KabarMajid.id, Malang – Pada hari Sabtu 6 Desember 2025 pagi, dalam suasana khidmat seusai salat Subuh, jamaah Masjid Agung Jami Malang menerima siraman rohani dari Habib Hadi bin Alwy Alkaff dalam kajian rutin beliau. Pertemuan ini mengupas tuntas dua bahasan krusial dalam etika Muslim: tanggung jawab atas anggota tubuh sebagai amanah, serta penyakit-penyakit hati yang paling membinasakan. Kesempatan ini menjadi pengingat bagi setiap individu untuk mengaudit penggunaan fisik dan spiritual mereka, memastikan semuanya selaras dengan rida Ilahi.
Dalam kajiannya, Habib Hadi menekankan bahwa tujuh anggota tubuh—termasuk mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, tangan, dan kaki—adalah nikmat terbesar sekaligus amanat dari Allah SWT. Anggota tubuh ini diciptakan bukan sekadar untuk fungsi duniawi, melainkan sebagai alat bantu untuk berusaha mencapai ketaatan. Menggunakannya sesuai tujuan penciptaan adalah bentuk syukur; menyalahgunakannya adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat.
Secara spesifik, kedua tangan merupakan simbol kekuatan untuk memberi dan berkarya. Tangan dianjurkan untuk dibentangkan guna bersedekah, membantu kebutuhan sesama Muslim, dan menuliskan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Bahkan, mencari nafkah yang halal harus diniatkan sebagai upaya menolong urusan agama.
Sebaliknya, seorang Muslim wajib menjaga tangannya dari segala tindakan zalim. Ini termasuk memukul atau mengganggu orang Muslim, serta mengambil harta milik orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan, seperti khianat atau melalui transaksi-transaksi yang fasid (rusak/tidak benar). Tangan harus menjadi sumber manfaat, bukan bahaya.
Demikian pula dengan kedua kaki, yang menjadi sarana langkah menuju kebaikan. Kaki sebaiknya digunakan untuk berjalan menuju tempat-tempat saleh, seperti masjid untuk salat berjemaah, majelis ilmu, serta melakukan amal kebajikan seperti menziarahi orang sakit dan mengantar jenazah hingga ke pemakaman.
Jemaah diingatkan agar berhati-hati melangkahkan kaki ke tempat-tempat haram dan maksiat, atau menuju tempat penguasa zalim. Langkah kaki pun tidak boleh digunakan untuk membantu kebatilan, apalagi hanya sekadar berjalan menuju tempat-tempat main-main yang tidak mengandung kebaikan atau manfaat sama sekali.
Setelah membahas anggota fisik, kajian beralih ke ranah spiritual. Habib Hadi menegaskan bahwa hati (Al-Qalb) adalah anggota tubuh yang terpenting, ia adalah “Rajanya” yang menguasai seluruh anggota tubuh lainnya. Hati adalah sumber utama akidah, akhlak, niat baik, dan niat tercela, sehingga kebahagiaan dunia akhirat bergantung pada penyuciannya.
Di antara penyakit hati yang paling membinasakan (muhlikat), keraguan (Syak) menempati posisi pertama. Ini adalah keraguan mendasar terhadap Allah, Rasulullah, atau hari akhirat. Syak dianggap sebagai penyakit yang sangat berbahaya karena dapat menyerang seseorang menjelang ajal, berpotensi menyebabkan suul khatimah (akhir kehidupan yang buruk).
Untuk mengobati keraguan ini, wajib bagi seorang Muslim mencari petunjuk dan menghilangkan sifat syak dengan segala cara. Penyembuhan terbaik adalah bertanya kepada para Ulama Billah Ta’ala—yakni ulama yang kokoh keyakinannya (Ahlul Yaqin), memiliki rasa takut pada Allah (khashyah), dan zuhud terhadap dunia. Jika tidak berjumpa, merujuk pada kitab-kitab karangan mereka adalah solusi.
Penyakit kedua yang diangkat adalah kesombongan (Al-Kibr). Ini merupakan sifat buruk yang identik dengan Iblis, di mana Allah SWT menyatakan tidak mencintai orang-orang yang sombong. Kesombongan dapat menutup atau menyegel hati seseorang dan memalingkannya dari tanda-tanda kebenaran Allah.
Habib Hadi menyampaikan peringatan keras dari hadis Nabi: tidak akan masuk surga orang yang masih memiliki kesombongan meskipun sebesar biji sawi. Hal ini ditafsirkan sebagai tidak bisa masuk bersama rombongan pertama, menegaskan bahwa hati yang sombong pasti akan tertahan dan merugi di akhirat.
Oleh karena itu, tujuan utama setiap Muslim adalah datang menghadap Allah dengan Qolbin Salim (hati yang bersih dan selamat). Di Hari Kiamat, harta, anak, dan kedudukan tidak akan berguna, kecuali bagi mereka yang datang dengan hati yang bersih dari sifat-sifat tercela dan tidak pernah menyakiti orang mukmin.
Sebagai penutup, Habib Hadi menasihati agar umat Islam membersihkan hati dari kedengkian (hasad) dan senantiasa berpegang pada ajaran Al-Qur’an: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.” Jika ada yang menyakiti atau berbuat buruk, balaslah dengan kebaikan. Dengan ihsan (perbuatan baik) ini, suatu saat nanti, orang yang awalnya memusuhi akan berubah menjadi sahabat yang akrab, memperkuat tali persaudaraan sesama Muslim.
Sumber: Kajian Rutin Ba’da Subuh Hari Sabtu Bersama Habib Hadi bin Alwy Alkaff di Masjid Jami’ Malang