Kabarmasjid.id, Surabaya – Berikut adalah penyesuaian tulisan media online sebanyak 12 paragraf dengan memasukkan nama narasumber Ustaz H. Ahmad Muzakky, S.Th.I., Al-Hafiz di paragraf pertama, lengkap dengan kalimat pembuka yang mengalir:
Menjinakkan Syahwat dengan Samudra Kesabaran: Refleksi Maqalah Ke-16 Kitab Nashaihul Ibad
Kehidupan modern yang serba cepat sering kali menjebak manusia dalam pusaran keinginan tanpa batas yang menuntut pemenuhan instan. Di tengah gempuran materi dan glorifikasi kesenangan duniawi, hati manusia kerap kehilangan kompas spiritualnya hingga terjatuh ke dalam lubang kehinaan. Untuk meredam gejolak batin tersebut, bimbingan rohani yang bersumber dari khazanah keilmuan ulama salaf senantiasa hadir sebagai oase penyejuk yang menuntun jiwa kembali pada hakikat penciptaan.
Kajian menyejukkan ini berlangsung pada hari Sabtu pagi, 23 Mei 2026, bertempat di ruang utama Masjid Nurul Iman, Komplek Margorejo Indah, Kota Surabaya, dengan menghadirkan narasumber utama Ustadz H. Ahmad Muzakky, S.Th.I., Al-Hafidz yang mengupas tuntas lembar demi lembar Kitab Nashaihul Ibad. Dalam kesempatan yang penuh berkah tersebut, beliau membedah pelajaran penting yang termaktub dalam wal maqolatus sadisata asyaro atau maqalah yang ke-16. Kajian subuh ini menggarisbawahi realitas fundamental mengenai syahwat dan kesabaran, dua kekuatan besar yang saling bertolak belakang namun senantiasa bertempur di dalam dada setiap bani Adam.
Memasuki inti bahasan kitab, Ustadz Muzakki mengutip kalimat hikmah utama dari maqalah tersebut bahwa sesungguhnya syahwat memiliki daya rusak yang luar biasa karena mampu mengubah seorang raja menjadi seorang hamba sahaya. Ungkapan metaforis ini menjelaskan bahwa setinggi apa pun jabatan, kekuasaan, atau status sosial yang dimiliki seseorang di dunia, ia akan seketika kehilangan martabatnya jika telah takluk oleh keinginan nafsunya sendiri. Syahwat digambarkan sebagai rantai tak terlihat yang mengikat kebebasan berpikir dan kesucian hati manusia, menjadikannya tunduk tak berdaya pada ego jangka pendek yang destruktif.
Lebih lanjut, alumnus studi teologi Islam ini menguraikan aspek psikologis dari cinta buta terhadap materi atau makhluk dengan menegaskan bahwa barang siapa yang mencintai sesuatu secara berlebihan, maka secara tidak sadar ia telah menghambakan diri kepada sesuatu tersebut. Ketika hati telah terpikat secara mutlak oleh dunia—baik itu berupa takhta, harta, maupun wanita—maka seluruh pikiran dan tindakan manusia hanya akan diorientasikan demi memuaskan objek cintanya. Ketergantungan emosional dan spiritual yang salah arah inilah yang dalam perspektif tasawuf dinilai sebagai bentuk perbudakan modern yang paling nyata dan menyengsarakan jiwa.
Dalam memetakan anatomi makhluk, Ustadz Muzakki memberikan ilustrasi komparatif yang menarik dengan menjelaskan bahwa satu-satunya makhluk Allah yang sama sekali tidak dibekali syahwat adalah malaikat. Karena ketiadaan nafsu inilah, para malaikat tidak membutuhkan pemenuhan biologis seperti menikah, tidak memerlukan alat komunikasi modern, dan tidak memiliki ketertarikan pada inovasi duniawi. Sebaliknya, manusia diciptakan sebagai makhluk paradoksal yang dibekali akal sekaligus syahwat, di mana potensi syahwat inilah yang jika dikendalikan dengan baik dapat melahirkan berbagai inovasi positif demi kemaslahatan hidup di bumi.
Penceramah kemudian memberikan perspektif yang berimbang mengenai eksistensi syahwat dengan menyebutkan bahwa nafsu keinginan tidak melulu berkonotasi negatif apabila ditempatkan di bawah kendali akal yang sehat. Berbagai penemuan teknologi mutakhir seperti telepon pintar yang mampu menampilkan wajah lawan bicara hingga transformasi kendaraan listrik merupakan produk dari syahwat manusia yang dikelola secara kreatif. Melalui ilustrasi tentang fenomena anak muda yang kerap meminta kendaraan model terbaru, sang narasumber menunjukkan bahwa syahwat terhadap kebaruan akan menjadi berkah inovatif jika mampu dikekang dan tidak sampai menguasai kendali diri.
Sebagai penawar dari daya rusak nafsu, maqalah ke-16 ini memperkenalkan konsep kesabaran yang memiliki mukjizat spiritual untuk mengubah seorang hamba sahaya menjadi sosok mulia yang setara dengan seorang raja. Pasangan sejati dari syahwat di dalam diri manusia tidak lain adalah kesabaran, sebuah energi rohani yang dianugerahkan Allah sebagai benteng pertahanan utama. Manusia yang mampu mengoptimalkan fungsi kesabarannya dipastikan akan meraih kemenangan akhir dalam sejarah hidupnya, meskipun pada awal perjuangannya ia harus merasakan kepahitan akibat mengekang keinginan egoisnya.
Sabar digambarkan oleh Ustadz Muzakki laksana meminum jamu yang terasa sangat pahit di lidah saat pertama kali diteguk, namun pada akhirnya memberikan khasiat kesehatan dan kenikmatan yang mendalam bagi jiwa yang bertahan. Untuk memperkuat argumentasi kitab, beliau mengajak jemaah menengok lembaran sejarah suci melalui kisah Nabi Yusuf alaihis-salam, sesosok manusia agung yang digelari sebagai pemuka yang mulia, putra dari ayah yang mulia, dan cucu dari kakek yang mulia. Silsilah emas yang mempertemukan para nabi ini menjadi bukti bagaimana kemuliaan karakter diwariskan melalui keteguhan iman yang kokoh.
Secara dramatis, penceramah yang juga seorang hafiz ini mengupas dinamika ujian syahwat yang mempertemukan keluhuran budi Nabi Yusuf dengan gejolak nafsu Zulaikha, istri seorang perdana menteri Mesir. Ketika Zulaikha yang terbius oleh syahwat mencoba menggoda Nabi Yusuf di dalam kamar, sang nabi memilih untuk berlari menjauh demi menjaga komitmen ketakwaannya hingga menyebabkan bagian belakang bajunya robek. Melalui hukum pembuktian kain yang robek di bagian belakang, terbuktilah kesucian Nabi Yusuf, sementara Zulaikha harus menanggung kehinaan akibat memperturuti nafsunya; sebuah perlambang abadi bahwa syahwat membawa kerendahan dan sabar membawa kemuliaan.
Dalam ruang diskusi yang makin mendalam, beliau membedah perbedaan mendasar antara ketampanan fisik yang dimiliki oleh Nabi Yusuf dengan ketampanan paripurna milik Baginda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ketampanan Nabi Yusuf digambarkan membawa ujian (fitnah) yang memicu gejolak sosial hingga membuat jemari para wanita Mesir teriris pisau tanpa sadar saat memandang wajahnya. Sementara itu, ketampanan batin dan lahiriah Nabi Muhammad SAW adalah sebuah rahmah yang membawa ketenteraman, bahkan mampu memancarkan aura kemuliaan bagi para sahabat di sekitarnya.
Guna memberikan kontekstualisasi praktis bagi jemaah, Ustadz Muzakki membagi kesabaran menjadi dua dimensi utama, yakni sabar dalam menjalankan perintah serta menjauhi larangan Allah, dan sabar dalam menerima guratan takdir kehidupan. Beliau kemudian mengenang kisah sejarah pada tanggal 20 Februari 2020 silam, saat otoritas Arab Saudi membatalkan penerbangan umrah secara mendadak akibat merebaknya pagebluk Covid-19 tepat ketika rombongan jemaah telah memegang tiket boarding di bandara. Peristiwa tersebut menjadi ujian sabar yang nyata di mana sebagian orang yang emosional meluapkan amarahnya, sementara mereka yang memilih bersabar mendapatkan ganti keberangkatan yang jauh lebih berkah dua tahun kemudian.

Pada bagian akhir ceramahnya, Ustadz Muzakki mengingatkan seluruh jemaah Masjid Nurul Iman bahwa momentum kajian ini bertepatan dengan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, sebuah waktu yang sangat sakral dan setara dengan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Jemaah diimbau untuk mengencangkan ikat pinggang spiritual dengan memperbanyak untaian takbir, tahlil, tahmid, tasbih, serta menyempurnakan ibadah kurban sebagai bentuk nyata penyembelihan ego dan syahwat hewani. Kajian subuh ini ditutup dengan doa agar ibadah puasa Arafah yang dilaksanakan jemaah mampu menjadi wasilah penggugur dosa sekaligus pembuka pintu keberkahan hidup.
Sumber: Kajian Kitab Nashaihul Ibad bersama Ustadz H. Ahmad Muzakky, S.Th.I., Al-Hafidz di Masjid Nurul Iman, Komplek Margorejo Indah, Surabaya pada Sabtu 23 Mei 2026