keinginan seseorang untuk berpenampilan rapi, memakai pakaian atau sepatu yang bagus dan halal, tidaklah termasuk kesombongan, karena Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.
Lebih mengerikan lagi, ada golongan manusia yang mendapatkan ancaman berlipat-lipat di hari kiamat berupa tidak akan diajak bicara, tidak disucikan, dan tidak dilihat oleh Allah, serta mendapatkan azab yang pedih. Salah satu dari tiga kelompok tersebut adalah orang miskin yang sombong. Jika orang kaya yang sombong saja sudah merupakan dosa besar, maka orang miskin yang sombong dinilai sangat keterlaluan karena tidak ada alasan duniawi yang bisa menjadikannya bertingkah congkak.
Ustadz Budi kemudian memaparkan beberapa faktor yang kerap menjadi pemicu timbulnya kesombongan pada diri manusia. Faktor-faktor tersebut meliputi garis keturunan atau nasab, melimpahnya harta kekayaan seperti yang terjadi pada Qarun, kelebihan berupa kecantikan atau ketampanan wajah, kekuatan fisik yang gagah, hingga banyaknya jumlah pengikut, murid, maupun followers di era modern saat ini.
Untuk mengobati penyakit sombong ini, kaum Muslimin diajak untuk kembali mengenali hakikat dirinya yang lemah dan diciptakan dari tanah yang diinjak-injak, serta bermula dari air mani yang hina. Obat kedua adalah senantiasa mengingat bahwa seluruh fasilitas duniawi seperti kecerdasan, jabatan, dan harta bisa diambil kembali oleh Allah kapan saja dengan sangat gampang. Ketiga, manusia harus mempertebal makrifatullah atau mengenal keagungan Allah agar sadar betapa kecilnya diri kita di alam semesta ini.
Di samping sombong, noda hati lain yang dibahas adalah ujub, yaitu perasaan kagum terhadap diri sendiri dan merasa paling berjasa atas amal ibadah atau dakwah yang telah dilakukan. Penyakit ujub ini dapat melanda siapa saja, termasuk orang-orang yang rajin beribadah dan bersedekah. Sifat ini sangat berbahaya karena dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah payah dilakukan.

Sebagai penutup kajian, Ustadz Budi Santoso menekankan bahwa obat utama dari sifat ujub adalah kesadaran bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa menjamin amalnya diterima oleh Allah SWT. Selain itu, kemampuan kita untuk melangkah ke masjid dan beramal saleh sepenuhnya adalah karena pertolongan dan hidayah Allah, bukan karena kehebatan pribadi. Terlebih, sebuah hadis sahih mengingatkan bahwa amal ibadah kita bukanlah mahar utama yang memasukkan kita ke surga, melainkan karena rahmat dan karunia dari Allah SWT.
Sumber: Kajian berjudul “Noda Itu Bernama Sombong dan Ujub” yang disampaikan oleh Ustadz Budi Santoso, Lc., M.Pd. di Masjid Al-Hilal Surabaya pada Rabu 1 Juli 2026