KabarMasjid.id, Surabaya – Di era digital yang serba cepat ini, menjaga fokus dalam beribadah sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim. Gangguan informasi yang datang bertubi-tubi terkadang membuat raga berada di atas sajadah, namun pikiran melayang entah ke mana. Menanggapi fenomena ini, Masjid Al Falah Surabaya menyelenggarakan kajian mendalam yang mengupas tuntas mengapa kekhusyukan kini terasa semakin mahal dan bagaimana cara menjemputnya kembali.
Kajian ba’da Maghrib ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di ruang utama Masjid Al Falah Surabaya dengan menghadirkan Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB. Beliau mengangkat tema yang sangat relevan dengan realitas sosial saat ini, yaitu “Sholat Khusyuk Semakin Tidak Mudah”. Kajian ini menarik perhatian banyak jamaah yang merasakan kegelisahan serupa dalam kualitas ibadah harian mereka.
Dalam pemaparannya, Ustadz Taufiq menjelaskan bahwa tantangan utama kekhusyukan saat ini adalah keterbukaan dunia yang luar biasa. Materialisme, hedonisme, hingga berita kemaksiatan dan korupsi terpampang nyata setiap detik melalui gawai di tangan kita. Semua informasi yang masuk ke dalam otak ini secara tidak langsung mengotori hati dan pikiran, sehingga saat waktu sholat tiba, residu duniawi tersebut masih tertinggal dan mengganggu konsentrasi.
Beliau juga menyoroti fenomena masyarakat modern yang terjebak dalam pola hidup workaholic atau kecanduan kerja yang berlebihan. Banyak orang yang pikirannya didominasi oleh ambisi pangkat, harta, dan urusan politik dari pagi hingga malam. Akibatnya, sholat sering kali hanya dianggap sebagai penggugur kewajiban yang dilakukan di sisa-sisa waktu sempit, tanpa ada persiapan batin yang memadai untuk menghadap Sang Pencipta.
Salah satu kunci yang ditekankan dalam kajian ini adalah pentingnya zikir sebagai jembatan menuju khusyuk. Ustadz Taufiq mengingatkan bahwa zikir adalah satu-satunya ibadah dalam Al-Qur’an yang diperintahkan tanpa batas waktu. Jika seseorang senantiasa menghidupkan hatinya dengan mengingat Allah di luar waktu sholat, maka saat ia masuk ke dalam sholat, transisi menuju ketenangan batin akan menjadi jauh lebih mudah dan alami.
Lebih lanjut, narasumber menjelaskan bahwa proses kekhusyukan sebenarnya dimulai jauh sebelum takbiratul ihram, yakni sejak mendengar suara adzan. Menyahut adzan dengan penuh penghayatan dan membaca doa setelahnya bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembersihan dosa. Beliau menegaskan bahwa mereka yang menghargai panggilan adzan akan mendapatkan kemudahan dalam merasakan kehadiran Allah di dalam sholatnya.
Persiapan fisik melalui wudhu juga memegang peranan vital yang sering disepelekan. Wudhu harus dimaknai sebagai ibadah mandiri yang mampu merontokkan dosa-dosa dari anggota tubuh. Ketika seseorang membasuh wajah dan tangannya dengan kesadaran penuh akan kesalahan yang telah dilakukan, ia akan menghadap Allah dalam keadaan yang lebih suci dan siap secara mental untuk berkomunikasi dengan Rabb-nya.
Ustadz Taufiq kemudian mengutip Surah Al-Mu’minun untuk menegaskan definisi sukses yang hakiki. Dalam pandangan Allah, orang yang sukses bukanlah mereka yang memiliki gelar panjang atau bisnis yang hebat, melainkan orang beriman yang mampu meraih khusyuk dalam sholatnya. Tanpa adanya kekhusyukan, seorang mukmin belum bisa dikatakan mencapai puncak keberuntungan atau kemenangan yang dijanjikan oleh agama.
Selain faktor hati, aspek ilmu atau makrifatullah (mengenal Allah) menjadi syarat mutlak lainnya. Seseorang tidak mungkin bisa khusyuk jika ia tidak mengenal siapa yang sedang ia hadapi. Dengan mempelajari sifat-sifat Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa, akan muncul rasa takzim (mengagungkan) dan khauf (takut) yang membuat seorang hamba merasa kecil dan tertunduk malu saat bersujud di hadapan-Nya.
Beliau juga memberikan teguran terkait adab dalam ibadah berjamaah, khususnya sholat Jumat. Banyak jamaah yang masih kurang berilmu sehingga menganggap remeh khutbah dengan tetap berbicara atau bermain gawai. Ustadz mengingatkan bahwa berbicara saat khatib berkhutbah dapat membatalkan pahala sholat Jumat secara keseluruhan, sehingga ibadah tersebut hanya menjadi ritual fisik tanpa makna di sisi Allah.
Rasa syukur juga menjadi elemen penting yang dibahas dalam kajian ini. Beliau mengajak jamaah untuk merenungkan nikmat-nikmat kecil yang sering terlupakan, seperti fungsi air liur yang memungkinkan kita makan atau ketersediaan oksigen untuk bernapas. Dengan menyadari betapa banyaknya ketergantungan kita kepada Allah, seharusnya tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk tidak sujud dengan penuh rasa cinta dan terima kasih.
Sebagai penutup, Ustadz Taufiq berpesan agar setiap Muslim terus berjuang memperbaiki kualitas sholatnya setiap hari karena sholat adalah amal pertama yang akan dihisab di akhirat kelak. Kita perlu terus berdoa meminta pertolongan Allah agar dibimbing menjadi hamba yang pandai berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Kajian ini diakhiri dengan harapan agar jamaah Masjid Al Falah dapat menjadi pribadi yang lebih tenang dan khusyuk di tengah hiruk-pikuk dunia.
Sumber: Kajian ba’da Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB. dengan tema “Sholat Khusyuk Semakin Tidak Mudah”.