Kabarmasjid.id, Surabaaya –Menjaga konsistensi dalam beribadah merupakan tantangan besar bagi setiap Muslim di era modern. Untuk mengurai fenomena ini, Masjid Nur Syamsiah menggelar Pengajian Rutin pada Sabtu, 4 Juli 2026, yang menghadirkan Habib Mustafa Umar Alaydrus sebagai narasumber utama. Dalam ceramah yang berlangsung khidmat sejak petang hari tersebut, beliau mengupas tuntas esensi syariat Islam serta mengenalkan konsep kezaliman terselubung yang kerap tidak disadari oleh para pencari pahala.
Sebagai pengantar, Habib Mustafa mengingatkan kembali kepada para jemaah mengenai kesempurnaan agama Islam. Syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah aturan hidup yang paling komplit dan sistematis dibandingkan dengan ajaran apa pun sejak zaman Nabi Adam AS. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual di dalam masjid seperti salat dan puasa, melainkan membimbing setiap jembatan aktivitas manusia dari mulai membuka mata di pagi hari hingga memejamkannya kembali untuk tidur.
Keistimewaan syariat ini bahkan telah banyak dibuktikan oleh dunia medis modern. Berbagai sunah harian yang diajarkan Rasulullah SAW, seperti tata cara bersiwak, adab masuk kamar mandi, hingga posisi tidur yang miring ke sisi kanan, terbukti secara ilmiah sangat selaras dengan konsep menjaga kesehatan tubuh. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Islam merupakan agama samawi yang bersumber langsung dari pencipta alam semesta, bukan sekadar produk pemikiran manusia.
Lebih lanjut, Habib Mustafa menjelaskan bahwa para ulama terdahulu telah membukukan hadis-hadis mengenai rutinitas harian Nabi ke dalam kitab-kitab khusus yang dikenal sebagai Amalul Yaum wal Lailah. Salah satu kitab yang paling masyhur di antaranya adalah Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Menjaga dan mengamalkan wirid serta tuntunan harian ini dengan istikamah dipercaya sebagai salah satu jalan pintas dan metode paling efektif untuk menaikkan derajat spiritual seorang hamba di sisi Allah.
Masuk pada inti kajian, beliau membedah makna kezaliman secara mendalam berdasarkan perspektif bahasa dan syariat. Secara umum, zalim diartikan sebagai tindakan meletakkan segala sesuatu bukan pada tempat atau porsi yang semestinya. Menariknya, Habib Mustafa menggarisbawahi bahwa kezaliman ini tidak hanya terjadi pada perbuatan jahat atau kriminal, melainkan bisa menyusup ke dalam lingkaran perbuatan baik yang sedang diusahakan oleh seseorang.
Kezaliman di dalam kebaikan ini terjadi ketika seorang Muslim mendahulukan suatu perkara yang bernilai baik, namun di saat bersamaan ia justru mengabaikan atau mengorbankan perkara lain yang jauh lebih utama dan penting. Fenomena ini sering kali menjadi strategi terselubung dari setan untuk mengecoh fokus manusia. Akibatnya, seseorang merasa telah melakukan banyak kebajikan, padahal ia sedang menaruh porsi amalan pada tempat yang keliru.
Beliau memberikan contoh nyata yang sering dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Banyak orang yang sangat royal dan gemar membagikan sedekah kepada orang lain di luar rumah demi mengejar pujian atau kepuasan sosial, tetapi pada saat yang sama membiarkan keluarganya sendiri hidup dalam kesulitan. Padahal, secara urutan syariat, membantu dan menafkahi keluarga terdekat yang membutuhkan memiliki nilai kewajiban dan pahala yang jauh lebih tinggi.
Contoh kezaliman terselubung lainnya adalah ketika seseorang begitu menggebu-gebu menghadiri majelis taklim atau bersalawat hingga larut malam, namun berujung meninggalkan salat Subuh karena kesiangan. Begitu pula dengan fenomena jemaah yang rela saling sikut demi mencium tangan ulama atau habib yang datang, sementara di rumah mereka tidak pernah mencium tangan, menghormati, atau berbakti kepada orang tua kandung mereka sendiri yang masih hidup.
Selain kezaliman dalam melompati skala prioritas kebaikan, Habib Mustafa juga mengingatkan bahaya Zulmun Nafsi atau menzalimi diri sendiri. Setiap kali seorang manusia melanggar batasan-batasan hukum Allah dan menceburkan diri ke dalam kemaksiatan, dia sebenarnya tidak sedang merugikan Allah, melainkan sedang merusak dirinya sendiri. Tindakan maksiat tersebut sejatinya adalah proses membakar dan menjerumuskan jiwa sendiri ke dalam kesengsaraan akhirat.
Dalam sesi tanya jawab yang interaktif, jemaah juga berkonsultasi mengenai cara menjinakkan nafsu yang liar. Habib Mustafa menjelaskan bahwa Allah telah memberikan benteng berupa syariat sebagai pengendali nafsu tersebut. Secara praktis, kekuatan nafsu yang mendorong pada keburukan dapat dilemahkan dengan cara yang diajarkan nabi, yaitu melatih diri melalui ibadah puasa serta senantiasa menjaga dan mengontrol pola makan sehari-hari agar tidak berlebihan.
Kajian fikih kontemporer pun turut dibahas saat jemaah menanyakan hukum wanita haid yang mengajar Al-Qur’an di area masjid. Beliau menegaskan pandangan mayoritas ulama yang melarang orang berhadas besar untuk berdiam di masjid karena adanya kotoran maknawi (abstrak). Sebagai solusi terbaik tanpa menabrak aturan fikih yang kuat, Habib Mustafa menyarankan agar kegiatan belajar-mengajar bagi lansia tersebut dipindahkan ke ruang madrasah atau mushala yang tidak berstatus masjid.

Sebagai penutup, pengajian rutin ini diakhiri dengan pesan refleksi mengenai mundurnya kejayaan peradaban Islam di era modern akibat umat yang mulai terbuai oleh gemerlap duniawi. Habib Mustafa mengajak seluruh jemaah untuk mulai membenahi diri sendiri, memperbaiki skala prioritas ibadah, dan memperkuat benteng iman dari level keluarga.
Sumber: Pengajian Rutin Masjid Nur Syamsiah bersama Habib Mustafa Umar Alaydrus yang diselenggarakan pada Sabtu, 4 Juli 2026